Video berdurasi 1 menit yang menyeret nama Wahyu Moridu menghebohkan jagat maya baru-baru ini. Kehebohan itu dipicu oleh ungkapan Wahyu dalam video yang direkam oleh salah seorang perempuan yang diduga sebagai pacar gelapnya.
Wahyu yang saat itu hendak menuju Makassar, dalam video itu secara gamblang mengatakan melakukan perjalanan bersama pacar gelapnya itu menggunakan uang negara. Tidak hanya itu, Wahyu juga mengatakan bahwa dirinya akan merampok uang negara bahkan akan memiskinkan negara dengan aksi perampokan yang akan dilakukannya itu.
Ungkapan ini dalam waktu singkat berhasil memicu kemarahan publik. Videonya viral ke mana-mana, menjangkau jutaan penonton dan meraup jutaan komentar yang bernada hujatan.
Apa yang dilakukan Wahyu sudah melewati batas toleransi publik. Sehingga kemarahan publik masih tidak bisa diredam sekalipun Wahyu telah memberikan klarifikasi dalam akun media sosial pribadinya.
Wahyu sudah cukup menerima banyak hujatan, olehnya tulisan ini tidak diarahkan untuk menghujatnya. Saya hanya ingin berkontribusi pada perbaikan karir politik Wahyu pasca kejadian viral yang menimpanya. Setidaknya, ada beberapa catatan yang harus dilakukan Wahyu setelah ini.
Belajar Diam
Anggota Legislatif pada dasarnya mengandalkan suaranya untuk memperjuangkan aspirasi rakyat di dalam parlemen. Tapi khusus untuk Wahyu dan anggota DPR yang memiliki kebiasaan yang sama, diam adalah senjata paling ampuh untuk menyembunyikan kebusukan itu.
Wahyu bisa belajar dari kejadian ini. Publik tidak akan marah dengan dugaan perselingkuhan dan niat perampokan yang akan dilakukannya selama dia mampu menjaga mulutnya untuk tetap diam.
Tidak hanya itu, diam juga bisa menyelamatkan banyak orang di dalam lingkarannya Wahyu. Kita semua tahu bahwa korupsi tidak pernah dilakukan sendirian, dia selalu dilakukan bersama oleh dua orang atau lebih. Bayangkan kalau niat perampokan dan pemiskinan negara itu etul dilakukan, berapa banyak orang yang akan terlibat? Dengan diam, Wahyu bisa menyelamatkan orang-orang lain yang akan terlibat dalam misi pemiskinan negara itu.
Meminimalisir Dokumentasi
Ini juga hal penting yang harus disadari Wahyu dan orang-orang yang sejenis dengan dia. Sebagai jurnalis dan dosen Ilmu Komunikasi, saya memahami bahwa eksis itu menjadi kebutuhan manusia modern apalagi pejabat publik seperti Wahyu.
Abraham Masslow bahkan menempatkan penghargaan sebagai salau satu kebutuhan dasar yang harus didapat oleh manusia. Sehingga, adalah hal yang sangat wajar jika sebagai anggota DPRD Wahyu ingin dihargai melalui dokumentasi yang dia lakukan.
Tapi, Wahyu harus ingat bahwa publik hanya mengapresiasi kerja-kerja anggota DPRD bukan cara DPRD menghabiskan uang negara. Sekalipun bukan hasil merampok uang negara, Wahyu harus tau cara menghabiskan gaji yang halal tanpa harus didokumentasikan.
Wahyu patut belajar dari kejadian yang menimpa Eko Patrio dan Uya Kuya. Rumah dan harta benda yang didapat dari hasil kerja keras sebelum jadi politisi diobrak-abrik massa hanya karena tindakan keduanya yang tertangkap kamera sedang joget di parlemen.
Hindari Miras
Sebagai orang Islam, Wahyu tentu diajarkan bahwa minuman keras (Miras) itu haram untuk dikonsumsi. Tapi bukan untuk alasan agama saya mengimbau Wahyu untuk menghindari miras. Ini saya imbau murni untuk menjaga Wahyu dan orang-orag sejenis dia agar tidak dimanfaatkan orang lain dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Dalam keadaan mabuk, niatan buruk sebagaimana yang diungkapkan Wahyu dalam video viral itu rentan dimanfaatkan untuk tujuan yang kemungkinan akan merugikan dia sendiri. Wahyu sudah membuktikan itu lewat videonya ke Makassar kemarin.
Ketiga hal ini merupakan langkah kecil yang bisa dilakukan Wahyu dan orang-orang sejenis dia untuk tidak jadi korban viralitas media sosial. Semoga tulisan kecil ini bisa membantu menyelamtkan karir politik Wahyu pasca kejadian yang menghebohkan ini.*
Penulis: Muhammad Arif Hidayatullah Bina, Ketua DPD IMM Gorontalo








