TANGGAL 21 Januari 2026 terasa seperti garis finis dari rangkaian persiapan panjang pelepasan mahasiswa KKS-T IAIN SMART. Sejak beberapa hari sebelumnya, panitia sudah penuh dengan ritme.
Rapat, pembagian tugas, koordinasi transportasi, komunikasi dengan desa, sampai memastikan rangkaian acara di lokasi berjalan lancar.
Pagi itu, semua bergerak cepat. Panitia bergerak lebih awal menuju Gorontalo Utara. Para Dosen Pembimbing Lapangan juga mulai bersiap. Para peserta KKS-T pun tampak antusias. Banyak yang sudah menyiapkan perlengkapan sejak malam. Memang ada sebagian kecil yang masih menyimpan ganjalan soal penempatan lokasi di desa pilihan panitia, tapi semangat bersama jauh lebih kuat.
Saya sendiri dan lainnya berangkat sejak pagi. Pukul 06.30, rombongan pertama panitia berangkat menuju Gorontalo Utara. Kami sengaja berangkat lebih dulu, karena di lokasi sudah ada rangkaian pekerjaan yang harus selesai sebelum rombongan besar mahasiswa tiba.
Titik kegiatan berada di Masjid Jabal Iqro, masjid yang masih satu kompleks dengan pusat pemerintahan. Kabar yang saya terima, staf dan pimpinan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa sudah menyiapkan banyak hal. Pemangkasan rumput, pembenahan area halaman, serta persiapan untuk penanaman 25 bibit pohon. Bagi saya, itu tanda kuat bahwa dukungan dari pemerintah daerah benar-benar luar biasa.
Dalam perjalanan, fokus saya terbagi. Satu sisi, saya memastikan rombongan panitia pertama bisa tiba cepat dan langsung bekerja. Sisi lain, saya memantau kesiapan di Limboto, tepatnya di Kampus 2 IAIN SMART. Dari sana, rombongan besar mahasiswa akan diberangkatkan memakai angkot mikrolet yang sudah kami siapkan. Totalnya sekitar 60 angkot untuk mengangkut lebih dari 500 mahasiswa menuju Gorontalo Utara. Angka itu banyak, dan kalau ada satu simpul saja yang terlepas, dampaknya bisa berantai.
Saat memantau grup KKS-T, saya melihat beberapa angkot mikrolet belum juga tiba di kampus. Informasi itu cepat mengundang pertanyaan dari mahasiswa dan Dosen Pembimbing. Saya langsung menghubungi koordinator sopir mikrolet. Rupanya ada kendala yang cukup masuk akal. Koordinator kebingungan menentukan mahasiswa mana naik angkot yang menuju desa tertentu. Dengan peserta ratusan orang dan puluhan desa tujuan, kebingungan semacam itu wajar. Tapi, urusan seperti ini harus cepat beres.
Syukurnya, panitia di kampus 2 sudah bergerak cepat. Mereka menyiapkan tulisan penanda untuk ditempel di setiap mobil, sehingga rute dan tujuan angkot jelas. Desa A, desa B, desa C, dan seterusnya. Begitu penanda itu ditempel, koordinasi langsung cepat. Sopir paham, mahasiswa juga paham. Situasi yang sempat tegang perlahan longgar.
Pukul 07.50, rombongan kami tiba di Gorontalo Utara, tepatnya di halaman Masjid Jabal Iqro. Begitu turun dari mobil, pemandangan yang saya lihat langsung menguatkan perasaan tadi. Puluhan orang sudah bekerja. Ada yang memangkas rumput, ada yang mengepel lantai masjid yang luas, ada yang memasang baliho, ada pula yang menggali lubang untuk penanaman bibit pohon.
Yang membuat saya benar-benar terkesan, para pimpinan ikut turun tangan. Kepala Bidang, Sekretaris Dinas, sampai Kepala Dinas Pemdes terlihat bekerja bersama. Pagi itu, kerja gotong royong terasa satu tim. Kami pun langsung mengambil bagian, membantu sebisa mungkin, karena semua paham waktu berjalan cepat.
