Oleh : Arfan Nusi
Sambil menunggu keputusan Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nassaruddin Umar, MA, tentang siapa yang akan ia tunjuk menakhodai IAIN Sultan Amai Gorontalo, saya ingin mengambil jeda, menulis tentang sebelas calon rektor itu. Sebenarnya, tanggal 13 Oktober kemarin momen lahirnya rektor baru periode 2025-2029.
Tapi, waktu memilih menunda. Di sela penundaan itu, obrolan lepas terus berputar, baik dalam tatap-tatapan langsung maupun di grup-grup WA. Semuanya mengerucut pada satu pertanyaan yang sama.
“Siapa kira-kira yang akan jadi Rektor IAIN Sultan Amai Gorontalo?”, bahkan beberapa kali saya sendiri mendapat pesan pribadi dari kolega: sapa yang paling kuat, Fan? Sapa kira-kira yang masuk tiga besar? Atau soada bocoran dari Jakarta?
Dari 11 nama calon Rektor itu, membacanya satu per satu bagian dari upaya mengenali figure. Jika terpilih, akan di bawa ke mana IAIN ini. Karena setiap orang punya cara dan jalan pikirannya sendiri. Dari pengalaman dia memimpin di Jurusan, di Wakil Dekan, di Dekan dan di Wakil Rektor, kita bisa menebak bagaimana calon akan menakhodai lembaga besar ini. Baiklah saya mulai dari abjad pertama dan seterusnya:
Pertama, Dr. Adnan. Kalau bicara pengalaman, dia ini lengkap. Dari Wakil Dekan, Dekan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah, Wakil Rektor Tiga, sampai Kepala SPI. Sudah pernah semua. Ibarat kapal, dia sudah pernah jadi anak buah kapal, teknisi mesin, bahkan navigator. Tinggal satu peran yang belum, jadi kapten.
Adnan punya sesuatu yang jarang dimiliki akademisi local. Apalagi kalau bukan relasi nasional. Dia punya akses ke PBNU, ke pejabat Kemenag, bahkan ke beberapa tokoh lintas instansi. Dulu, waktu Imam Nahrawi masih jadi Menteri Pemuda dan Olahraga, Adnan sempat ditunjuk sebagai Koordinator Liga Santri Sulutgo, dan si Menteri sendiri datang langsung ke Gorontalo. Itu bukan hal kecil.
Banyak orang bilang, Adnan ini bukan cuma pintar bahasa Arab dan Inggris, dia juga pintar berdiplomasi. Dia tahu cara bicara yang tepat di ruang pejabat, dia juga bisa menunduk sopan di depan kiai lokal. Dan jangan lupa, dia pernah belajar di Australia dan presentasi di forum internasional. Artinya, pikirannya pernah diuji di luar pagar kampus ini. Kalau soal kapasitas akademik dan jaringan, Adnan salah satu kartu kuat di meja rektorat.
Berikutnya Prof. Ahmad Faisal. Saya masih ingat betul, Profesor Irfan Idris ngomong dihadapan saya, kalau Faisal dulu mahasiswanya yang sangat cerdas dan cepat menangkap ide.
Saya tidak bisa membantah kecerdasan Profesor Faisal, karena kenyataannya dia memang cerdas. Dia sudah doktor di usia yang sangat muda. Faisal ini bukan tipe orang yang suka cari-cari panggung. Tapi kalau bicara, kata-katanya selalu terukur, kalimatnya rapi, seperti ditulis dalam kepala sebelum keluar dari mulut.
Dia pernah jadi Wakil Dekan I di Syariah, lalu Wakil Rektor II, dan sekarang Dekan Fakultas Syariah dan Hukum. Jalurnya jelas. Kalau Dr. Adnan kuat di relasi pusat, Faisal juga sama, kuat juga di pusat.
Sebagai santri, dia punya fondasi moral. Sebagai akademisi, dia punya fondasi metodologis. Kombinasi dua ini langka. Mungkin itu sebabnya banyak orang melihat Faisal sebagai figur yang bisa membawa warna baru di IAIN.
