No Result
View All Result
gopos.id
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • INFOGRAFIS
    • Info Pasar
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Pohuwato
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Boalemo
    • Kotamobagu
    • Bolmut
    • Kota Smart
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • INFOGRAFIS
    • Info Pasar
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Pohuwato
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Boalemo
    • Kotamobagu
    • Bolmut
    • Kota Smart
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi
No Result
View All Result
No Result
View All Result
gopos.id

Dorong Kampus Aman dan Berkeadilan, Mahasiswa UNBITA Respons Kasus Kekerasan Seksual UI

Ramos by Ramos
Kamis 16 April 2026
in Universitas Bina Taruna
0
Screenshot

Screenshot

0
SHARES
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

GOPOS.ID, GORONTALO– Kasus dugaan kekerasan seksual yang melibatkan 16 mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia memantik kritik serius terhadap wajah keamanan dan etika di lingkungan perguruan tinggi. Fakta bahwa dugaan pelecehan muncul dari ruang percakapan internal mahasiswa menunjukkan bahwa persoalan kekerasan seksual tidak lagi sekadar insiden individual, melainkan telah berakar pada budaya komunikasi yang problematik dan permisif terhadap objektifikasi serta pelecehan.

Menanggapi hal tersebut, Fasilitator VOICE sekaligus Mahasiswa Berprestasi Universitas Bina Taruna Gorontalo, Rahmadia Oktaviani Ladawing, menilai bahwa kasus ini tidak bisa dilihat sebagai kejadian sporadis, tetapi sebagai indikator kegagalan sistemik dalam membangun kesadaran dan perlindungan di ruang akademik.

“Kasus ini memperlihatkan bahwa ruang kampus belum sepenuhnya aman. Ketika percakapan bernuansa seksual yang merendahkan bisa berlangsung dalam ruang kolektif tanpa kontrol, itu menunjukkan adanya normalisasi yang berbahaya,” tegasnya.

Ia mengkritik kecenderungan sebagian lingkungan kampus yang masih memandang kekerasan seksual, terutama dalam bentuk verbal dan digital, sebagai hal yang tidak serius, padahal dampaknya sama destruktifnya terhadap korban.

“Masalahnya bukan hanya pada tindakan, tetapi pada budaya yang membiarkan itu terjadi. Selama ini, kekerasan non-fisik sering diremehkan, padahal justru menjadi pintu masuk bagi bentuk kekerasan yang lebih besar,” lanjutnya.

Baca Juga :  Bangun Gedung Baru Pascasarjana, UNBITA Libatkan Mahasiswa Teknik

Rahmadia juga menyoroti bahwa respons kelembagaan di banyak kampus sering kali masih bersifat reaktif dan administratif, belum menyentuh akar persoalan yang lebih dalam, yaitu perubahan budaya dan pola pikir.

“Banyak kampus baru bergerak setelah kasus mencuat. Ini menunjukkan bahwa sistem pencegahan belum berjalan optimal dan belum menjadi prioritas,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa keberadaan satuan tugas pencegahan dan penanganan kekerasan seksual tidak boleh hanya menjadi simbol kebijakan, tetapi harus benar-benar berfungsi sebagai mekanisme yang efektif dan berpihak pada korban.

“Satgas tidak boleh hanya hadir di atas kertas. Harus ada keberanian institusi untuk bertindak tegas, transparan, dan berpihak penuh pada korban, bukan sekadar menjaga citra,” jelasnya.

Lebih jauh, Rahmadia menilai bahwa pendidikan di perguruan tinggi belum sepenuhnya mengintegrasikan perspektif keadilan gender dan perlindungan hak asasi manusia secara substantif dalam proses pembelajaran.

“Selama isu ini hanya ditempatkan sebagai materi tambahan, bukan sebagai nilai dasar, maka perubahan yang diharapkan tidak akan terjadi secara sistemik,” ungkapnya.

Baca Juga :  Taruna/i SMK Bina Taruna Gorontalo Berbagi Takjil di Bulan Ramadan

Ia juga menggarisbawahi pentingnya peran mahasiswa sebagai agen perubahan yang tidak hanya pasif menerima kebijakan, tetapi aktif mengkritisi dan membangun budaya kampus yang sehat.

