Mentari naik di ufuk timur Kelurahan Tenda, Kecamatan Hulonthalangi, Kota Gorontalo. Membangunkan kampung pesisir yang hidup dari napas laut. Di sana, perempuan-perempuan pesisir belajar menjemput rezeki dengan tangan dan keyakinan mereka sendiri.
Rahmadan Ismail Yunus, Gorontalo
Di dapur bercat putih, aroma ragi dan mentega memenuhi udara. Enam perempuan berkerudung, lengan tergulung, menakar tepung dan menguleni adonan. Tawa mereka sesekali pecah saat roti yang dibentuk tak seragam. Inilah rutinitas Gita Cookies, kelompok usaha perempuan pesisir hasil program KAIL (Komunitas Hasil Laut) Pertamina Patra Niaga Integrated Terminal Gorontalo.
Bagi kalangan warga Gorontalo, nama “Kampung Tenda” sudah ada jauh sebelum kota ini berdiri. Di kawasan yang dulunya tempat berlabuh para pelaut dan pedagang, generasi berganti—dan kini, di pesisir yang sama, lahir perahu-perahu kecil baru: bukan dari kayu dan layar, melainkan dari adonan, ide, dan tekad perempuan.
Kawasan bersejarah ini dihuni 5.952 orang, sesuai hasil sensus penduduk oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Gorontalo tahun 2020. Lebih dari separuh atau 3.039 orang adalah perempuan [akses link]. Mayoritas masyarakat di Kelurahan Tenda adalah nelayan dan pekerja serabutan.
Di musim timur atau musim barat, laut Gorontalo sering berubah wajah. Ombak bisa mencapai dua meter—setinggi atap perahu—dan angin kencang memaksa nelayan bersandar berhari-hari. Bukan hanya perahu yang berhenti, tapi juga dapur-dapur di kampung ini ikut senyap.
Rosman, nelayan setempat, tahu betul risiko melaut di musim timur. “Mesin lo parahu bo 15 PK, baku dapa deng ombak satu meter, yilate…” katan Rosman—yang artinya Mesin perahu hanya 15 PK, berhadapan ombak satu meter, mesinnya bisa mati—, Rabu (29/10/2025), di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tenda.
Selain cuaca atau musim, ketidakpastian hasil laut juga ditentukan keberuntungan. Nasib laut sering dibaca lewat tanda alam, atau lewat kepercayaan turun-temurun tentang hari nahas—lowanga dan kalisuwa.
“Kalau kena di lowanga atau kalisuwa, hmm… diyaluwo,” ucap Rosman—Bila bertepatan hari lowanga atau kalisuwa, tidak ada ikan yang didapat.
Saat musim angin kencang datang lebih panjang dari biasanya, bagi keluarga di Tenda bukan cuma ujian cuaca, tapi juga ujian dapur. Banyak yang bertahan dengan tabungan, dan beralih mengambil pekerjaan serabutan. Saat tabungan habis, pinjaman jadi penolong sementara. “Kami menyebutnya masa mantab—makan tabungan,” kenang Heriyanti salah satu anggota Gita Cookies, Sabtu (25/10/2025).
“Biar so hemat sekali, debo tida mo cukup am, (biar sudah berhemat, sisa tabungan tetap tidak cukup),” imbuhnya tersenyum pahit. Kata “am” dipakai oleh orang-orang di Gorontalo sebagai frasa pelengkap yang bernuansa penegasan atau pembenaran.
Di sisi yang lain, ketika musim panen berlimpah juga tak kalah pelik. Harga jual ikan anjlok, serendah-rendahnya hingga tak bisa menutupi biaya operasional. Ikan pun akhirnya membusuk karena tak laku dan tak bisa diolah menjadi ikan kering.
Sambil menerawang, Heriyanti mengingat musim timur 2021—masa ketika angin kencang dan gelombang tinggi tak memberi ruang bagi nelayan untuk melaut. Di saat masyarakat mulai bangkit dari bayang-bayang pandemi, keluarga mereka justru terjebak dalam ketidakpastian baru.
