JALAN panjang perjuangan transformasi IAIN menjadi UIN Sultan Amai Gorontalo selangkah lagi bakal terwujud. Proses ini tak lepas dari peran para pemimpin yang mengawal langkah demi langkah. Perjuangan dirintis di masa Rektor Dr. Lahaji, M.Ag (periode 2017-2021), memulai melalui penguatan kelembagaan. Upaya tersebut dilanjutkan dan dimatangkan pada masa Rektor Rektor Prof. Dr. H. Zulkarnain Suleman, M.HI. (periode 2021–2025), hingga berhasil menuntaskan tahap verifikasi akhir hingga dinyatakan layak KemenPAN-RB. Kini, di bawah kepemimpinan Rektor Prof. Dr. Ahmad Faisal, M.Ag. (periode 2025–2029), perjuangan tersebut tinggal menunggu realisasi resmi menjadi UIN Sultan Amai Gorontalo. Sebuah perjalanan berliku yang akhirnya mendekati titik terang.
Di penghujung 2024, terbit dua surat kunci dari Menteri Agama: Nomor B-315/MA/OT.00/09/2024 tanggal 26 September 2024 dan Nomor B-411/MA/OT.00/12/2024 tanggal 11 Desember 2024. Keduanya menguatkan izin penyusunan Rancangan Perpres terkait tiga perguruan tinggi keagamaan negeri, termasuk IAIN Sultan Amai Gorontalo.
Hasil verifikasi dan validasi dari KemenPAN-RB, alih status IAIN menjadi UIN Sultan Amai Gorontalo dinyatakan memenuhi kriteria dan layak. Hilal alih status ini semakin jelas di penghujung 2025, tepatnya tanggal 17 Oktober 2025 terbit surat MenPAN-RB kepada Presiden Republik Indonesia tentang Permohonan Izin Prakarsa Penyusunan Rancangan Peraturan Presiden mengenai 3 (tiga) Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri: 1) IAIN Sultan Amai Gorontalo menjadi UIN Sultan Amai Gorontalo; IAIN Kendari menjadi UIN Kendari; dan 3) STABN Sriwijaya Tangerang menjadi IABN Sriwijaya Tangerang.
Berbagai persiapan telah dilakukan demi menyonsong transformasi tersebut. Dari pematangan visi-misi, re-branding dengan tagline SMART, hingga sayembara logo transformasi IAIN Sultan Amai Gorontalo menuju UIN Sultan Amai Gorontalo. Pertanyaan yang tak kalah penting justru, apa paradigma keilmuan UIN Sultan Amai Gorontalo?
Ilmu sebagai Mahkota di Puncak Peradaban
Sayembara desain logo transformasi IAIN Sultan Amai Gorontalo menuju UIN Sultan Amai Gorontalo telah usai. Hasil telah diumumkan. Keputusan juri memilih logo terbaik pastinya sudah melalui berbagai pertimbangan. Pertimbangan juknis sudah pasti, intinya kesesuaian dengan kerarifan lokal Gorontalo sebagai serambi madinah dan visi institusi. Tulisan ini tidak hendak mengomentari atau mengikritisi logo terpilih. Keputusan juri sepertinya sudah mutlak. Tulisan ini, justru terinspirasi dari salah satu logo yang meski tidak masuk kategori terbaik, tapi menarik dikaji lebih dalam.
Perhatian saya tertuju pada logo yang diusulkan Dr. Andries Kango dalam lomba desain logo tersebut. Ia mengusulkan konsep “Makuta” dalam desainnya. Bagi saya, konsep ini justru membuka ruang dialog tentang identitas keilmuan yang berakar pada kearifan lokal Gorontalo. Konsep Makuta pada bagian logo tersebut saya perkaya pada tulisan ini. Saya ingin menambahkannya menjadi: “Makuta Ilmu”, mahkota keilmuan. Tentunya ini lebih dari sekadar simbol visual, Paradigma “Makuta Ilmu” melalui tulisan ini ingin saya tawarkan menjadi paradigma keilmuan bagi UIN Sultan Amai Gorontalo pasca transformasi.
