GOPOS.ID, GORONTALO– Kesibukan sebagai Anggota DPRD Kabupaten Gorontalo tidak menghalangi Wilvon Malahika untuk terus meningkatkan kapasitas akademiknya. Melalui Program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), Wilvon resmi meraih gelar Magister Ilmu Administrasi pada Program Pascasarjana Universitas Bina Taruna Gorontalo (UNBITA).
Bagi Wilvon, pencapaian tersebut bukan sekadar menambah gelar akademik, melainkan bentuk komitmen untuk memperkuat kualitas pengabdian kepada masyarakat melalui peningkatan kompetensi diri.
“Belajar adalah tanggung jawab seumur hidup. Jabatan bukan alasan untuk berhenti menimba ilmu. Justru ketika masyarakat memberikan kepercayaan kepada kita, kapasitas diri juga harus terus ditingkatkan agar keputusan yang diambil benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Wilvon.
Selama menjalankan tugas sebagai legislator, Wilvon mengaku banyak menghadapi persoalan pembangunan, pelayanan publik, hingga tata kelola pemerintahan. Pengalaman tersebut, menurutnya, menjadi semakin bermakna setelah dipadukan dengan kajian akademik yang diperoleh selama menempuh pendidikan magister.
Ia menilai teori, penelitian, dan pendekatan ilmiah memberikan perspektif yang lebih luas dalam menganalisis persoalan serta merumuskan solusi yang lebih sistematis dan berbasis bukti.
Di balik keberhasilannya menyelesaikan studi, Wilvon harus membagi waktu antara agenda kedewanan, seperti rapat paripurna, pembahasan kebijakan daerah, kunjungan kerja, dan reses, dengan kewajiban menyelesaikan tugas kuliah hingga penyusunan tesis.
“Ada banyak malam yang saya gunakan untuk membaca referensi dan menyelesaikan tugas setelah seluruh agenda kedewanan selesai. Tidak jarang saya membawa bahan kuliah ketika menjalankan perjalanan dinas. Memang tidak mudah, tetapi saya percaya ilmu adalah investasi terbaik yang manfaatnya akan kembali kepada masyarakat,” katanya.
Menurut Wilvon, Program Pascasarjana UNBITA menghadirkan ruang diskusi yang mempertemukan akademisi, birokrat, dan praktisi dari berbagai latar belakang. Interaksi tersebut dinilai memperkaya cara pandangnya dalam memahami berbagai isu administrasi publik.
Ia juga memberikan apresiasi terhadap Program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) yang dinilai menjadi solusi bagi para profesional untuk melanjutkan pendidikan tanpa mengabaikan standar akademik.
“RPL bukan jalan pintas memperoleh gelar. Program ini menghargai pengalaman profesional yang kemudian dipadukan dengan proses akademik yang tetap ketat. Semua tahapan pembelajaran, penelitian, hingga ujian tetap harus dijalani sebagaimana mahasiswa lainnya,” tegasnya.
Wilvon berharap semakin banyak aparatur sipil negara, anggota legislatif, kepala desa, tenaga pendidik, hingga kalangan profesional memanfaatkan kesempatan melanjutkan pendidikan.
“Saya ingin menyampaikan bahwa tidak ada kata terlambat untuk belajar. Ketika kita memiliki kesempatan meningkatkan kompetensi, manfaatnya tidak hanya dirasakan diri sendiri, tetapi juga masyarakat melalui kualitas pelayanan dan kebijakan yang dihasilkan,” tuturnya.
Sementara itu, Rektor Universitas Bina Taruna Gorontalo, Dr. Ellys Rachman, S.Sos., M.Si., mengatakan keberhasilan Wilvon menjadi contoh nyata semangat pembelajaran sepanjang hayat (lifelong learning) yang terus didorong dalam dunia pendidikan tinggi.
Menurutnya, pengalaman profesional yang dimiliki mahasiswa menjadi modal penting yang diperkaya melalui proses akademik, penelitian, serta asesmen yang objektif sesuai standar mutu pendidikan tinggi.
“Keberhasilan Ibu Wilvon Malahika menunjukkan bahwa pendidikan tinggi dapat berjalan berdampingan dengan pengabdian kepada masyarakat. Melalui Program RPL, kami memberikan kesempatan kepada para profesional untuk mengembangkan kompetensi akademiknya tanpa mengurangi kualitas pendidikan yang harus dipenuhi,” ujar Ellys.
Program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) yang diselenggarakan UNBITA merupakan implementasi kebijakan pemerintah dalam mendukung konsep pembelajaran sepanjang hayat. Program tersebut memberikan pengakuan terhadap capaian pembelajaran yang diperoleh melalui pengalaman kerja maupun pengalaman belajar sebelumnya, sehingga para profesional dapat melanjutkan pendidikan secara lebih adaptif dengan tetap memenuhi standar akademik.
Bagi Wilvon, gelar magister bukan menjadi akhir dari proses belajar, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar dalam menghadirkan kebijakan yang responsif, memperkuat tata kelola pemerintahan, serta memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan Kabupaten Gorontalo.
“Ukuran keberhasilan pendidikan bukanlah gelar yang disandang, melainkan sejauh mana ilmu tersebut dapat diwujudkan menjadi manfaat bagi masyarakat. Itulah komitmen yang akan terus saya pegang dalam menjalankan amanah sebagai wakil rakyat,” pungkasnya. (Rama/Gopos)