Di tengah kesibukan lapangan, ponsel saya terus bergetar. Pesan WhatsApp masuk bertubi-tubi. Ada yang lewat grup, ada yang masuk pribadi. Pengirimnya beragam. Dosen Pembimbing Lapangan, mahasiswa dan panitia. Saya memilih satu pola kerja. Saya baca cepat, saya pilah, lalu saya selesaikan satu per satu. Kalau ada yang bisa diputuskan langsung, saya jawab langsung. Kalau perlu koordinasi pihak lain, saya sambungkan. Saya sengaja menjaga ritme itu agar persoalan kecil tidak menumpuk dan berubah jadi masalah besar.
Salah satu persoalan yang paling sering muncul pagi itu berkaitan dengan komunikasi antara Dosen Pembimbing dan aparat desa lokasi KKS-T.
Beberapa Dosen Pembimbing mengabarkan pesan mereka belum dibalas Kepala Desa, masih centang satu. Ada juga yang menyampaikan nomor kontak aparat desa sulit dihubungi. Saya melihat daftar desa yang belum memberi kepastian, jumlahnya sekitar delapan desa. Situasi seperti ini kalau dibiarkan bisa menimbulkan masalah nanti. Peserta sudah bergerak, pembimbing sudah bergerak, tapi pintu komunikasi desa belum terbuka.
Saya lalu meminta bantuan secara langsung kepada Pak Tamrin selaku Kepala Dinas Pemdes, juga kepada Ibu Susanti selaku Sekretaris Dinas Pemdes.
Saya sampaikan kondisi di lapangan dengan jelas. Ada beberapa desa yang belum merespons, dan kami perlu kepastian cepat agar penempatan mahasiswa rapi. Respons Pak Kadis dan Ibu Sekdis cepat. Berkat dukungan dan relasi kuasa mereka, persoalan komunikasi dengan para Kepala Desa itu selesai, ternyata ada beberapa nomor WA Kepala Desa sudah diganti. Setelah itu, satu per satu desa mulai memberi kabar, koordinasi mulai lancar. Saya sendiri merasa sangat terbantu, karena di momen seperti ini, dukungan lembaga pemerintah daerah sangat menentukan.
Sebenarnya, dukungan itu sudah terasa jauh sebelum hari pelepasan. Dinas Pemdes memberi support kuat atas arahan Bupati Thariq Modanggu.
Sebelumnya, Dinas Pemdes memfasilitasi pertemuan LP2M IAIN SMART dengan sekitar 60 kepala desa. Pertemuan itu menjadi fondasi penting, karena dari sana pola penerimaan mahasiswa, kebutuhan desa, serta mekanisme koordinasi bisa dibicarakan sejak awal. Bahkan mendekati hari-H, komunikasi saya dengan Pak Kadis, Ibu Sekdis, dan Ibu Salva berjalan sangat intens. Kadang lewat tengah malam, saya masih bertukar pesan untuk memastikan detail teknis tidak ada yang terlewat.
Di tengah pekerjaan di masjid, ada momen penting lain. Ponsel saya berdering, dan saat saya lihat, yang menelepon Prof. Arten Mobonggi, Dekan FITK. Beliau menyampaikan bahwa beliau bersama Rektor Prof. Ahmad Faisal sudah tiba di kantor Bupati. Saya langsung merespons cepat. Saya sampaikan agar rombongan langsung menuju ruangan Bupati.
Setelah itu, saya menghubungi Pak Dadang, ajudan Bupati, untuk memastikan informasi itu sampai dan alur penerimaan tamu berjalan. Pak Dadang menyampaikan bahwa Bupati baru selesai giat “gebrek sampah” dan sedang bersiap menuju rumah dinas untuk bersih-bersih sebelum kembali ke kantor.
Saya segera menuju kantor Bupati. Sebelum berangkat, saya juga menyampaikan kepada Kadis Pemdes agar lebih dulu ke kantor Bupati untuk mendampingi Rektor, karena posisi Kadis dan jajaran Pemdes memang menjadi jembatan yang kuat antara kampus dan pemerintah daerah. Bagi saya, pendampingan seperti itu bukan formalitas. Itu bagian dari etika kerja sama, serta bagian dari memastikan kegiatan kampus berjalan selaras dengan agenda daerah.
Di ruangan Bupati, rombongan pimpinan IAIN SMART sudah lengkap. Hadir Pak Herson, Wakil Rektor 1. Hadir Prof. Rusli, Wakil Rektor 2. Hadir Pak Sahmin Madinah, Wakil Rektor 3. Ada Kepala Biro AUAK, Faridah Napu. Ada Prof. Arten, Dekan FITK. Hadir juga Prof. Sofyan Kau, Dekan Syariah; Prof. Muhdar, Dekan FEBI; serta Andi Jufri, Dekan FUD.