Lalu ada Dr. Andries Kango. Kalau soal bicara di depan publik, orang ini juaranya. Diundang ke mana pun bisa, dari masjid besar sampai tenda hajatan tahlilan tujuh hari, dia tetap punya gaya khas. Santai, tapi isinya memukau. Sekarang dia menjabat Dekan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah. Saya pikir, dari semua dekan yang pernah menjabat, Andries termasuk yang paling kelihatan hasil kerjanya. Fakultas yang dulu sepi peminat, di tangannya jadi hidup lagi. Jumlah mahasiswanya naik drastis, bahkan kini jadi terbanyak kedua setelah Tarbiyah.
Satu hal lagi yang tidak bisa kita lupakan dari Andries. Masjid IAIN Sultan Amai. Di tangannya masjid itu berubah total. Dari hanya bangunan kecil jadi ruang ibadah yang indah dan modern. Itu simbol dari cara dia memimpin. Membangun struktur sekaligus membangun rasa.
Sebagai Wakil Ketua PWNU Gorontalo, Andries punya jejaring sosial-keagamaan yang kuat. Dia juga dikenal mudah bergaul, tapi disiplin kalau soal tanggung jawab. Kalau kampus ini butuh pemimpin yang bisa menyeimbangkan birokrasi dan spiritualitas, mungkin Andries salah satu yang paling dekat dengan formula itu.
Lanjut ke Prof. Arten Mobonggi. Dia ini seperti wajah lama yang tak pernah benar-benar hilang dari panggung Gorontalo. Sejak masih mahasiswa, dia sudah vokal. Dulu, dia termasuk barisan yang ikut memperjuangkan pemisahan Gorontalo dari Sulawesi Utara. Jadi kalau bicara tentang daerah, darahnya sendiri sudah tertulis dengan kata “perjuangan.”
Arten punya modal besar, kemampuan bicara di depan publik. Saya ingat betul dulu hampir setiap debat Pilkada wajahnya sering muncul di TV local Gorontalo, entah itu calon Gubernur, Bupati, atau Wali Kota, dia selalu jadi moderator. Dia tahu cara menjaga suasana, cara bertanya, dan cara mengatur arah diskusi. Itu kemampuan yang tidak semua akademisi punya.
Dalam kariernya, dia sudah melewati banyak posisi. Ketua Jurusan, Wakil Dekan, lalu di luar kampus dipercaya di berbagai panitia seleksi pejabat eselon 2 di daerah. Jaringannya kuat, terutama di kalangan birokrat dan politisi lokal. Kini dia juga aktif di PWNU Gorontalo. Artinya, dia punya posisi yang tidak hanya akademik tapi juga sosial.
Kalau kampus ini ingin lebih dikenal di luar pagar, ingin lebih dekat dengan daerah dan pemerintah, Arten bisa jadi jembatan itu. Dia paham betul medan sosial Gorontalo, karena dia sendiri bagian dari sejarahnya.
Lalu ada Dr. Hasyim Wantu. Saya selalu ingat satu hal tentangnya. Ketika jadi Ketua Panwas Kabupaten Gorontalo, dia pernah menindak beberapa lurah yang melanggar aturan Pilkada. Dan beberapa di antaranya benar-benar berakhir di penjara. Bagi dia ini prinsip, bahwa menjunjung tinggi nilai kebenaran dan kejujuran adalah harga mati.
Hasyim adalah tipe pemimpin yang tak mudah ditekan. Waktu jadi Ketua Bawaslu Provinsi, dia menolak politik uang, menolak kompromi dengan siapapun. Siapapun tahu prinsip dia, Hasyim tidak pusing walau banyak musuh.
Selama jadi dosen dia pernah menjabat Ketua Jurusan Manajemen Pendidikan Islam dan Kepala Pusat di LPM IAIN Sultan Amai. Lagi dan lagi prinsip kebenaran itu ia bawa dalam membangun mutu kampus.
Sebagai tokoh Muhammadiyah, dia juga membawa warna baru dalam peta ideologis kampus yang sering dianggap lebih dekat ke NU. Tapi justru di situ menariknya, keberagaman ini sehat, menandakan IAIN rumah bersama.
