GOPOS.ID, GORONTALO – Di antara hamparan rumput ladang pegunungan yang mulai menguning dan suara ayam yang bersahut dari kejauhan, sekelompok prajurit TNI tampak menunduk bekerja.
Baju loreng mereka telah berbaur dengan warna tanah, wajah basah oleh peluh, namun mata tetap menyala penuh semangat.
Di sisi lain, para warga desa laki-laki, perempuan, hingga anak muda ikut mengangkat batu, menimba air, dan menata adukan semen.
Tak ada sekat antara prajurit dan rakyat. Mereka bergotong royong menuntaskan pekerjaan yang bagi mereka lebih dari sekadar proyek inilah bentuk cinta tanah air yang sesungguhnya.
Hari itu, Sabtu (18/10/2025), Desa Tonala menjadi saksi bagaimana TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-126 Tahun 2025 menghadirkan wajah kebersamaan yang tulus.
Tidak ada seremonial megah, tidak pula sambutan panjang. Yang ada hanya derap langkah dan tawa sederhana di tengah lumpur dan debu jalan.
“TMMD ini bukan sekadar membangun jalan, tapi membangun harapan. Harapan agar anak-anak desa tak lagi terisolasi, agar warga mudah ke kebun dan sekolah,” ujar Komandan Satgas TMMD, Letkol Arh Roma Laksana Yudha dengan nada mantap.
Baginya, setiap jengkal tanah yang disentuh TMMD adalah bukti cinta kepada negeri bukan dengan kata, melainkan dengan tindakan nyata.
Bagi Udin Polimbato, tokoh masyarakat Desa Tonala, TMMD baru dia jumpai di desanya. Ketika program itu hadir, ia selalu merasa tersentuh karena rumah yang sederhana kini dihuni sejumlah anggota Satgas TMMD.
“Setiap pagi kami sarapan bareng. Mereka bantu di dapur, anak-anak saya pun ikut bantu di lapangan. Rasanya seperti keluarga besar,” ujarnya tersenyum.
Kebersamaan itu menumbuhkan rasa bangga sekaligus haru. Udin mengatakan, cinta tanah air bisa dimulai dari hal-hal kecil dari membantu tetangga, menjaga lingkungan, hingga ikut membangun desa.
“Kalau desa maju, Indonesia juga ikut maju,” tambahnya.
Bagi sebagian orang, cinta tanah air mungkin terdengar besar dan berat. Namun di Desa Tonala, maknanya sederhana perbaikan jalan, penyuluhan, dan menyiapkan segelas kopi untuk prajurit yang bekerja.
Di sekolah desa, Anak-anak juga diajak mengenal nilai-nilai kebangsaan melalui penyuluhan TMMD. Mereka belajar tentang bendera, tentang arti merah putih, tentang bagaimana perjuangan bukan hanya di medan perang tapi juga di ladang, di kelas, dan di hati.
“Anak-anak perlu tahu bahwa cinta tanah air itu bukan hanya hafal lagu kebangsaan. Tapi mau berbuat baik untuk desanya,” kata Serda Lahati, salah satu anggota Satgas yang menjadi narasumber penyuluhan.
Setiap kali sore tiba, warga dan prajurit duduk bersama di beranda rumah, berbagi cerita sambil menyeruput kopi hangat. Tak jarang, suara musik mengiringi lagu-lagu perjuangan. Dari sinilah lahir keakraban, dari sinilah semangat cinta tanah air kembali berdenyut.
TMMD telah menjelma menjadi ruang belajar sosial laboratorium kebangsaan di tengah kehidupan desa. Di sinilah nilai-nilai Pancasila tumbuh bukan dalam pidato, tapi dalam tindakan bersama.
“TMMD mengajarkan kami bahwa cinta tanah air itu bukan hanya slogan, tapi aksi. Kami bekerja karena kami mencintai negeri ini,” ucap Randi seorang warga yang ikut bekerja bersama Satgas TMMD.
Malam menurunkan bintang-bintang di atas Desa Tonala. Lampu-lampu rumah berkelap-kelip, sementara di jalan yang baru selesai dicor, suara langkah kaki terdengar ringan. Jalan itu kini menjadi simbol harapan baru bagi warga desa.
Di setiap sudut desa, cinta tanah air kini bukan sekadar kata, tapi telah menjadi bagian dari kehidupan. Dari TMMD, warga belajar bahwa membangun Indonesia tidak harus di kota besar cukup dimulai dari desa, dari hati, dari kerja bersama. (Isno/gopos)