“Suami alih kerja serabutan, bawa bentor, sementara saya tak punya penghasilan lebih,” ucapnya, pelan namun tegas.
Bagi Heriyanti, masa itu bukan sekadar tentang cuaca buruk. Ia adalah cermin dari rapuhnya ketahanan ekonomi keluarga pesisir. Ketika laut tak bisa diandalkan, pilihan pun menyempit. Perempuan seperti dirinya, yang selama ini berada di belakang layar, harus menanggung beban yang tak terlihat: menjaga dapur tetap menyala, dan anak-anak tetap makan.
Hingga akhirnya, tahun berikutnya, Pertamina memperkenalkan program KAIL yang menjadi titik balik hidup perempuan pesisir Kampung Tenda. Program ini menjadi bagian dari Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang dirancang untuk memberdayakan perempuan pesisir lewat pelatihan kewirausahaan dan pengolahan hasil laut.
Cerita Heriyanti hanyalah satu dari banyak perempuan di pesisir yang merasakan hal sama. Salah satunya Hartini, yang kemudian memimpin langkah perubahan melalui kelompok Gita Cookies. “Waktu itu saya pikir cuma kegiatan biasa. Ternyata dari sinilah hidup kami mulai berubah,” ungkap Hartini.
Bagi Hartini dan teman-temannya, perubahan bukan datang tiba-tiba. Ia tumbuh seperti adonan di tangan mereka—perlahan, tapi pasti mengembang menjadi harapan.

Menyulam Rasa, Menjaga Kehidupan
Program KAIL membawa semangat baru ke dapur-dapur pesisir. Dari pelatihan sederhana, ide-ide kreatif mulai bermunculan. Salah satunya lahir dari obrolan santai—yang kemudian dikenal dengan nama “Gita Cookies”.
Nama “Gita Cookies” lahir dari obrolan santai diskusi di awal pembentukan kelompok. “Saya jualan kue kecil-kecilan pakai nama itu. Eh, malah disepakati jadi nama kelompok,” kata Hartini Panai, ketua kelompok yang kini jadi ikon perempuan pesisir, Sabtu (25/10/2025).
Sebelum jadi sebuah kelompok, anggota Gita Cookies menghabiskan keseharian dengan menjalankan tugas sebagai ibu rumah. Memulai hari dengan rutinitas yang tak jauh berbeda: menyiapkan sarapan, menunggu suami pulang, dan berharap membawa hasil yang cukup.
Ikan diolah seadanya. Kadang dibakar, dimasak kuah, dan paling sering digoreng. Maka ketika rembuk untuk memutuskan jenis olahan apa yang akan dilatih dan didampingi? Anggota Gita Cookies kompak menyebut, “abon ikan”.
Mereka memulai dari nol—membersihkan ikan, menakar bumbu, hingga gagal berkali-kali. “Rasa abon pertama juga belum pas,” kenang ibu murah senyum itu. Tapi dari kegigihan itu, lahirlah resep abon tuna yang gurih dan harum.
Tak berhenti di situ, uji coba kembali dilakukan. Varian rasa dikembangkan. Langkah ini dilakukan karena kelompok Gita Cookies tahu betul lidah orang Gorontalo punya selera tersendiri.
“Orang Gorontalo tidak enak makan, kalau tidak pedas. Jadi kami buat dua rasa: original dan pedas,” kata Hartini.
Setelah sukses membuat abon, mereka kembali bereksperimen membuat bakso dan nugget ikan. Lalu ide out of the box muncul. Memadukan kue dan ikan, dalam bentuk roti abon tuna.
“Alhamdulillah, banyak yang suka,” sebut Hartini tersenyum gembira.
Gita Cookies menggunakan tuna sirip kuning (Thunnus albacares) sebagai bahan baku utama. Masyarakat lokal menyebutkan “ekor kuning” mengacu pada warna siripnya yang kuning. Bahan baku tuna dibeli di usaha perikanan di Kelurahan Tenda. Selain dekat, ikut membantu kehidupan ekonomi sekitar.
“Kita ambil yang masih fresh, supaya hasil akhirnya juga enak,” tegas ibu berkacamata itu. Nadanya mantap memastikan produk Gita Cookies berkualitas.
