Oleh: Zulkifli Akhmad
Selama puluhan tahun, standar keberhasilan seseorang belajar bahasa Inggris di Indonesia diukur dari satu indikator yang sempit: seberapa mirip logat dan tata bahasanya dengan penutur asli dari Amerika Serikat atau Inggris Raya. Siswa yang fasih tetapi masih terbawa aksen lokal atau membuat kesalahan kecil ala pembelajar sering kali dianggap “kurang lancar”, bahkan “salah”. Sementara mereka yang hafal idiom-idiom New York atau tata bahasa Queen’s English dipuji sebagai pelajar teladan. Fenomena ini menunjukkan bahwa pembelajaran bahasa Inggris di negeri kita masih terperangkap dalam paradigma native-like—seolah-olah satu-satunya bahasa Inggris yang benar adalah yang keluar dari mulut orang Amerika atau Inggris.
Paradigma ini tidak hanya usang, tetapi juga merugikan. Di era globalisasi, bahasa Inggris telah berevolusi. Ia tidak lagi milik eksklusif Amerika, Inggris, Australia, atau Kanada. Bahasa Inggris kini adalah lingua franca global—alat komunikasi yang menghubungkan seorang pilot dari Jepang dengan petugas bandara di Jerman, seorang pengusaha Brasil dengan kliennya di Cina, atau seorang mahasiswa Indonesia dengan profesor dari Mesir. Dalam konteks inilah, tuntutan “berbicara seperti orang Amerika” seharusnya tidak lagi menjadi patokan utama. Yang lebih penting adalah kemampuan berkomunikasi lintas budaya secara efektif, bahkan ketika bahasa Inggris yang digunakan jauh dari sempurna.
Sayangnya, sistem pendidikan kita masih gagap menyadari perubahan ini. Mulai dari kurikulum, materi ajar, hingga metode penilaian di sekolah dan kursus bahasa, semuanya masih didominasi oleh standar native speaker. Artikel ini hendak mengajak kita melepaskan belenggu tersebut dan beralih ke pengajaran bahasa Inggris yang inklusif: yang menekankan komunikasi lintas budaya, bukan tiruan penutur asli.
Ketika Native-Like Menjadi Tirani
Pertama-tama, mari kita akui bahwa paradigma native-like menciptakan tirani psikologis. Ribuan pelajar di Indonesia merasa frustrasi karena mereka tidak bisa melafalkan ‘th’ seperti orang Inggris atau tidak bisa memahami film Hollywood tanpa subtitle. Mereka dihantui oleh rasa takut membuat kesalahan tata bahasa, sehingga lebih memilih diam daripada berbicara. Padahal, dalam komunikasi global menggunakan English as a Lingua Franca (ELF), penelitian menunjukkan bahwa intelligibility (kemampuan dipahami) jauh lebih penting daripada akurasi tata bahasa ala penutur asli.
Seorang penutur asli mungkin akan mengucapkan: “I would like to have a cup of coffee, please.” Sementara seorang penutur dari Swedia atau Thailand mungkin mengucapkan: “I want coffee, please.” Dalam konteks ELF, kalimat kedua tidak lebih salah daripada kalimat pertama. Yang terpenting adalah pesan tersampaikan. Namun, di kelas bahasa Inggris kita, guru seringkali terlalu sibuk mengoreksi ‘would like’ versus ‘want’, melupakan bahwa dalam dunia nyata, komunikasi adalah soal makna, bukan kemiripan dengan aksen Boston atau London.
Lebih parah lagi, obsesi pada native-like memperkuat hegemoni budaya Barat. Ketika siswa hanya diajarkan tentang Thanksgiving, musim dingin salju, atau kebiasaan minum teh sore ala Inggris, mereka secara tidak sadar diarahkan untuk menghargai budaya Barat sebagai pusat peradaban. Sementara itu, budaya lokal—cara orang Indonesia, India, atau Afrika berkomunikasi dalam bahasa Inggris—diabaikan atau dianggap inferior. Ini adalah bentuk kolonialisme baru dalam dunia pendidikan yang menghilangkan rasa percaya diri siswa untuk menggunakan bahasa Inggris dengan identitas mereka sendiri.
Bahasa Inggris Global: Kenyataan yang Diabaikan
Fakta bahwa pengguna bahasa Inggris non-penutur asli (non-native speakers) kini jauh melampaui jumlah penutur asli sudah tidak bisa dipungkiri. Menurut David Crystal, ahli linguistik terkemuka, untuk setiap satu penutur asli bahasa Inggris, ada tiga penutur non-asli. Mayoritas percakapan di dunia dalam bahasa Inggris terjadi antara non-penutur asli dengan non-penutur asli lainnya. Seorang pilot Korea dan petugas kontrol lalu lintas udara Spanyol berbicara dalam bahasa Inggris; seorang ilmuwan Indonesia dan koleganya dari Belanda menulis jurnal dalam bahasa Inggris; seorang delegasi PBB dari Senegal dan diplomat dari India berdebat dalam bahasa Inggris. Tidak satu pun dari mereka yang terlahir sebagai penutur asli, namun komunikasi berlangsung efektif.
Dalam realitas ini, apa gunanya memaksa setiap siswa kita berbicara seperti Matthew McConaughey atau seperti Ratu Elizabeth II? Yang dibutuhkan justru adalah strategi komunikasi: bagaimana menyampaikan pesan dengan kosakata terbatas, bagaimana meminta klarifikasi saat tidak mengerti, bagaimana menyesuaikan cara bicara dengan lawan bicara dari budaya berbeda. Semua ini tidak diajarkan secara serius di kelas karena guru terlalu sibuk mengoreksi preposition dan tenses.