Tak lama kemudian, Bupati Gorontalo Utara tiba di ruangan. Suasana makin cair. Dalam perbincangan itu, Rektor menyampaikan niat kampus untuk meminta Bupati berkenan menjadi Dewan Penyantun IAIN, sejalan dengan arah transformasi kampus yang dalam waktu dekat berproses menuju UIN SMART. Saya menangkap nuansa pembicaraan itu.
Ada semangat kolaborasi, ada harapan besar, ada perhatian terhadap masa depan pendidikan dan pengabdian masyarakat. Di saat yang sama, saya tetap memantau perkembangan di masjid melalui grup. Saya terus berkomunikasi dengan Ibu Asna Dilo yang ada di lapangan masjid untuk memastikan kesiapan mahasiswa, kesiapan tempat, dan kesiapan waktu kedatangan rombongan Bupati dan Rektor.
Setelah rangkaian di kantor Bupati selesai, kami bergerak menuju Masjid Jabal Iqro untuk acara pelepasan. Ada momen menarik saat keberangkatan.
Rektor diajak bersama Bupati menggunakan mobil dinas Bupati. Mobil Rektor, DM 16, justru kosong. Akhirnya saya naik mobil itu. Dalam perjalanan singkat itu, pikiran saya fokus pada satu hal. Semoga semua sudah siap, semoga mahasiswa sudah tertib, semoga acara berjalan lancar dari awal sampai akhir.
Setiba di masjid, pemandangan yang saya lihat membuat hati terasa hangat. Ratusan mahasiswa dan para Dosen Pembimbing Lapangan sudah siap.
Mereka sudah berada di dalam masjid. Acara dipandu oleh MC Fitri Ayu, yang membawa suasana tetap tertib dan hidup. Laporan pertama disampaikan Ketua LP2M, Nova Effenty. Setelah itu, sambutan Rektor IAIN SMART, Prof. Ahmad Faisal, menguatkan arah dan semangat pengabdian mahasiswa. Lalu sambutan Bupati sekaligus melepas kegiatan KKS-T.
Hadir pula Sekda, jajaran OPD, camat, para kepala desa, para wakil rektor, para dekan, para Dosen Pembimbing, dan seluruh mahasiswa KKS-T.
Setelah pelepasan resmi selesai, acara berlanjut ke penanaman 25 bibit pohon. Bupati, Rektor, Sekda, para wakil rektor, dan para Kepala Dinas ikut menanam. Rangkaian berikutnya adalah launching “Masjid Syurga Dunia” serta “Kebun Surga Akhirat”, ditandai dengan pelepasan balon KKS-T.
Momen itu tampak meriah. Balon naik, mata banyak orang mengikuti ke langit. Sesudahnya, rombongan bergerak ke ruangan kantor Bupati untuk jamuan makan siang. Sementara itu, para peserta KKS-T bersama DPL mulai menuju desa masing-masing. Pada titik itu, fase pelepasan selesai, dan fase pengabdian lapangan dimulai.
Di akhir hari, yang tersisa dalam kepala saya adalah rasa syukur dan rasa terima kasih yang tak terhingga. Atas nama IAIN SMART, saya menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada Bupati Gorontalo Utara yang mendukung penuh kegiatan KKS-T ini.
Terima kasih juga kepada Kepala Dinas Pemdes, Pak Tamrin, yang banyak kami repotkan dengan koordinasi cepat, penyesuaian teknis, serta komunikasi lintas desa. Terima kasih kepada Ibu Sekretaris Dinas Pemdes yang selalu responsif, selalu siap membantu, dan selalu hadir dalam detail kecil yang sering luput dari perhatian banyak orang. Terima kasih kepada Ibu Salva yang juga terus membantu komunikasi dan kelancaran lapangan. Terima kasih kepada Kadis Pertanian yang aktif berkomunikasi terkait bibit dan dukungan penanaman pohon. Terima kasih kepada Kabag Protokoler yang saya hubungi berkali-kali untuk memastikan alur acara rapi. Terima kasih juga kepada ajudan Bupati, yang sigap menjembatani informasi dan waktu.








