Oleh: Dr. Irwan Bempah, SP. MP
(Dosen Agribisnis Universitas Negeri Gorontalo)
Beberapa tahun terakhir, petani di Gorontalo hidup dalam suasana penuh tanda tanya. Musim tanam yang dulu bisa ditebak kini berubah menjadi teka-teki. Hujan kadang datang lebih cepat dari perkiraan, kadang malah terlambat hingga benih yang disemai kering di tanah. Bagi petani yang mengandalkan pengalaman turun-temurun, perubahan ini bukan sekadar gangguan kecil, melainkan ancaman nyata terhadap sumber penghidupan mereka. Data BMKG menunjukkan tren peningkatan suhu rata-rata dan anomali curah hujan di Sulawesi bagian utara selama satu dekade terakhir, di mana musim kering menjadi lebih panjang dan intensitas hujan meningkat di bulanbulan tak biasa. Perubahan kecil di suhu, kata para ahli, bisa berujung besar di hasil panen, dan itulah yang kini dirasakan di banyak ladang di Gorontalo.
Fenomena ini sebenarnya tidak unik di Gorontalo. Riset global yang dikutip dalam World Bank Climate Risk Profile (2024) menegaskan bahwa pertanian di Indonesia menjadi sektor paling rentan terhadap perubahan iklim. Dalam laporan itu disebutkan bahwa peningkatan suhu 1 derajar Celcius saja dapat menurunkan produktivitas padi hingga 10 persen dan memperbesar risiko gagal panen akibat serangan hama. Namun yang lebih mengkhawatirkan adalah bahwa petani kecil seperti mayoritas petani di Gorontalo, masih memiliki kapasitas adaptif yang terbatas. Mereka belum sepenuhnya memahami bagaimana cuaca ekstrem bekerja, belum punya teknologi yang memadai, dan kerap kali tidak mendapat informasi yang akurat tentang perubahan iklim.
Dalam konteks Gorontalo, yang sebagian besar wilayahnya bergantung pada pertanian jagung, ancaman perubahan iklim terasa makin nyata. Riset terkini menunjukkan bahwa penurunan ketersediaan air, serangan hama yang makin sering, dan degradasi tanah menjadi faktor utama menurunnya produktivitas pertanian di Kabupaten Bone Bolango. Jika hal ini terus dibiarkan, dampaknya bukan hanya pada hasil panen, tapi juga pada ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat pedesaan. Maka, perbincangan tentang kapasitas petani dan ancaman perubahan iklim bukan lagi isu akademik semata, melainkan soal masa depan kehidupan di Gorontalo.
Masalah yang Dihadapi Petani di Tengah Cuaca yang Tak Menentu
Masalah utama dihadapi berawal dari ketimpangan pengetahuan dan akses informasi. Banyak petani di Gorontalo masih mengandalkan kalender tanam tradisional (Panggoba) dan tanda-tanda alam seperti arah angin, bentuk awan dan bintang, atau perilaku hewan untuk menentukan waktu tanam. Sayangnya, sistem alam itu kini tidak lagi bisa diandalkan karena pola iklim sudah berubah total. Ketika hujan yang diharapkan tidak datang, bibit jagung gagal tumbuh, dan ketika hujan datang terlalu deras, lahan justru tergenang dan akar membusuk. Akibatnya, petani mengalami penurunan produktivitas bahkan kehilangan hasil panen.
Masalah lain muncul dari praktik pertanian yang belum berorientasi pada keberlanjutan. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa sebagian besar petani masih bergantung pada input kimia seperti pupuk dan pestisida sintetik dalam jumlah besar. Menurut Saad et al. (2024), penggunaan pupuk kimia yang berlebihan mengubah struktur tanah, menurunkan kadar kesuburan, dan membunuh organisme tanah penting seperti cacing dan mikroba. Kondisi ini menyebabkan tanah menjadi keras dan kurang produktif. Sementara itu, pembakaran limbah pertanian seperti tongkol jagung atau jerami masih sering dilakukan karena dianggap cara cepat membersihkan lahan. Padahal, kebiasaan ini justru memperburuk polusi udara dan menambah emisi gas rumah kaca, yang menjadi penyebab utama perubahan iklim.
