Oleh: Letkol Arh Roma Laksana Yudha, S.A.P., M.Sos. (Dandim 1315/Kabupaten Gorontalo / Dansatgas TMMD ke-126 Tahun 2025)
DESA adalah akar dari kekuatan bangsa. Di sanalah denyut kehidupan Indonesia berirama antara keringat petani, suara anak sekolah, dan semangat gotong royong yang tak pernah padam. Dari desa pula semangat kemerdekaan tumbuh, dan dari desa pula ketahanan bangsa harus terus diperkuat.
Melalui TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD), semangat membangun dari pinggiran itu hidup kembali. TMMD bukan hanya program kerja, melainkan gerakan sosial dan kebangsaan yang merajut kepercayaan antara TNI dan rakyat. Di Kabupaten Gorontalo, pelaksanaan TMMD ke-126 Tahun 2025 menjadi bukti nyata bagaimana kemanunggalan TNI dan rakyat bertransformasi menjadi kekuatan pembangunan.
Menyapa Tonala: Antara Tantangan dan Harapan
Ketika pertama kali meninjau lokasi di Desa Tonala, Kecamatan Telaga Biru, suasana alam di atas ketinggian wilayah Kab. Gorontalo terasa masih sangat sederhana. Jalan utama berupa tanah berbatu, licin ketika hujan, dan sulit dilalui kendaraan. Air bersih masih menjadi persoalan klasik di musim kemarau. Namun di balik keterbatasan itu, terlihat semangat warga yang luar biasa ramah, terbuka, dan penuh harapan.
TMMD tidak dapat dipandang semata sebagai kegiatan fisik. Ia adalah gerakan moral yang menghadirkan negara di tengah masyarakat. Oleh karena itu, dua fokus utama ditetapkan pembangunan fisik yang menyentuh kebutuhan dasar warga dan pembangunan non-fisik yang menumbuhkan kesadaran sosial serta semangat kebersamaan.
Tujuannya bukan hanya menghadirkan infrastruktur yang lebih baik, tetapi juga menumbuhkan kepercayaan diri masyarakat bahwa mereka mampu maju dengan kekuatan sendiri.
Pekerjaan Fisik: Jalan, Air, dan Rumah Layak
Sasaran utama adalah pembangunan jalan rabat beton sepanjang 1.143 meter di Desa Tonala, sebuah akses vital yang menghubungkan antar dusun serta mempermudah masyarakat membawa hasil pertanian ke pasar. Setiap hari, suara mesin molen berpadu dengan tawa warga, membentuk harmoni kerja bersama yang hangat dan bersahaja.
Selain itu, dibangun pula bak penampungan air bersih untuk menjawab kebutuhan dasar masyarakat. Air yang mengalir di desa bukan hanya memudahkan kehidupan, tetapi juga menumbuhkan rasa syukur dan kebanggaan.
Program ini dilengkapi dengan renovasi rumah tidak layak huni, memberikan tempat yang lebih aman dan sehat bagi keluarga yang membutuhkan. Rumah yang kokoh menjadi simbol martabat dan semangat baru bagi penghuninya.
Pemberdayaan dan Edukasi: Dari Wawasan Kebangsaan hingga Literasi Digital
TMMD juga menjadi wadah untuk memperkuat karakter bangsa di tingkat akar rumput. Beragam kegiatan non-fisik diselenggarakan: penyuluhan wawasan kebangsaan dan bela negara, hukum, kamtibmas, lingkungan hidup, UMKM, pentingnya pendidikan, pertanian, ketahanan pangan, pencegahan stunting, edukasi kesehatan masyarakat, serta literasi digital bagi generasi muda.
Dalam setiap sesi penyuluhan, pesan yang disampaikan sederhana, cinta tanah air dimulai dari hal kecil menghormati perbedaan, menolak provokasi, menjaga harmoni, dan bijak dalam bermedia sosial.
Edukasi kesehatan juga menjadi prioritas penting. Melalui pemeriksaan gratis dan sosialisasi sanitasi, masyarakat desa diajak memahami pentingnya pola hidup bersih dan sehat. Sementara bagi anak muda, literasi digital menjadi bekal untuk menghadapi era informasi tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa yang santun dan beretika.