Hasyim ini kalau bicara tegas, kadang terdengar keras. Tapi justru karena itu dia dihormati. Dunia akademik butuh orang seperti dia. Hasyim bukan tipe orang yang pandai menyesuaikan arah angin, dia orang yang berani menahan layar ketika badai datang.
Yang berikut Dr. Kamaruddin. Dia kini memang sudah berlabuh di UIN Alauddin Makassar, tapi dari dia mencalonkan diri jadi Rektor IAIN Sultan Amai, saya tahu, hatinya belum benar-benar pergi. Ia masih punya hasrat kuat untuk membangun kampus ini. Ia tahu betul medan IAIN, karena dia pernah jadi Ketua Jurusan Sosiologi Agama dan Wakil Dekan III di Fakultas Ushuluddin dan Dakwah, dan punya jaringan sosial yang cukup luas dengan para petinggi daerah. Misalnya dari beberapa postingan dia di facebook dia dekat dengan Kapolda, Kejati, dan banyak lagi. Bagi kita itu bukan jaringan basa-basi, jaringannya terbentuk dari aktivitas dakwahnya di berbagai instansi. Saya pribadi melihat Kamaruddin ini punya modal sosial yang bagus. Dia pernah jadi aktivis PMII, dan mungkin semangat itulah yang membuatnya tetap yakin bisa membawa IAIN ke arah yang lebih baik, meskipun kini ia sudah di luar pagar.
Kemudian, Dr. Luqmanul Hakiem Adjuna. Ini satu-satunya calon rektor yang paling muda. Tapi jangan salah, muda bukan berarti mentah. Luqman mungkin dipandang sebelah mata, atau mungkin tidak dipandang mata samasekali. Tapi kalau boleh jujur, sudah banyak langkah konkret yang dia torehkan. Ketua jurusan, tapi dia mampu menggandeng beberapa BUMN untuk kerja sama, termasuk Pegadaian Syariah dan beberapa bank milik negara. Satu lagi yang sering luput dari perhatian. Jejaring internasional. Beberapa kali kita perhatikan, dia jadi jembatan komunikasi antara kampus ini dan universitas Islam di Malaysia, Brunei, Thailand bahkan beberapa lembaga pendidikan lain di luar negeri. Luqman mengerjakan itu semua bukan karena disuruh, yang dia lakukan karena dia sadar, kampus IAIN harus hidup di dunia yang lebih luas dari halamannya sendiri.
Jadi, kalau ada yang masih ragu karena usianya yang muda, ingat kalau muda bukan berarti mentah. Ada yang muda tapi matang karena pengalaman, ada pula yang tua tapi gagal. Luqmanul termasuk yang pertama. Banyak mahasiswa dan dosen menjagokan dia, bagi mereka sudah saatnya kampus ini dipimpin oleh energi muda yang hobi bekerja.
Berikut Prof. Muhdar. Kalau yang satu ini, karakternya pendiam tapi kerjaannya jalan. Orang-orang yang pernah satu tim dengannya tahu, dia bukan tipe yang suka menonjolkan diri, tapi setiap tugas yang jatuh di tangannya pasti selesai. Dia punya jam terbang tinggi dalam manajemen kampus, pernah jadi Wakil Dekan di FEBI, dan terbiasa mengurus hal-hal teknis yang sering membuat orang lain pusing. Dalam sistem kerja, Muhdar itu presisi: tertata, efisien, tidak banyak basa-basi. Jangan lupa, dia juga aktif di PWNU. Artinya kampus ini butuh pemimpin yang memahami dunia akademik sekaligus punya akar sosial keorganisasian keagamaan. Muhdar memahami dua-duanya. Jadi, kalau ada yang bilang Prof. Muhdar terlalu tenang untuk jadi rektor, perlu dilihat lagi, bahwa tidak semua yang tenang itu lemah. Ada ketenangan yang lahir dari kematangan. Dan Muhdar adalah jenis ketenangan yang bekerja.
