GOPOS.ID, GORONTALO – “Banting Setir” itulah istilah yang disampaikan oleh Kadis PMPTSP Sri wahyuni disela-sela penyelenggaraan Fasilitasi Kemitraan Penanaman Modal antara Perusahaan Besar dengan UMKM di Provinsi Gorontalo Tahun 2026 yang dilaksanakan di UTC Damhil, Kota Gorontalo, beberapa waktu lalu
Ditengah tengah efisiensi anggaran, intervensi DPMPTSP terhadap pencapaian realisasi investasi di Provinsi Gorontalo tidak lagi semata-mata ditujukan hanya pada perusahaan-perusahaan besar, tetapi mulai menyasar UMKM yang ada agar bisa berkembang, bisa meningkatkan kapasitas produksi, berdaya saing kemudian mampu memperkuat investasi dan perekonomian daerah. Apalagi jika di lihat 3 tahun belakangan ini trend realisasi investasi gorontalo mengalami penurunan sejak tahun 2023 yakni 5,52 Triliun, 5,38 Triliun, 5,27 Triliun dan di triwulan II tahun 2026 baru mencapai 1,8 Triliun, sementara disatu sisi target realisasi investasi Gorontalo yang ditetapkan oleh Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM tahun 2026 adalah sebesar 5,8 Triliun
Dalam arahannya, Gubernur Gorontalo, Dr. Ir. H. Gusnar Ismail, M.M., menegaskan bahwa investasi yang masuk ke daerah tidak boleh hanya diukur dari besarnya angka realisasi, tetapi juga dari dampak nyata yang diberikan kepada masyarakat.
Kita tidak ingin investasi hanya berhenti pada angka-angka realisasi. Investasi harus menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat Gorontalo, membuka lapangan kerja, memperkuat UMKM, dan menciptakan nilai tambah bagi daerah. Saya ingin kemitraan ini bukan hanya tanda tangan di atas kertas. Setelah hari ini harus ada tindak lanjut, ada kerja sama yang nyata, ada UMKM yang naik kelas, dan ada investasi yang memberikan dampak bagi ekonomi Gorontalo.
Sejalan dengan arahan tersebut, Kepala DPMPTSP Provinsi Gorontalo, Sri Wahyuni Daeng Matona, S.STP., M.Si. menegaskan bahwa kemitraan harus menjadi instrumen dalam menciptakan ekosistem investasi yang saling menguatkan.

Menurutnya, kemitraan bukan sekadar mempertemukan usaha besar dengan UMKM, melainkan membangun ekosistem usaha yang mampu membuka akses, menciptakan peluang, serta meningkatkan kapasitas pelaku UMKM di daerah.
Dalam kegiatan tersebut mengundang 87 pelaku usaha serta serta institusi pengampu, dan ada 15 UMKM yang menandatangani kerjasama dengan pelaku usaha besar terutama dalam penyediaan rantai pasok bahan baku dan beberapa komoditas hilirisasi lainnya. Dengan kegiatan ini diharapkan mampu mendorong perusahaan besar dan UMKM lainnya untuk menjalin kemitraan dalam mendukung investasi daerah. (Putra/Gopos)