Tuna banyak tersedia di wilayah Kota Gorontalo. Data web BPS Provinsi Gorontalo, yang dikutip pada Jumat (31/10/2025), menyebutkan nilai produksi perikanan tangkap komoditas tuna di Kota Gorontalo pada 2023 sebanyak 8.848,362 ton—sebagaimana tercatat dan diperbarui pada 23 Januari 2025 [akses link]. Sementara itu, data BPS Kota Gorontalo menunjukkan, produksi tangkap perikanan laut di Kecamatan Hulonthalangii—lokasi Gita Cookies beroperasi—mencapai sebanyak 9.690,76 ton pada 2024 dengan pembaruan terakhir Maret 2025 [akses link].
Dalam sekali produksi per minggu, Gita Cookies mengolah sekitar tujuh kilogram daging tuna segar. Sebanyak lima kilogram daging tuna segar diproses melalui perebusan dan penggorengan sekitar 60 menit menjadi sekitar empat kilogram abon. Produk tersebut dikemas dalam 50 pouch, dengan dua varian ukuran: 35 gram seharga Rp25 ribu dan 100 gram seharga Rp50 ribu. Setiap minggu dapur menghasilkan aroma yang sama: perpaduan laut dan semangat yang tak pernah padam.
Tak hanya abon, dapur Gita Cookies juga tak pernah sepi. Di sudut lain, dua kilogram daging tuna diolah menjadi rata-rata 30 hingga 35 bungkus bakso atau nugget. Satu bungkus bakso (isi 20 butir) dihargai Rp12 ribu, sementara nugget (isi 24 buah) dijual Rp25 ribu dengan pemasaran di toko-toko makanan.
Untuk satu kali produksi olahan ikan meliputi abon, bakso dan nugget, mereka membutuhkan modal sekitar Rp800 ribu—terdiri dari pembelian ikan segar, bumbu hingga bahan bakar. Biaya ini dikeluarkan per siklus produksi.
Sementara itu, untuk produksi kue kering dan roti, dapur bekerja 2-3 kali dalam sepekan dengan modal di kisaran Rp1 jutaan per siklus. Rata-rata, 10 kilogram tepung terigu diolah menjadi 16 mika kue kerawang (satu mika berisi 50 kue seberat 5 gram) dan 200 buah roti abon tuna. “Kue kerawang harganya mulai dari Rp150 ribu per mika, dan roti abon Rp5 ribu per buah,” tutur Hartini.
Pada tahapan produksi Gita Cookies berupaya menerapkan prinsip ramah lingkungan. Misalnya, air bekas pencucian tidak langsung dibuang ke saluran, melainkan dipakai untuk menyuburkan tanaman pekarangan. Beberapa pohon cabai tampak menghijau di samping rumah.
Hal serupa berlaku pada tahap penggorengan dan pemanggangan. Penggunaan Bright Gas Pertamina membuat proses menggoreng atau memanggang lebih efisien. “Satu tabung 5,5 kilogram bisa dipakai dua minggu. Pemakaian gas kue karawang agak banyak karena dua kali pemanggangan,” kata Hartini. Dengan biaya sekitar Rp35 ribu per siklus produksi, jauh lebih hemat dibandingkan bahan bakar minyak tanah.
Tahap akhir berupa pengemasan, juga tak luput dari perhatian. Mereka memilih kemasan kertas yang bisa didaur serta plastik ramah lingkungan. Setiap detail ini menjadi bukti komitmen mereka, komitmen terhadap ekonomi hijau.
Hartini menyebut, prinsip ramah lingkungan dalam proses produksi juga diajarkan saat pelatihan. Pengetahuan itu menjadi modal bagi mereka untuk menjaga kelestarian lingkungan.
Kini, di dapur sederhana itu, ikan bukan hanya lauk di meja makan, tapi modal untuk masa depan. Perempuan-perempuan pesisir kampung Tenda tidak lagi sekadar menunggu penghasilan suami, tapi ikut menambah hasil tangkapan rezeki keluarga. KAIL bukan sekadar nama program TJSL (CSR). Ia telah menjadi kail harapan—menarik perempuan Tenda menuju kemandirian.

