No Result
View All Result
gopos.id
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • INFOGRAFIS
    • Info Pasar
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Pohuwato
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Boalemo
    • Kotamobagu
    • Bolmut
    • Kota Smart
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • INFOGRAFIS
    • Info Pasar
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Pohuwato
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Boalemo
    • Kotamobagu
    • Bolmut
    • Kota Smart
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi
No Result
View All Result
No Result
View All Result
gopos.id

TOT VOICE 2026: Sinergi UNICEF dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah Perkuat Perlindungan Anak di Gorontalo

Ramos by Ramos
Minggu 25 Januari 2026
in Universitas Bina Taruna
0
Screenshot

Screenshot

0
SHARES
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

GOPOS.ID, GORONTALO– Pelaksanaan VOICE (Voicing Our Identity, Courage, and Empowerment) – Regional Training of Trainers (ToT) 2026 di Gorontalo menjadi bagian dari upaya sistematis memperkuat agenda perlindungan anak dan keadilan gender melalui pendidikan kader pelajar. Kegiatan yang berlangsung pada 24–27 Januari 2026 di BPMP Provinsi Gorontalo ini diselenggarakan oleh Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah bekerja sama dengan UNICEF Indonesia, sebagai respons atas masih ditemukannya praktik Pernikahan Anak dan Pemotongan/Pelukaan Genital Perempuan (FGM/CM) di sejumlah wilayah, termasuk Gorontalo.

Ketua Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah Bidang IPMawati, Wulandari Ney, menegaskan bahwa Program VOICE bukan sekadar kegiatan pelatihan, melainkan ikhtiar ideologis, organisatoris, dan sosial gerakan pelajar Muhammadiyah dalam melindungi hak anak dan perempuan melalui kolaborasi dengan UNICEF.

“Program VOICE adalah komitmen gerakan pelajar Muhammadiyah dalam pencegahan Pernikahan Anak dan FGM/CM. Ini merupakan wujud penerapan Islam Berkemajuan yang menjunjung tinggi martabat manusia, keadilan gender, dan kemaslahatan generasi,” ujar Wulandari Ney.

Secara ideologis, Ikatan Pelajar Muhammadiyah memandang praktik-praktik yang merugikan anak dan perempuan bertentangan dengan nilai-nilai kesehatan, pendidikan, dan masa depan yang berkeadilan. Karena itu, isu pencegahan Pernikahan Anak dan FGM/CM ditempatkan sebagai agenda moral dan kemanusiaan yang harus dijawab melalui pendekatan edukasi yang berkelanjutan.

“Praktik yang mengorbankan anak dan perempuan tidak sejalan dengan nilai Islam Berkemajuan. Gerakan pelajar harus hadir membawa perspektif perlindungan dan keberpihakan,” tegas Wulandari Ney.

Pendekatan edukatif tersebut diperkuat dengan memposisikan pelajar usia 16–22 tahun sebagai subjek utama perubahan sosial. Melalui skema Training of Trainers, peserta VOICE dibekali pengetahuan, keterampilan fasilitasi, dan kesadaran nilai agar mampu menjadi pendidik sebaya di sekolah, pesantren, dan komunitas pelajar.

Baca Juga :  Stick Jagung Desa Daenaa Naik Kelas Berkat Sentuhan Digitalisasi dari UNBITA

“Kedekatan usia dan pengalaman sosial membuat pelajar memiliki posisi strategis untuk menyampaikan pesan perlindungan anak secara lebih efektif dan berkelanjutan,” jelas Wulandari Ney.

Pandangan tersebut sejalan dengan pengalaman Tri Adelia Tasmala, mahasiswa Universitas Bina Taruna Gorontalo yang menjadi salah satu peserta ToT VOICE 2026. Ia menilai bahwa keterlibatannya dalam program ini berangkat dari kesadaran bahwa isu perlindungan anak kerap dianggap sebagai wilayah orang dewasa atau pemangku kebijakan, padahal pelajar dan mahasiswa berada sangat dekat dengan realitas sosial tersebut.

“Saya mengikuti Program VOICE karena ingin memahami isu perlindungan anak secara lebih mendalam dan kontekstual. Saya melihat langsung bagaimana Pernikahan Anak berdampak pada pendidikan dan masa depan teman sebaya,” ungkap Tri Adelia Tasmala.

Melalui rangkaian pelatihan VOICE, Tri Adelia memperoleh pemahaman baru bahwa perlindungan anak tidak terbatas pada pencegahan kekerasan fisik, tetapi mencakup pemenuhan hak anak secara menyeluruh, termasuk hak atas pendidikan, kesehatan, keamanan, dan martabat. Ia juga menilai bahwa Pernikahan Anak dan FGM/CM merupakan bentuk pelanggaran hak anak yang kerap dibenarkan atas nama tradisi, meski berdampak serius secara fisik, psikologis, dan sosial.

“Program ini membuka kesadaran saya bahwa praktik-praktik tersebut adalah pelanggaran hak anak, terutama terhadap anak perempuan, dan tidak bisa terus dinormalisasi,” ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, Program VOICE mengintegrasikan modul edukasi terstandarisasi UNICEF dengan nilai Islam Berkemajuan melalui pendekatan pembelajaran kontekstual Inside VOICE berbasis empat tahap LFLM (Look–Fuse–Learn–Move). Pendekatan ini memungkinkan peserta melihat realitas sosial, merefleksikan makna personal, memahami konsep secara kritis, hingga mendorong aksi nyata di lingkungan masing-masing.