Kemudian, Dr. Najamuddin Pettasolong. Dia tipikal pekerja keras yang tidak suka banyak bicara, tapi hasil kerjanya nyata. Saat ini dia menjabat Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam, dan di bawah kepemimpinannya jurusan itu berhasil meraih akreditasi unggul. Tapi ada satu hal yang membuat sosok ini berbeda. Najamuddin bukan tipe orang yang mudah tunduk hanya karena tekanan jabatan. Ketika dia merasa dizalimi pimpinannya, dia tidak memilih diam. Dia melawan, caranya elegan tapi tegas, polemiknya sampai ke meja Mahkamah Agung. Bagi dia itu bentuk dari sikap moral, bahwa keadilan harus ditegakkan, sekalipun harus berhadapan dengan pimpinannya sendiri. Dia totalitas dalam prinsipnya, dan itu jarang ditemukan di lingkungan birokrasi akademik yang sering lebih memilih aman.
Calon berikut Dr. Sahmin Madinah. Kalau yang satu ini, sudah seperti “ensiklopedia jaringan” Gorontalo. Politisi, birokrat, pengusaha, semuanya kenal dia. Dia termasuk tokoh yang ikut berjuang saat Gorontalo dimekarkan jadi provinsi sendiri bersama rekannya calon Rektor Prof. Arten Mobonggi.
Di pusat, ia punya koneksi dengan banyak pejabat penting. Misalnya Wakil Menteri Agama, Rahmat Gobel, bahkan Menteri Hukum. Dia kini menjabat Wakil Dekan III di Fakultas Ushuluddin dan Dakwah. Kalau bicara soal kapasitas membangun jaringan, kita semua mengakui tidak ada yang menandingi Sahmin. Dia mungkin bukan yang paling akademis, tapi dalam politik kampus, kemampuan menjalin relasi itu sering lebih menentukan arah lembaga daripada sekadar publikasi jurnal.
Terakhir, Dr. Said Subhan Posangi. Nama yang satu ini sudah tidak asing bagi siapa pun yang mengikuti perjalanan kampus IAIN. Dia lahir dari rahim kampus ini, dia pernah menjabat sebagai Wakil Rektor III di era Prof. Kasim Yahiji. Kini dia masih memimpin Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. Alumni UIN Sunan Kalijaga ini dikenal vocal. Vokal dalam artian menyuarakan hal-hal yang sering dihindari orang lain, bukan mencari panggung. Said Subhan punya jaringan yang luas, terutama di Bolaang Mongondow Utara, kampung halamannya. Dia dikenal tokoh pendidik di sana. Hubungan sosial yang dia pelihara itu bukan untuk kepentingan pribadinya, yang dia sasar adalah memperkuat posisi kampus di mata masyarakat BOLMUT. Di bawah kepemimpinannya, dua jurusan, PAI dan MPI berhasil meraih akreditasi unggul. Luar biasa, ini bukti bahwa di balik sikap vokalnya, ada kemampuan manajerial dan visi akademik yang kuat. Ia juga layak memimpin kampus ini.
Dari sebelas nama itu, saya kira semuanya punya peluang dan kapasitas masing-masing. Semua layak. Tapi kalau mau jujur, pekerjaan rumah IAIN Sultan Amai ini bukan cuma soal siapa yang duduk di kursi rektor. Persoalan utamanya ada pada penataan kampus yang belum tuntas. Ruang kuliah memang ada yang bagus, tapi banyak juga yang sudah butuh sentuhan ulang.
Toilet dan fasilitas umum perlu dibenahi. Beberapa gedung sudah rusak tapi belum difungsikan kembali. Dan yang paling penting kepercayaan publik. Kampus ini akan segera bertransformasi menjadi UIN, tapi jangan sampai berubah nama tanpa berubah mutu.
Jumlah mahasiswa menurun pelan-pelan dari tahun ke tahun, dan itu alarm serius. Jangan sampai masyarakat Gorontalo kehilangan kepercayaan pada IAIN karena kita gagal menata rumah sendiri.
Bagi saya dan kita semua, siapapun nanti yang terpilih, tugasnya cuma satu tapi besar. Membuat IAIN kembali punya wibawa. Wibawa akademik, wibawa moral dan wibawa sosial. Karena pada akhirnya, rektor bukan cuma pejabat kampus. Rektor adalah simbol arah peradaban. Dan kita, yang hidup di bawah atapnya, hanya berharap. Semoga nahkoda berikut pandai berlayar dan tahu ke mana kapal ini harus menuju.