Dari pengalaman saya sebagai seorang dosen yang seringkali mengikuti konferensi internasional. Saya acap kali menemukan presenter dari negara seperti Vietnam, India, Iran dan Nigeria yang berbicara dengan aksennya masing-masing, sehingga terlalu bros waktu bagi saya mati-matian mempelajari aksen penutur asli Bahasa Inggris. Yang membuat saya berhasil justru kemampuan mendengarkan berbagai aksen dan kesabaran menafsirkan makna. Ini adalah pelajaran berharga bahwa kelenturan dan kesadaran lintas budaya lebih berharga daripada tiruan aksen asli.
Apa yang Salah dengan Pengajaran Kita Saat Ini?
Jika kita membuka buku teks bahasa Inggris yang populer di Indonesia, hampir semuanya menggunakan dialog tentang orang bernama John atau Mary yang tinggal di London atau New York. Latihan mendengarkan (listening) menggunakan rekaman penutur asli dengan kecepatan dan idiom alami yang membuat siswa frustrasi. Tes seperti TOEFL dan IELTS masih memberikan nilai tinggi pada penutur asli dan menghukum variasi linguistik non-standar, meskipun variasi tersebut dapat dipahami secara universal.
Guru bahasa Inggris kita pun turut menjadi korban paradigma ini. Banyak guru non-penutur asli merasa inferior karena aksen mereka tidak “seperti bule”. Mereka kemudian menularkan inferioritas itu kepada siswa. Padahal, seorang guru dari Surabaya atau Medan seharusnya bisa menjadi model yang lebih relevan: dia menunjukkan bahwa sangat mungkin menjadi komunikator bahasa Inggris global yang efektif tanpa harus menghilangkan identitas lokal.
Kurikulum juga terlalu padat dengan aturan tata bahasa yang rumit, tetapi mengabaikan keterampilan pragmatik lintas budaya. Misalnya, bagaimana cara menolak tawaran dengan sopan dalam budaya bisnis Asia menggunakan bahasa Inggris? Bagaimana cara mengkritik rekan kerja dari budaya Timur Tengah tanpa menyinggung? Ini adalah inti dari komunikasi global, namun tidak pernah muncul dalam silabus.
Mengusung Pengajaran Inklusif: Alternatif yang Realistis
Sudah waktunya kita mendekolonisasi pembelajaran bahasa Inggris. Konsep yang perlu kita tanamkan adalah English as a Lingua Franca (ELF) dan Intercultural Communicative Competence (ICC). Apa artinya dalam praktik?
Pertama, kurikulum harus berpusat pada komunikasi fungsional, bukan pada peniruan penutur asli. Siswa perlu dilatih untuk menyelesaikan masalah dunia nyata menggunakan bahasa Inggris: memesan tiket, negosiasi harga, menyampaikan pendapat dalam diskusi internasional, atau menulis email lintas negara. Kesalahan yang tidak mengganggu pemahaman—seperti kesalahan artikel (a/an/the) atau preposisi—harapannya tidak perlu mendapat hukuman berat.
Kedua, materi ajar harus menghadirkan variasi aksen dan variasi bahasa Inggris dari seluruh dunia. Jangan hanya mendengarkan orang Amerika atau Inggris, tetapi juga orang India, Kenya, Singapura, Filipina, dan bahkan Indonesia. Siswa perlu belajar bahwa aksen berbeda itu wajar dan bisa dipahami. Video konferensi internasional, rekaman transaksi bisnis di bandara, atau podcast tentang isu global dengan berbagai penutur non-asli bisa menjadi sumber belajar yang kaya.
Ketiga, penilaian harus berubah. Tolak ukur keberhasilan bukan lagi “seberapa mirip dengan penutur asli”, tetapi “seberapa efektif siswa mengirim dan menerima pesan lintas budaya”. Tes bisa berbentuk simulasi negosiasi dengan kelompok dari latar belakang berbeda, atau tugas merekam percakapan dengan turis asing di Malioboro. Dalam penilaian ini, strategi komunikasi seperti meminta lawan bicara mengulang, atau mencari padanan kata, justru dinilai sebagai keterampilan positif.
Keempat, guru perlu dilatih ulang. Guru non-penutur asli harus bangga menjadi model komunikator global. Mereka tidak perlu berkecil hati karena aksen lokalnya. Sebaliknya, mereka bisa mengajarkan strategi yang mereka gunakan selama ini untuk berkomunikasi secara efektif dengan dunia luar. Pelatihan tentang ELF dan ICC harus menjadi bagian wajib dari program sertifikasi guru bahasa Inggris.
Merayakan Keberagaman Berbahasa
Tidak ada alasan untuk terus mengagung-agungkan penutur asli di ruang kelas bahasa Inggris. Dunia telah berubah. Bahasa Inggris adalah milik semua orang yang menggunakannya, dan setiap pengguna berhak membawa identitas budayanya saat mengucapkan kata-kata dalam bahasa tersebut.
Dengan melepaskan belenggu paradigma native-like, kita tidak hanya menyelamatkan siswa dari kecemasan dan frustrasi, tetapi juga membekali mereka dengan keterampilan yang benar-benar relevan: kemampuan beradaptasi, mendengarkan dengan sabar, menghormati perbedaan, dan menyampaikan gagasan lintas batas bangsa. Inilah esensi pembelajaran bahasa di abad ke-21.
Saatnya kita mengajarkan bahasa Inggris secara inklusif. Karena pada akhirnya, dunia tidak butuh lebih banyak orang yang bisa berbicara seperti orang Amerika. Dunia butuh lebih banyak orang yang bisa berbicara dengan siapa pun, dari budaya mana pun, dengan percaya diri dan rasa hormat. Biarlah bahasa Inggris yang kita ajarkan menjadi jembatan, bukan tembok yang memisahkan.(*)








