No Result
View All Result
gopos.id
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • INFOGRAFIS
    • Info Pasar
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Pohuwato
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Boalemo
    • Kotamobagu
    • Bolmut
    • Kota Smart
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • INFOGRAFIS
    • Info Pasar
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Pohuwato
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Boalemo
    • Kotamobagu
    • Bolmut
    • Kota Smart
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi
No Result
View All Result
No Result
View All Result
gopos.id

Di Balik Pengakuan Bersalah, Adakah Keadilan untuk Korban?

Arif Bina by Arif Bina
Rabu 20 Mei 2026
in Perspektif
0
0
SHARES
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Konsep pengakuan bersalah (plea bargaining) sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025 tentang KUHAP merupakan gagasan pembaruan yang membawa paradigma baru. Pengaturan ini memberi ruang bagi terdakwa untuk mengakui perbuatannya dengan imbalan keringanan, dengan salah satu syarat utamanya adalah kesediaan membayar restitusi kepada korban. Dalam perspektif tertentu, ini adalah langkah maju: hukum pidana tidak lagi sekadar mengejar penderitaan pelaku, melainkan mulai mengarah pada pemulihan hak korban.

Kehadiran mekanisme ini menjadi sangat relevan melihat kelemahan klasik sistem peradilan pidana kita. Selama ini, perkara pidana diposisikan sebagai konflik antara negara dan pelaku. Setelah tindak pidana terjadi, negara mengambil alih proses, sementara korban kerap terjebak pada posisi sekadar alat pembuktian. Kerugian ekonomi, trauma psikologis, dan hilangnya rasa aman sering kali tak kunjung pulih meski pelaku telah dijatuhi pidana.

Dalam konteks kekosongan inilah, mekanisme pengakuan bersalah menawarkan dua nilai keadilan yang sangat dibutuhkan korban. Pertama, validasi moral. Tidak sedikit korban yang merasa luka mereka bertambah parah ketika pelaku dengan lancang menyangkal perbuatannya. Pengakuan sukarela dari pelaku merupakan pengakuan bahwa penderitaan korban adalah nyata dan salah satu pihak bertanggung jawab atas hal itu. Kedua, efisiensi pemulihan. Proses persidangan yang panjang sering kali memperpanjang penderitaan korban karena mereka harus berulang kali mengulang trauma dan menunggu bertahun-tahun untuk kepastian. Penyelesaian yang cepat melalui pengakuan bersalah dapat mempercepat korban memperoleh restitusi secara riil.

Baca Juga :  Membaca yang Tersirat, Rustam Akili Bakal Mengikuti Jejak Kemenangan Prabowo

Namun, di balik potensi pemulihan itu, tersimpan bahaya laten yang mesti diwaspadai. Konsep ini bisa berbalik melukai korban apabila direduksi semata-mata menjadi instrumen efisiensi peradilan. Bahaya terbesarnya adalah ketika pengakuan bersalah berubah menjadi “jalan pintas” transaksional. Jika orientasinya hanya memangkas antrian perkara dan mengurangi beban pembuktian negara, maka keadilan bagi korban justru menjadi tumbal efisiensi.

Hukum pidana tidak boleh menciptakan kesan bahwa hukuman dapat “dibeli” murah hanya karena pelaku berani mengangkat tangan mengakui kesalahannya. Dalam perkara dengan dampak yang masif, keringanan pidana yang tidak proporsional justru mempermalukan rasa keadilan korban dan publik. Korban akan merasa penderitaan mereka ditukar murah dengan konsekuensi hukum yang ringan bagi pelaku.

Karena itu, agar mekanisme ini tidak menjadi pisau bermata dua, diperlukan dua penjaga utama. Pertama, peran hakim tidak boleh sekadar menjadi “pengesah kesepakatan” antara penuntut umum dan terdakwa. Hakim wajib memastikan pengakuan tersebut murni sukarela, dilakukan dengan pemahaman penuh, dan yang terpenting menghadirkan keadilan substantif, bukan sekadar kelancaran prosedural. Kedua, korban tidak boleh dipinggirkan dalam ruang negosiasi. Jika kesepakatan hanya dibicarakan tertutup antara negara dan pelaku, maka kita mengulangi kelemahan lama korban kembali dibungkam. Korban wajib mendapat ruang untuk didengar terkait dampak yang dialaminya sebelum negara memutuskan penyelesaian perkara.