Persoalan ekonomi memperparah keadaan. Sebagian besar petani Gorontalo adalah petani kecil dengan lahan sempit, rata-rata di bawah satu hektare. Dengan pendapatan yang terbatas, mereka cenderung memilih praktik yang cepat menghasilkan, meski tidak ramah lingkungan. Minimnya dukungan modal dan akses terhadap kredit pertanian membuat inovasi sulit dilakukan. Di sisi lain, program penyuluhan dari pemerintah sering kali berhenti pada tataran sosialisasi tanpa pendampingan nyata di lapangan. Akibatnya, kesadaran akan pentingnya adaptasi iklim dan pertanian berkelanjutan masih jauh dari harapan.
Semua ini menggambarkan bahwa yang dihadapi petani Gorontalo bukan hanya perubahan cuaca, tapi juga perubahan zaman, sementara kapasitas untuk menyesuaikan diri belum cukup kuat. Ada jurang antara tantangan iklim dan kemampuan adaptasi petani yang harus segera dijembatani.
Menakar Kapasitas Petani dalam Menghadapi Perubahan Iklim
Penelitian Yuni Maulani M. Nur et al. (2024) di Desa Bonda Raya, Kabupaten Bone Bolango, memberikan gambaran detail mengenai rendahnya kapasitas petani dalam menerapkan prinsip pertanian berkelanjutan. Dari sembilan komponen praktik berkelanjutan yang diuji, mulai dari penggunaan pupuk organik, tumpangsari, hingga penanaman pohon, hanya dua yang mendapat nilai cukup tinggi yakni penanaman pohon (rata-rata skor 3,38) dan pengurangan pestisida kimia (skor 3,02). Sementara itu, penggunaan pupuk organik (1,30), rotasi tanaman (1,55), dan pengurangan herbisida (1,42) masih tergolong rendah. Data ini menunjukkan bahwa sebagian besar petani belum sepenuhnya mengadopsi metode ramah lingkungan, meskipun mereka menyadari dampak negatif dari praktik konvensional.
Peneliti menemukan bahwa faktor luas lahan menjadi salah satu variabel yang signifikan memengaruhi tingkat adopsi inovasi. Petani dengan lahan lebih luas cenderung berani mencoba praktik baru karena mereka memiliki ruang untuk “ujicoba” tanpa takut gagal total. Sebaliknya, petani berlahan sempit cenderung bermain aman dengan metode lama. Hal ini menunjukkan bahwa kapasitas adaptasi tidak hanya bergantung pada pengetahuan, tapi juga pada ketersediaan sumber daya. Semakin terbatas aset ekonomi petani, semakin kecil pula kemampuan mereka untuk berinovasi menghadapi perubahan iklim.
Selain faktor ekonomi, dimensi kelembagaan juga berperan penting. Penelitian menyoroti lemahnya peran kelompok tani dan penyuluhan dalam memperkuat kapasitas petani. Banyak petani yang merasa penyuluhan tidak relevan dengan kebutuhan mereka, atau tidak memberikan solusi praktis terhadap masalah yang dihadapi di lapangan. Padahal, penyuluh berpotensi menjadi jembatan penting antara petani dan inovasi teknologi. Seperti yang dijelaskan Saad et al. (2024), penyuluh bukan hanya agen informasi, tapi juga fasilitator perubahan perilaku, yang dapat membantu petani beralih dari ketergantungan pupuk kimia menuju sistem pertanian yang lebih ramah lingkungan.
Pertanian Berkelanjutan sebagai Strategi Adaptasi
Adaptasi terhadap perubahan iklim bukan sekadar bertahan, tapi juga bertransformasi. Pendekatan yang diusulkan kedua penelitian menunjukkan bahwa pertanian berkelanjutan adalah kunci penting untuk meningkatkan kapasitas adaptasi petani Gorontalo. Prinsipnya sederhana, mengelola lahan dengan cara yang menjaga kesuburan tanah, meminimalkan polusi, dan memperkuat ekosistem lokal. Praktik seperti penggunaan pupuk organik, rotasi tanaman, dan pengurangan pestisida bukan hanya melindungi lingkungan, tetapi juga memperpanjang umur produktivitas lahan.