Makuta, mahkota tradisional Gorontalo, dipakai pria dalam upacara adat atau tradisi pernikahan. Makuta melambangkan kewibawaan, status sosial dan kehormatan dalam masyarakat Gorontalo (Permana dkk., 2024). Ketika menjadi “Makuta Ilmu” makna filosofisnya justru semakin mendalam: ilmu selayaknya dijunjung tinggi di tempat paling terhormat, sebagaimana mahkota yang bertahta di puncak kepala. Ini bukan sekadar metafora, melainkan cerminan nilai-nilai luhur yang telah mengakar dalam tradisi intelektual masyarakat Gorontalo. Dari sini paradigma “Makuta Ilmu” justru menempatkan ilmu pengetahuan sebagai puncak peradaban yang harus diraih dengan penuh kehormatan dan tanggung jawab.
Konsep ini selaras dengan tagline SMART yang belakangan diusung UIN Sultan Amai Gorontalo sebagai branding membangun citra baru. Ditopang paradigma ini, tagline SMART tidak sekadar menjadi akronim Sultan Amai Gorontalo, tetapi menjadi representasi kecerdasan holistik: cerdas intelektual yang menguasai ilmu pengetahuan, cerdas emosional yang mampu mengelola relasi kemanusiaan, dan cerdas spiritual yang kokoh dalam nilai-nilai ketuhanan. Ketiganya adalah pilar yang menopang mahkota ilmu di puncak kepala.
Paradigma Ilmu: Keniscayaan Transformasi IAIN Menuju UIN
Sejatinya transformasi dari IAIN menuju UIN bukan sekadar perubahan nama dan status. Sebuah keniscayaan dalam transformasi menjadi UIN adalah loncatan paradigma. Lahirnya paradigma keilmuan baru bukan sekadar pelengkap administrasi, justru menjadi roh dan identitas akademik institusi. Setiap UIN yang lahir dari transformasi IAIN pada dasarnya dituntut untuk merumuskan kerangka epistemologis yang khas sebagai respons terhadap tantangan integrasi keilmuan Islam dengan sains modern dan kearifan lokal.
Hal ini bukanlah barang baru di jagad PTKIN. Sejak transformasi menjadi UIN, beberapa UIN telah merumuskan paradigma keilmuan sebagai fondasi transformasinya. UIN Jakarta mengusung paradigma “Integrasi Ilmu”, UIN Sunan Kalijaga mengusung Paradigma “Integrasi Ilmu-Interkoneksi” dengan simbol “Jaring Laba-Laba Ilmu Pengetahuan”, namun kini diperkaya lagi dengan paradigma Eco-Socio-Psycho-Religio-Technic (ESPRT). UIN Sunan Ampel Surabaya merumuskan paradigma “Integrated Twin Towers”, menara kembar yang terintegrasi.
Beberapa PTKIN juga merumuskan paradigma keilmuan khas mereka: UIN Walisongo dengan “Kesatuan Ilmu”, UIN Sunan Gunung Djati Bandung dengan “Wahyu Memandu Ilmu”, UIN Raden Intan Lampung dengan “Model Bahtera Ilmu Integratif-Prismatik”, UIN Mataram dengan “Horizon Ilmu”, UIN Sultan Syarif Kasim Riau dengan “Spiral Andromeda”, UIN Ar-Raniry Banda Aceh dengan “Frikatifikasi”, UIN Sumatera Utara dengan “Wahdatul Ulum” , UIN Imam Bonjol Padang dengan “Heksagonal”, UIN Palembang dengan “Rumah Ilmu”, UIN Surakarta dengan “Gunungan Ilmu”, UIN Alauddin Makassar dengan konsep Sel-Cemara Keilmuan, dan masih banyak lagi.