Tumbuh Bersama Menggerakkan Ekonomi
Sejak KAIL menyentuh, arah hidup Gita Cookies mulai bergeser pelan. Dari sekadar memenuhi pesanan tetangga, kini mereka menembus pasar yang lebih luas.
Aneka olahan ikan dan roti dipasarkan melalui toko makanan/kue di Kecamatan Hulontalangi maupun kecamatan tetangga, Kota Selatan. Di lain tempat, roti buatan Gita Cookies ikut dipasarkan di kantin kantor Wali Kota Gorontalo. Hanya dalam rentang tiga hari, keseluruhan roti laku terjual.
Sembari tersenyum dan berucap syukur, Hartini mengakui bila kondisi tersebut mengalami perubahan 180 derajat dari situasi sebelum tersentuh program KAIL. Pada masa itu, mereka hanya memasarkan roti di warung tetangga sekitar. Pun demikian dengan kue kerawang. Dibuat bila ada pesanan.
Program KAIL sendiri dirancang berjalan selama lima tahun. Walau baru memasuki tahun kedua, manfaatnya sudah mulai terasa di dapur-dapur pesisir. Para perempuan yang dulu bergantung pada hasil laut kini punya penghasilan baru dari olahan tangannya sendiri. “Kami baru belajar dua tahun, tapi sudah bisa bantu suami dan bayar sekolah anak,” kata Hartini.
Sebelum mengikuti program KAIL, pendapatan bulanan Gita Cookies yang hanya mengandalkan penjualan kue kering berada di kisaran Rp4 juta. Setelah pelatihan, nilai omzet terus naik berkat adanya diversifikasi produk. Menurut pencatatan kelompok, omzet bulanan dengan produk gabungan (olahan ikan dan kue) berada di kisaran Rp12 juta (Gita Cookies, Oktober 2025). “Alhamdulillah, mudah-mudahan terus naik,” Hartini menengadahkan kedua tangan ke atas.
Kenaikan itu berimbas langsung pada kesejahteraan anggota: pada 2025 setiap bulan mereka menerima pembagian keuntungan bersih sampai dengan Rp500 ribu, disesuaikan dengan kontribusi produksi masing-masing. Kini, dengan pendapatan tersebut mereka bisa memenuhi kebutuhan dapur hingga mengisi tabungan.
Tak berapa lama, Hartini menghentikan sejenak perbincangan. Pandangannya tertuju pada bingkai foto seorang gadis bertoga yang terpampang di dinding rumah. Hartini tersenyum memandangi bingkai itu—seolah di sana terpantul perjalanan panjang dari dapur kecil menuju mimpi yang besar.
“Syukur alhamdulillah, berkat penghasilan dari sini bisa menambah biaya pendidikan anak-anak,” ucap Hartini. Gadis dalam bingkai foto itu adalah putri sulung Hartini yang sudah menyelesaikan pendidikan Sarjana (S1) Hukum di Universitas Negeri Gorontalo (UNG).
Kenaikan pendapatan Gita Cookies hanyalah satu sisi cerita. Nilai dari karya mereka tidak hanya sebatas angka omzet, tetapi pada dampak nyata bagi lingkungan sekitar. Bakso dan nugget ikan buatan tangan para ibu menjadi tambahan protein bagi anak-anak keluarga berisiko stunting di Kelurahan Tenda—meski kontribusinya belum terukur secara statistik.
“Anak-anak suka, kita juga senang karena mereka bisa mengkonsumsi tambahan protein,” ujar Ijran Usman, salah satu kader Posyandu di Kelurahan Tenda.
Kontribusi kelompok Gita Cookies selaras dengan upaya Pemerintah Kota Gorontalo mengatasi stunting. Upaya itu mendesak dan butuh perhatian bersama. Sebab, berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), angka stunting di Kota Gorontalo justru melonjak dari 23,6 persen (2023) menjadi 31,2 persen pada 2024. Angka SSGI ini dirujuk dari web Badan Kebijakan Pembangunan (BKPK) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI [akses link].