Penelitian Saad et al. (2024) menegaskan bahwa kegiatan menanam pohon memiliki dampak paling nyata terhadap mitigasi iklim, karena vegetasi mampu menyerap karbon dan memperbaiki keseimbangan air tanah. Selain itu, memanfaatkan limbah pertanian sebagai bahan baku pupuk organik atau pakan ternak dapat mengurangi emisi sekaligus menambah nilai ekonomi bagi petani. Di beberapa wilayah Gorontalo, inovasi seperti biogas dari kotoran ternak atau kompos dari tongkol jagung sudah mulai diterapkan meski masih dalam skala kecil.
Namun, keberhasilan adaptasi tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada petani. Diperlukan dukungan kebijakan dan pendampingan berkelanjutan dari pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan lembaga riset. Misalnya melalui sekolah lapang iklim, penguatan kelembagaan petani, serta insentif bagi praktik pertanian hijau. Dengan dukungan semacam itu, petani tidak hanya mampu menyesuaikan diri, tetapi juga bisa menjadi pionir perubahan dalam sistem pangan yang lebih berketahanan.
Jalan Keluar Menuju Petani Tangguh Iklim
Kisah pilu petani Gorontalo sesungguhnya adalah potret kecil dari dinamika besar pertanian Indonesia hari ini. Sektor yang tengah berjuang menyesuaikan diri dengan iklim yang tak lagi bersahabat. Jika kapasitas petani tidak segera diperkuat, maka bukan hanya produktivitas yang akan jatuh, tapi juga fondasi ekonomi desa. Oleh karena itu, upaya adaptasi harus bergerak di dua arah sekaligus. Dari bawah, dengan memperkuat kapasitas petani di tingkat akar rumput. Dan dari atas, dengan menciptakan kebijakan yang berpihak pada pembelajaran berkelanjutan.
Peningkatan kapasitas ini tidak selalu harus mahal atau rumit. Banyak hal sederhana yang bisa dilakukan, seperti membangun irigasi tetes skala kecil, mengajarkan pola tanam adaptif berbasis kalender iklim, serta memperluas pelatihan Sekolah Lapang Iklim dan Pengendalian Hama Terpadu. Pendekatan semacam ini bukan sekadar transfer teknologi, melainkan proses membentuk pola pikir baru, bahwa petani bukan korban perubahan iklim, melainkan aktor penting dalam mitigasi dan adaptasi.
Lebih jauh lagi, membangun jaringan sosial dan kelembagaan petani menjadi kunci. Tanpa dukungan kelembagaan yang kuat, pengetahuan yang diperoleh dari pelatihan atau proyek seringkali hilang begitu saja. Dukungan koperasi Merah-Putih, pelibatan perempuan dan pemuda desa dalam kelompok tani, serta pemanfaatan teknologi digital untuk memantau iklim dan pasar bisa menjadi solusi nyata. Jika jaringan ini hidup, maka setiap kali perubahan datang, entah hujan yang tertunda atau hama baru yang muncul, petani tidak lagi sendirian mencari jawaban.
Akhirnya, berbicara tentang kapasitas petani Gorontalo berarti berbicara tentang masa depan daerah itu sendiri. Di tengah dunia yang makin panas dan tak pasti, ketangguhan petani bukan hanya urusan pangan, tapi juga urusan martabat dan keberlanjutan hidup masyarakat desa. Menguatkan kapasitas mereka bukanlah pilihan, melainkan keharusan. Karena ketika petani tangguh, desa pun akan lebih siap menghadapi badai perubahan iklim yang tak terelakkan.
Namun, harapan tetap ada. Gorontalo memiliki modal sosial yang kuat, komunitas petani yang saling membantu, tanah yang subur, dan tradisi gotong royong yang bisa menjadi dasar untuk membangun ketahanan bersama. Jika kapasitas mereka diperkuat melalui pendidikan, teknologi, dan jaringan kelembagaan yang adaptif, maka petani Gorontalo bukan hanya mampu bertahan dari perubahan iklim, tetapi juga menjadi motor perubahan menuju masa depan pertanian yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
Bahan Bacaan
Nur, Y. M. M., Bempah, I., & Arsyad, K. (2024). Praktik Adopsi Pertanian Berkelanjutan Di Desa Bonda Raya, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo. Agrisaintifika: Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian, 8(1), 123-132.
Saad, H., Bempah, I., & Arsyad, K. (2024). Adaptasi Dampak Perubahan Iklim Melalui Adopsi Pertanian Berkelanjutan. Jurnal Penyuluhan Pertanian, 19(1), 1-11.