Baca Juga :  KDRT: Sebuah Pengambilan Keputusan

Pengakuan bersalah tidak boleh dipandang semata sebagai alat modernisasi peradilan yang mengejar angka kecepatan. Mekanisme ini harus menjadi sarana menciptakan keseimbangan antara hak terdakwa, kepentingan negara, dan perlindungan korban. Keadilan yang sejati tidak cukup diukur dari seberapa cepat pelaku dihukum, tetapi dari seberapa nyata martabat korban dipulihkan. Jika tidak diterapkan dengan hati-hati, pengakuan bersalah akan berubah dari instrumen keadilan restoratif menjadi mekanisme kompromi yang mengkhianati korban. Efisiensi peradilan tidak boleh mematikan rasa keadilan.

Penulis: Rasyid H. Sayiu, S.Hi, Praktisi Hukum

Previous Post

Pejabat Bone Bolango Kompak Jadi Petugas Upacara Harkitnas ke-118

Next Post

Mahasiswa UNG Juara Lomba Baca Puisi, Siap Berlaga di Peksiminas Tingkat Nasional

Related Posts

Nelson Pomalingo
Perspektif

Mengenang Almarhum Rachmat Gobel, Inspirasi, Teladan dan Spirit Perjuangan untuk Gorontalo

Kamis 20 Agustus 2026
Dr. Husin Ali, S.Pd., M.A.P., CPOf.
Antropolog | Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Gorontalo | Ketua Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kota Gorontalo
Perspektif

KOTA YANG MENCARI ANAK-ANAKNYA

Sabtu 15 Agustus 2026
Funco Tanipu (Founder The Gorontalo Institute)
Perspektif

Senjakala Elite Nasional Gorontalo

Selasa 28 Juli 2026
Perspektif

Ketika Benteng Pemberantasan Korupsi Ikut Diguncang, Siapa yang Menjaga Kepercayaan Publik?

Sabtu 11 Juli 2026
Perspektif

Evaluasi POLRI: Hentikan Abuse of Power dan Stop Tindakan Represif Oknum Polisi Terhadap Rakyat

Selasa 30 Juni 2026
Irwan Bempah saat menghadiri Penas Petani dan Nelayan Gorontalo
Perspektif

PENAS XVII Gorontalo : Lahirnya Gagasan Besar untuk Pertanian Indonesia

Kamis 25 Juni 2026
Next Post

Mahasiswa UNG Juara Lomba Baca Puisi, Siap Berlaga di Peksiminas Tingkat Nasional

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

  • Mahasiswi Meninggal di kos-kosan Diduga Punya Riwayat Penyakit Jantung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Flash News: Mayat Perempuan Ditemukan di Kos-Kosan Dulalowo Timur

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabar Baik Calon Mahasiswa, Desil 1–4 Berpeluang Kuliah dengan KIP di UNBITA

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Identitas Mahasiswi Ditemukan Meninggal di Kos-kosan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Japan.nus-Ehime Siap Alih Teknologi Kelola Limbah dan Persampahan Gorontalo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
WA Saluran
Facebook X-twitter Youtube Instagram TikTok

© 2019 – 2023 Gopos.id  |  Gopos Media Online Indonesia | Gorontalo.

Iklan  |  Karir  |  Pedoman Media Cyber  |  Ramah Anak  |  Susunan Redaksi  |  Tentang Kami  |  Disclaimer

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • Info Pasar
    • INFOGRAFIS
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Ayo Germas
    • Boalemo
    • Bone Bolango
    • Kotamobagu
    • Bolmong Utara
    • Gorontalo Hebat
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Kota Smart
    • Pohuwato
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi

© 2019-2023 Gopos.id Gopos Media Online Indonesia | Gorontalo.