Baca Juga :  FAIS UNBITA Audiensi dan Jajaki Kerja Sama dengan Stakeholder

“Melalui alur ini, peserta tidak hanya menerima pengetahuan, tetapi membangun kesadaran, empati, dan keberanian untuk bertindak,” kata Wulandari Ney.

Bagi Tri Adelia, pendekatan tersebut membawa perubahan nyata dalam cara pandangnya terhadap peran pelajar dan mahasiswa. Ia merasa lebih percaya diri, argumentatif, dan empatik dalam membicarakan isu-isu sensitif terkait hak anak, sekaligus siap mengambil peran kepemimpinan di ruang-ruang edukasi.

“Saya menyadari bahwa pelajar dan mahasiswa dapat menjadi jembatan antara nilai perlindungan anak dan praktik sosial di masyarakat,” tuturnya.

Untuk memastikan keberlanjutan dampak, Ikatan Pelajar Muhammadiyah menyiapkan strategi replikasi dan advokasi pascapelatihan. Kader VOICE didorong melakukan fasilitasi lanjutan, edukasi sebaya, serta membangun dialog dengan pendidik dan pemangku kepentingan di tingkat lokal, termasuk di provinsi-provinsi lain yang menjadi wilayah prioritas karena tingginya angka kasus.

“VOICE tidak berhenti di satu daerah atau satu pelatihan. Ini adalah gerakan nasional yang diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor,” ujar Wulandari Ney.

Sebagai tindak lanjut, Tri Adelia menyatakan komitmennya untuk melakukan aksi nyata di lingkungan kampus dan komunitas, mulai dari inisiasi diskusi, edukasi sederhana tentang hak anak, hingga kolaborasi dengan organisasi mahasiswa dan pihak kampus untuk menciptakan ruang aman bagi anak dan remaja.

“Saya berharap nilai dan pengetahuan dari Program VOICE dapat memberi dampak nyata dan berjangka panjang bagi lingkungan sekitar saya,” pungkasnya.

Melalui sinergi UNICEF dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah dalam ToT VOICE 2026, pelajar dan mahasiswa didorong menjadi aktor kebijakan sosial di tingkat komunitas—menghubungkan nilai, pengetahuan, dan aksi nyata demi memperkuat perlindungan anak dan keadilan gender di Gorontalo dan wilayah prioritas lainnya. (Rama/Gopos)

Tags: TOT Voice 2026UNICEF
Previous Post

Gus Fawait Bakal Siapkan RS Pemerintah di Jember Barat

Next Post

Pangdam XIII/Merdeka Tinjau Pengelolaan Lingkungan Pani Gold Mine Pohuwato

Related Posts

Universitas Bina Taruna

Kartini di Persimpangan: “Paradoks Kartini di Tengah Arus Perkembangan Zaman”

Selasa 21 April 2026
Screenshot
Universitas Bina Taruna

Kartini di Persimpangan: Paradoks Kartini di Tengah Arus Perkembangan Zaman

Selasa 21 April 2026
Screenshot
Universitas Bina Taruna

Dorong Kampus Aman dan Berkeadilan, Mahasiswa UNBITA Respons Kasus Kekerasan Seksual UI

Kamis 16 April 2026
Screenshot
Universitas Bina Taruna

Akselerasi Riset UNBITA, 22 Dosen Lolos Pendanaan Kemendiktisaintek

Jumat 10 April 2026
Screenshot
Universitas Bina Taruna

Lewati Seleksi Berlapis, UNBITA Tetapkan Wakil Terbaik PILMAPRES 2026 ke LLDIKTI XVI

Kamis 9 April 2026
Screenshot
Universitas Bina Taruna

UNBITA Gelar Seleksi PILMAPRES, Dua Mahasiswa Terbaik Siap Melaju ke LLDIKTI

Rabu 8 April 2026
Next Post
Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) XIII/Merdeka, Mayjen TNI Mirza Agus, melaksanakan kunjungan kerja ke kawasan pertambangan Pani Gold Mine, Kabupaten Pohuwato, Sabtu (24/1/2026) (Istimewa)

Pangdam XIII/Merdeka Tinjau Pengelolaan Lingkungan Pani Gold Mine Pohuwato

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

Terpopuler

  • Ilustrasi AI

    ASN dan PPPK Tak Boleh Rangkap Jabatan sebagai Anggota BPD, Ini Penjelasan Aturannya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prof Nurdin Resmi Dilantik sebagai Sekda Boalemo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kebahagiaan Selimuti Lapas Perempuan Kelas III Gorontalo di Hari Kartini ke-147

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prof. Nurdin Naik Traktor Saat Dikukuhkan Guru Besar UNG

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bupati Jember Bukan Bebani ASN, ini Penjelaskan Kebijakan Turun Lapangan Verval

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
WA Saluran
Facebook Icon-x Youtube Instagram Icon-ttk

© 2019 – 2023 Gopos.id  |  Gopos Media Online Indonesia | Gorontalo.

Iklan  |  Karir  |  Pedoman Media Cyber  |  Ramah Anak  |  Susunan Redaksi  |  Tentang Kami  |  Disclaimer

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • Info Pasar
    • INFOGRAFIS
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Ayo Germas
    • Boalemo
    • Bone Bolango
    • Kotamobagu
    • Bolmong Utara
    • Gorontalo Hebat
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Kota Smart
    • Pohuwato
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi

© 2019-2023 Gopos.id Gopos Media Online Indonesia | Gorontalo.