Kelahiran paradigma tersebut berangkat dari kesadaran bahwa tanpa paradigma yang jelas, transformasi hanya akan jadi perubahan administratif belaka. Ilmu tak punya jiwa, identitas mudah tergerus, dan visi keilmuan mengambang tanpa pijakan lokal yang kuat. Paradigma keilmuan menjadi trademark akademik yang membedakan satu UIN dengan UIN lainnya, sekaligus menjadi fondasi bagi pengembangan kurikulum, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Dalam konteks inilah, paradigma “Makuta Ilmu” yang berakar pada kearifan lokal Gorontalo memiliki urgensi strategis bagi UIN Sultan Amai Gorontalo. Paradigma ini bukan sekadar imitasi dari paradigma UIN lain, melainkan respons autentik terhadap kebutuhan epistemologis yang khas. “Makuta Ilmu” menjadi manifestasi dari falsafah Adati hulo-hulo to sara’a, sara’a hula-hula to Qur’ani yang menjadi identitas intelektual masyarakat Gorontalo.
Tiga Pilar Ilmu Berperadaban
Keunikan paradigma “Makuta Ilmu” juga terletak pada struktur tiga pilarnya yang merepresentasikan Buatulo Toulongo (tiga pilar keadaban) khas Gorontalo. Pilar tengah melambangkan Buatulo Syara’a (Ulama), pilar kanan Buatulo Bate (Adat), dan pilar kiri Buatulo Bobato (Pemerintah). Ketiga pilar ini bukan entitas yang berdiri sendiri, melainkan saling menopang dalam harmoni yang utuh dalam struktur pemerintahan lokal masyarakat Gorontalo.
Konsep tiga pilar ini sejatinya mencerminkan epistemologi integratif yang lengkap: teo-antropo-kosmosentris. Dalam studi keilmuan modern, integrasi ketiga orientasi ini menjadi keniscayaan bagi perguruan tinggi Islam yang ingin menjawab tantangan zaman. Sebagaimana dalam konsep Gunungan Ilmu IAIN Surakarta, paradigma keilmuan yang kokoh harus memuat integrasi antara keilmuan ketuhanan, kemanusiaan, dan kealaman (Suharto dkk., 2017).
Dalam konteks Gorontalo, integrasi ini diejawantahkan melalui falsafah “Adati hulo-hulo to sara’a, sara’a hula-hula to Qur’ani” (Adat bersendikan syariat, syariat bersendikan Al-Qur’an). Falsafah ini bukan hierarki yang rigid, melainkan relasi dialektis yang dinamis. Adat (adati) mewakili dimensi antroposentris yang berorientasi pada budaya dan nilai-nilai kemanusiaan lokal. Syariat (syara’) mewakili dimensi kosmosentris yang berorientasi pada sains, keilmuan empiris, dan hukum-hukum alam semesta. Sedangkan Al-Qur’an mewakili dimensi teosentris yang berbasis pada wahyu dan keilmuan agama.
Epistemologi Integratif: Menghubungkan Langit, Bumi, dan Manusia
Paradigma “Makuta Ilmu” menawarkan kerangka epistemologis yang komprehensif. Dalam perspektif filsafat ilmu, sebuah paradigma harus memuat tiga aspek fundamental: ontologi (apa yang dikaji), epistemologi (bagaimana mengkajinya), dan aksiologi (untuk apa dikaji). Suharto, dkk. (2017) menjelaskan bahwa paradigma keilmuan harus mencakup asumsi dasar, objek kajian, dan konsep dasar sebagai aspek ontologis; model kajian, metode kajian, serta analisis kajian sebagai aspek epistemologis; dan nilai dasar, hasil kajian, serta representasi kajian sebagai aspek aksiologis.
Dalam “Makuta Ilmu”, dimensi teosentris (Qur’ani) sebagai pilar utama/tengah, menjadi fondasi nilai yang memberikan arah moral dan spiritual bagi pengembangan ilmu. Dimensi kosmosentris (sara’) sebagai pilar sebelah kiri, menjadi medan eksplorasi rasional-empiris terhadap fenomena alam dan sosial. Sementara dimensi antroposentris (adati) sebagai pilar sebelah kanan, menjadi konteks di mana ilmu pengetahuan diaktualisasikan sesuai dengan karakter lokal dan kebutuhan masyarakat.
Integrasi ketiga dimensi ini tujuannya untuk menghindari dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum yang selama ini menjadi persoalan klasik di perguruan tinggi Islam. “Makuta Ilmu” menawarkan sintesis di mana ilmu-ilmu keislaman, sains dan teknologi, serta sosial-humaniora dan budaya berdialog dalam kerangka yang saling memperkaya, bukan saling menafikan hingga menegasikan.
