GOPOS.ID, GORONTALO – Di tengah hiruk-pikuk suara mesin molen dan dentuman palu proyek rabat beton TMMD ke-126 di Desa Tonala, Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo ada satu sosok prajurit yang mungkin jarang disorot kamera.
Ia bukan yang memegang cangkul, bukan pula yang berdiri gagah di barisan upacara. Namun, tanpanya, pekerjaan fisik takkan pernah berjalan.
Dialah Sertu Amirul, prajurit yang bertanggung jawab atas penyediaan air, elemen paling vital dalam seluruh kegiatan TMMD.
“Air itu nyawa dari semua pekerjaan fisik. Tanpa air, semen tak bisa diaduk, rabat beton tak bisa dicetak,” ujarnya sambil tersenyum di tengah teriknya matahari siang.
Setiap hari, sejak pagi buta sebelum rekan-rekannya mulai bekerja, Sertu Amirul sudah menyiapkan tandon, selang, dan drum air.

Ia memastikan pasokan air cukup untuk adukan semen, membersihkan alat, hingga kebutuhan lain para prajurit dan warga yang ikut bergotong royong.
Tugasnya sederhana, tapi menuntut ketelitian dan tanggung jawab besar. Kadang, ia harus berjalan jauh ke sumber air alami di tepi hutan. Kadang pula ia menumpang kendaraan bak terbuka membawa selang.
“Capek iya, tapi kalau lihat warga senang, jalan jadi bagus, semua terbayar,” katanya.
Meski kerap dianggap pekerjaan ringan, perannya justru menjadi fondasi bagi kelancaran TMMD. Ia tak sekadar mengalirkan air, tapi juga semangat.
“Setiap kali saya isi tandon, saya merasa seperti sedang mengisi energi buat teman-teman. Kalau air cukup, semua semangat,” ujarnya sambil tertawa kecil.
Di sela istirahatnya, Sertu Amirul ini sering membantu warga mengambil air bersih untuk keperluan rumah tangga.
“Kadang ada ibu-ibu minta bantu isi air buat masak, ya kita bantu. Namanya juga bagian dari pengabdian,” tuturnya dengan rendah hati.
Bagi rekan-rekannya, ia dijuluki “penjaga aliran hidup TMMD”. Sosok yang tak pernah lelah memastikan pekerjaan berjalan lancar, meski kontribusinya tak selalu terlihat di foto dokumentasi.
“TMMD bukan soal siapa yang paling kuat, tapi siapa yang paling peduli. Dan dia salah satu contoh nyata itu,” ujar salah satu anggota Satgas lainnya.
Bagi Sertu Amirul, tugasnya bukan sekadar kewajiban, tapi bentuk cinta pada masyarakat.
“Kalau nanti jalan ini sudah jadi, saya bisa bilang ke anak-anak saya, ‘Ayah ikut bikin jalan ini.’ Itu kebanggaan saya,” ucapnya pelan. (Isno/gopos)