“Ini menyangkut masa depan generasi kita, tak boleh ditunda-tunda,” sebut Sekretaris Daerah Kota Gorontalo, Ismail Madjid. Penegasan itu ia disampaikan pada pencanangan Gerakan Cegah Stunting di halaman Kantor Dinas Kesehatan Kota Gorontalo, akhir September 2025.
Sementara pemerintah menggelar kampanye di halaman kantor, di dapur kecil itu perubahan berjalan tanpa seremonia. Semangat kebersamaan sudah tumbuh lebih dulu. Mereka tak hanya mengolah ikan, tapi juga saling bantu kalau ada yang sakit atau punya kebutuhan mendesak. Program yang awalnya sekadar pelatihan, secara perlahan menjadi simpul sosial baru yang kuat di pesisir Gorontalo.

Sinergi Menyalakan Energi
Dapur Gita Cookies bukan lagi sekadar ruang memasak. Ia telah menjelma menjadi ruang belajar, ruang bertukar gagasan, dan ruang tumbuh bersama. Selama pelatihan berlangsung, anggota Gita Cookies tidak hanya menjadi pendengar pasif. Mereka dilibatkan dalam setiap tahap: menentukan kebutuhan alat produksi, hingga menyusun strategi pemasaran digital.
Semua keputusan diambil berdasarkan kesepakatan bersama, lahir dari diskusi antara kelompok dan mentor. “Kita punya WA Grup dengan Pak Gunawan,” ujar Hartini, menyebut perwakilan Pertamina Patra Niaga IT Gorontalo. “Selain tatap muka, kita saling berkomunikasi di situ.”
Di balik layar, komunikasi itu menjadi jembatan. Tak cuma menyampaikan informasi, tapi untuk membangun rasa percaya. Bahwa suara mereka didengar, kebutuhan mereka dipahami, dan program ini bukan sekadar intervensi, tapi ruang kolaborasi.
“Kita dibantu peralatan produksi sesuai yang dibutuhkan,” kata Hartini.
Pada bagian lain, kemajuan yang dicapai Gita Cookies tak hanya dirasakan oleh anggota kelompok semata. Pemerintah Kecamatan Hulonthalangi ikut merasakan denyut perkembangannya. Camat Hulonthalangi, Kasim Pilobu, mengaku arah langkah Gita Cookies sudah on the track (di jalur yang tepat). “Mereka sudah punya market tersendiri, banyak pelanggan berulang kali memesan,” ucap Kasim.
Meski begitu ada tantangan promosi yang perlu dipecahkan. Kasim menilai, pemasaran mereka perlu ditingkatkan untuk menjangkau pasar yang semakin luas. Ia mendorong pemanfaatan media sosial secara intensif serta keikutsertaan dalam pameran. “Supaya bisa dikenal lebih dari di Gorontalo,” sarannya.
Bagi Kasim, pameran juga bisa menjadi momen penting bagi Gita Cookies untuk menguatkan identitas dan eksistensi mereka sebagai UMKM. “Harus lebih sering mengikuti acara nasional, tapi ini kembali lagi pada ketersediaan anggaran,” Kasim menjelaskan.
Perluasan pemasaran melalui digitalisasi dan internet sebetulnya telah dirintis semasa pelatihan. Mentor berpengalaman dihadirkan untuk berbagi tips dan kiat dalam pemasaran digital. Tapi lain cerita ketika kembali ke dapur. Mengemas pesanan yang datang mendadak, dan memastikan rasa tetap konsisten, membuat media sosial sering kali tertinggal. “Nanti sudah kelar semua baru ingat,” sebut Hartini tertawa lebar.
Akun medsos khusus Gita Cookies dibuat saat pelatihan. Sejumlah postingan yang memperkenalkan produk abon sempat menghiasi wajah depan akun tersebut. Tapi beberapa saat kemudian, kata sandi akun sekalian email yang digunakan membuat akun, sudah tak diketahui lagi. “Yah, namanya ibu-ibu,” Hartini kembali tertawa.