“Mahasiswa harus berani bersuara dan tidak ikut menjadi bagian dari budaya yang membenarkan kekerasan, sekecil apa pun bentuknya,” tegasnya.

Dalam konteks yang lebih luas, Rahmadia menilai bahwa kasus ini harus menjadi momentum nasional untuk mengevaluasi ulang sistem perlindungan di perguruan tinggi, termasuk standar penanganan, edukasi, serta mekanisme pengawasan.

“Jika kasus seperti ini terus berulang, maka yang perlu dipertanyakan bukan hanya pelakunya, tetapi sistem yang gagal mencegahnya,” katanya.

Menutup pernyataannya, Rahmadia menekankan bahwa kampus harus berani melakukan pembenahan menyeluruh, bukan hanya pada aspek regulasi, tetapi juga pada budaya internal yang selama ini cenderung permisif.

“Kampus yang aman dan berkeadilan tidak dibangun dari slogan, tetapi dari keberanian untuk mengakui masalah dan melakukan perubahan secara nyata,” pungkasnya (Rama/Gopos)

Tags: Kasus Kekerasan SeksualMahasiswa UNBITAUNBITA
Previous Post

Polda Serahkan Konten Kreator ZH ke Kejaksaan Negeri Kabupaten Gorontalo

Next Post

Tingkatkan Pelayanan, RSUD Hasri Ainun Habibie Lakukan Penilaian Potensi Pegawai

Related Posts

Universitas Bina Taruna

Riset Mahasiswa UNBITA Jadi Masukan BPBD, Petakan Kerentanan Banjir di Dumbo Raya

Sabtu 6 Juni 2026
Kampus UNBITA Gorontalo.(F. Rama/Gopos)
Universitas Bina Taruna

Mengabdi untuk Negeri, Mahasiswa UNBITA Siap Wujudkan Program Pemberdayaan di Kota Gorontalo

Rabu 3 Juni 2026
Universitas Bina Taruna

UNBITA Matangkan Kualitas Pendidikan Lewat Visitasi Akreditasi Hukum Bisnis

Rabu 13 Mei 2026
Universitas Bina Taruna

Sinergi Baru UNBITA dan Kemenkum Gorontalo, Kampus Siapkan Ekosistem Kekayaan Intelektual

Rabu 13 Mei 2026
Universitas Bina Taruna

UNBITA dan Polda Gorontalo Bergerak Lawan Judi Online di Kalangan Mahasiswa

Selasa 12 Mei 2026
Universitas Bina Taruna

Cetak Mahasiswa Kompetitif, UNBITA Tampil Percaya Diri di PILMAPRES 2026

Selasa 12 Mei 2026
Next Post
Penilaian Potensi UPTD RSUD dr. Hasri Ainun Habibie. (Foto: Istimewa)

Tingkatkan Pelayanan, RSUD Hasri Ainun Habibie Lakukan Penilaian Potensi Pegawai

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

  • SIM Digital Resmi Hadir, Ini Langkah Mudah Aktivasi Lewat HP

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Riset Mahasiswa UNBITA Jadi Masukan BPBD, Petakan Kerentanan Banjir di Dumbo Raya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Polresta Gorontalo Kota Sita 13 Unit Kendaraan Diduga Terlibat Balap Liar 

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemprov Gorontalo Terus Perkuat Sektor Peternakan dan Perkebunan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bantuan Pertanian Jember Tembus Rp312 Miliar, Gus Fawait Soroti Program Oplah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
WA Saluran
Facebook X-twitter Youtube Instagram TikTok

© 2019 – 2023 Gopos.id  |  Gopos Media Online Indonesia | Gorontalo.

Iklan  |  Karir  |  Pedoman Media Cyber  |  Ramah Anak  |  Susunan Redaksi  |  Tentang Kami  |  Disclaimer

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • Info Pasar
    • INFOGRAFIS
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Ayo Germas
    • Boalemo
    • Bone Bolango
    • Kotamobagu
    • Bolmong Utara
    • Gorontalo Hebat
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Kota Smart
    • Pohuwato
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi

© 2019-2023 Gopos.id Gopos Media Online Indonesia | Gorontalo.