Huyula: Roh Kebersamaan yang Menghidupkan TMMD
Dalam budaya Gorontalo, dikenal falsafah luhur “Huyula”, yang bermakna gotong royong, saling membantu, dan bekerja bersama demi kepentingan bersama. Nilai ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Gorontalo sejak dahulu kala.
Spirit Huyula itulah yang terasa begitu kuat selama pelaksanaan TMMD. Warga saling menolong tanpa pamrih, menyiapkan bahan bangunan, mendorong arco berisi semen, bahkan mengantar air minum bagi para pekerja. Tidak ada perintah, tidak ada paksaan semuanya digerakkan oleh rasa kebersamaan.
Huyula menjadi bukti bahwa kearifan lokal dan semangat kebangsaan dapat bersatu dalam satu nafas. Ketika nilai lokal yang luhur berpadu dengan semangat pengabdian prajurit, lahirlah kekuatan sosial yang luar biasa: pembangunan yang bukan hanya fisik, tetapi juga spiritual dan kultural.
Dari Hasil ke Makna: Warisan yang Tak Berwujud
Kini jalan yang dulunya sulit dilalui telah berubah menjadi akses vital bagi warga. Air bersih mengalir ke rumah-rumah, dan sejumlah keluarga menikmati rumah yang lebih layak. Namun di atas semua itu, yang paling berharga adalah rasa percaya diri dan semangat kebersamaan yang tumbuh di tengah masyarakat.
Anak-anak kini melangkah ke sekolah dengan senyum di wajah, melintasi jalan hasil kerja gotong royong. Masyarakat merasa memiliki hasil pembangunan ini, karena mereka sendiri turut menanamkan tenaga dan harapan di dalamnya.
TMMD bukan hanya tentang membangun infrastruktur, tetapi membangun karakter bangsa di tingkat desa membangun jiwa sosial, memperkuat rasa persaudaraan, dan menumbuhkan keyakinan bahwa perubahan bisa dimulai dari bawah.
Tantangan, Pembelajaran, dan Harapan
Pelaksanaan TMMD tidak lepas dari tantangan. Kondisi cuaca yang tak menentu, medan yang berat, dan keterbatasan akses logistik menjadi ujian tersendiri. Namun, setiap tantangan justru menghadirkan pembelajaran penting tentang arti ketekunan dan solidaritas.
Kepemimpinan di lapangan menuntut lebih dari sekadar memberi perintah. Seorang pemimpin harus hadir, bekerja, dan menjadi bagian dari solusi.
Melihat prajurit dan warga bergandengan tangan di tengah lumpur, menyelesaikan tugas dengan tawa dan peluh, menghadirkan pelajaran berharga bahwa kekuatan terbesar bangsa ini ada pada kebersamaan.
Harapan terbesar dari pelaksanaan TMMD adalah lahirnya kemandirian desa. Ketika masyarakat merasa memiliki hasil pembangunan dan sanggup menjaganya, maka keberlanjutan akan berjalan dengan sendirinya.
TMMD harus menjadi gerakan yang berlanjut, bukan hanya program tahunan gerakan membangun negeri dari akar rumput, dengan semangat gotong royong dan nilai Huyula sebagai fondasinya.
Jalan Menuju Indonesia yang Lebih Tangguh
TMMD ke-126 di Kabupaten Gorontalo bukan sekadar kegiatan pembangunan. Ia adalah cermin dari semangat kebangsaan yang hidup di tengah rakyat. Jalan yang terbentang di Tonala menjadi simbol perjalanan bangsa menuju kemandirian dan kesejahteraan.
Kemanunggalan antara TNI dan rakyat bukan jargon kosong. Ia terbukti nyata di setiap ayunan cangkul, di setiap adukan semen, dan di setiap tawa yang menyertai proses pembangunan.
Selama semangat itu terus dijaga, desa akan menjadi benteng ketahanan nasional, dan Indonesia akan berdiri semakin tangguh berlandaskan nilai luhur Huyula, gotong royong khas Gorontalo yang kini hidup kembali dalam wajah pembangunan bangsa. (**)