Untungnya, Gita—putri sulungnya—paham dunia media sosial dan membantu mengelola akun bisnis mereka. Gita, tak lagi canggung berbicara di depan kamera memperkenalkan produk secara live. Generasi Gita melanjutkan api yang dinyalakan ibunya—energi perubahan yang menembus batas umur.
“Gita sekarang bantu saya kelola pesanan pelanggan yang lewat medsos atau WhatsApp,” kata Gita.
Selain menjadi pembuka akses pasar, pemanfaatan media sosial turut memperkuat jalinan emosi dengan pelanggan. Salah satu buktinya, sejak tampil di media sosial, sejumlah pelanggan lama kembali berinteraksi dan melakukan pemesanan. Hasil karya tangan-tangan terampil di dapur Gita Cookies terbang antar pulau.
“Ada ibu dokter, pernah tugas di Gorontalo. Waktu di sini suka sekali produk kami. Sekarang masih sering menghubungi untuk dikirim ke Jakarta. Kadang lewat WA, kadang juga lewat FB,” tutur Gita.
Abon pernah dibawa oleh seorang pengusaha perempuan asal Gorontalo ke China—kiriman personal pengusaha bukan ekspor. Ternyata, abon tuna tersebut turut disukai oleh relasi sang pengusahadi China.
“Sejak saat itu, ibu (pengusaha, red) ketika akan berangkat ke China untuk urusan bisnis, selalu memesan abon,” kata Gita dengan bangga.
Tak hanya Gita, PT Pertamina Patra Niaga juga turut berbangga atas keberhasilan Gita Cookies merasakan manfaat dari program KAIL. Program pemberdayaan CSR dari PT Pertamina Patra Niaga IT Gorontalo itu dinilai memberi dampak nyata pada peningkatan kapasitas produksi, penguatan kelembagaan, dan perluasan akses pasar kelompok tersebut.
“Melalui pelatihan manajemen usaha, kelompok mampu meningkatkan kualitas dan daya saing produknya di pasar lokal,” ujar Senior Supervisor Commrel Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Okky Aditya Wibowo, kepada gopos.id, Kamis (30/10/2025).
Dukungan sarana produksi juga disebut Okky turut membantu efisiensi waktu dan biaya, sehingga pendapatan anggota meningkat signifikan. Lebih dari sekadar bantuan ekonomi, program ini menumbuhkan kemandirian dan mempererat solidaritas antar anggota.
Program ini tak hanya mengajarkan keterampilan, tapi juga menyalakan rasa percaya diri bagi perempuan pesisir untuk mengelola bisnisnya sendiri. Pertamina, kata Okky, membuka peluang untuk melanjutkan dukungan kepada kelompok seperti Gita Cookies. “Program peningkatan kapasitas UMK dapat dilakukan baik melalui CSR maupun UMK Academy. Hal itu sangat mungkin untuk dilakukan,” jelas Okky, saat ditanya mengenai kemungkinan pelibatan kelompok dalam program UMK Academy ke depan.
Program KAIL Pertamina bukan sekadar intervensi ekonomi, melainkan juga gerakan yang menyentuh masa depan komunitas pesisir. Ia adalah titik balik dan memberi perempuan yang selama ini tak terlihat ruang untuk berdiri, berkarya, dan berkontribusi nyata pada isu-isu besar seperti kemandirian ekonomi, ketahanan pangan hingga stunting.
Di Kampung Tenda, perubahan tidak datang dengan sorak-sorai. Ia tumbuh pelan, seperti adonan yang mengembang di dapur para ibu. Dari tangan-tangan yang setiap hari bersentuhan dengan ikan dan tepung, lahir keyakinan baru: bahwa perempuan pesisir bukan hanya penjaga dapur, tapi penjaga masa depan.
Dari dapur mereka, aroma tuna dan mentega berpadu dengan semangat baru. Energi itu kini menyala bukan di kilang atau tangki, tapi di hati para perempuan yang berani bermimpi.
Mereka membuktikan: energi Pertamina bukan hanya bahan bakar di SPBU, tapi juga pijar kecil yang menggerakkan hidup di sudut-sudut negeri.(Rama/gopos)