Senafas dengan Visi UIN SMART 2025-2029
Paradigma “Makuta Ilmu” bukan sekadar konstruksi teoretis yang jauh dari realitas kelembagaan. Ia justru sangat relevan dengan visi UIN SMART yang tengah digagas: “Unggul dan berdaya saing global dalam studi Islam, sains, dan budaya berbasis peradaban.” Visi ini memuat tiga domain keilmuan yang persis sama dengan tiga pilar dalam “Makuta Ilmu”: studi Islam (teosentris), sains (kosmosentris), dan budaya (antroposentris).
Keunggulan paradigma “Makuta Ilmu” terletak pada kemampuannya menggali identitas lokal sebagai basis epistemologi yang kuat. Dalam era globalisasi yang sering mengancam identitas lokal, UIN Sultan Amai Gorontalo justru dapat tampil percaya diri dengan paradigma yang berakar pada kearifan lokal namun terbuka terhadap dialog global. Seperti yang ditegaskan Suharto, dkk. (2017), paradigma keilmuan yang baik adalah yang mampu melahirkan profil lulusan dengan nilai-nilai inti (core values) yang jelas dan terukur.
Dari Konsep Menuju Implementasi
Tentu saja, menjadikan “Makuta Ilmu” sebagai paradigma keilmuan UIN Sultan Amai Gorontalo memerlukan elaborasi lebih lanjut. Konsep ini masih perlu dikritisi dan disempurnakan. Namun yang pasti, konsep ini sebagai upaya merumuskan paradigma UIN Sultan Amai Gorontalo yang berakar pada identitas kulturalnya.
Selanjutnya, dalam proses aktualisasi dan implementasi, pastinya setiap fakultas perlu menerjemahkan paradigma ini sesuai dengan karakteristik keilmuannya masing-masing. Fakultas Ushuluddin dapat mengkaji bagaimana teologi Islam berinteraksi dengan kosmologi lokal. Fakultas Syariah dapat mengeksplorasi bagaimana hukum Islam berdialog dengan hukum adat Gorontalo. Fakultas Tarbiyah dapat mengembangkan model pendidikan yang mengintegrasikan ketiga dimensi tersebut. Fakultas Ekonomi dan Bisnis dapat mengkaji bagaimana sistem ekonomi dan bisnis Islam dapat berintegrasi dengan kearifan lokal.
Lebih penting lagi, rancangan kurikulum perlu didesain sedemikian rupa agar mahasiswa tidak hanya menguasai teori, tetapi juga mampu mengaktualisasikan ilmu dalam konteks sosial-budaya Gorontalo. Penelitian dan pengabdian masyarakat juga demikian, harus menjadi wahana untuk menguji dan memperkuat paradigma ini dalam praktik nyata.
Penutup
“Makuta Ilmu” adalah tawaran paradigma keilmuan yang autentik, berakar pada kearifan lokal Gorontalo namun terbuka pada dialog global. Paradigm ini ditawarkan sebagai jalan menempatkan ilmu pengetahuan di posisi terhormat, dijunjung sebagai mahkota peradaban yang dibangun atas tiga pilar: ketuhanan, kemanusiaan, dan kealaman. Pilar ini melengkapi tiga nilai: keislaman, kemodernan, dan keindonesiaan. Paradigma ini bukan hanya relevan secara filosofis, tetapi juga operasional dalam mewujudkan visi UIN SMART yang unggul dan berdaya saing.
Saatnya UIN Sultan Amai Gorontalo tampil dengan identitas keilmuan yang kuat, yang tidak hanya mengikuti tetapi juga memberikan kontribusi orisinal bagi khazanah epistemologi perguruan tinggi Islam di Indonesia dan kawasan Timur Indonesia khususnya. Makuta sebagai filosofi lokal telah tersedia, kini tinggal bagaimana kita bersama-sama menjunjungnya dengan penuh tanggung jawab dan kebanggaan. Tabe! (*)








