GOPOS.ID, GORONTALO – Di tengah derasnya arus modernisasi, masih ada ruang belajar kehidupan yang tak diajarkan di bangku sekolah yakni kerja sama, gotong royong, dan kepedulian sosial.
Semua itu hidup di program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD), yang oleh banyak kalangan kini dijuluki sebagai “laboratorium sosial” bagi pembentukan generasi tangguh di pedesaan.
Setiap pelaksanaan TMMD bukan sekadar pembangunan infrastruktur. Di balik deru mesin molen dan suara cangkul yang bersahut, terselip proses pembelajaran sosial yang melibatkan TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat desa.
Anak-anak muda desa ikut turun tangan, belajar disiplin, tanggung jawab, hingga rasa cinta tanah air dari para prajurit yang menjadi teladan.
Di Desa Tonala, misalnya, suasana itu terasa setiap pagi. Warga dan Satgas TMMD bekerja berdampingan, saling berbagi cerita dan tawa di sela keringat yang menetes.
“Kami bukan hanya membangun jalan, tapi juga membangun semangat bersama,” ujar salah satu anggota Satgas TMMD dengan senyum tulus.
Program TMMD juga membuka ruang dialog lintas generasi. Para orang tua kembali menanamkan nilai gotong royong kepada anak-anak mereka.
Sementara para prajurit menjadi inspirasi bagi remaja desa untuk berani bermimpi dan berbuat nyata bagi lingkungannya.
Lebih dari sekadar proyek pembangunan, TMMD telah menjelma menjadi ruang praktik kebangsaan tempat warga belajar arti persatuan dalam kerja nyata.
Dari sinilah lahir generasi tangguh yang tumbuh bukan hanya dengan tenaga, tetapi juga dengan hati.
Di ujung kegiatan, yang tersisa bukan hanya jalan beton, rehab rumah dan manunggal air, tapi juga jalinan sosial yang makin kokoh di antara warga.
Sebuah bukti bahwa TMMD bukan sekadar program tahunan, melainkan proses panjang membangun manusia Indonesia seutuhnya. (Isno/gopos)








