No Result
View All Result
gopos.id
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • INFOGRAFIS
    • Info Pasar
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Pohuwato
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Boalemo
    • Kotamobagu
    • Bolmut
    • Kota Smart
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • INFOGRAFIS
    • Info Pasar
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Pohuwato
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Boalemo
    • Kotamobagu
    • Bolmut
    • Kota Smart
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi
No Result
View All Result
No Result
View All Result
gopos.id

Noktah Merah Maulid; Refleksi atas Kekacauan Sosial Politik dan Teladan Muhammad SAW

Arif Bina by Arif Bina
Kamis 4 September 2025
in Perspektif
0
Dr. Andries Kango, M.Ag, Dekan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Sultan Amai Gorontalo

Dr. Andries Kango, M.Ag, Dekan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Sultan Amai Gorontalo. (Foto: Doc. Pribadi)

0
SHARES
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Indonesia saat ini lagi tidak baik-baik saja. Suara rakyat di jalanan berubah menjadi amarah dan api, kantor-kantor pemerintah dibakar, beberapa rumah pejabat dijarah, korban berjatuhan, nyawa pun melayang. Bukan karena rakyat beringas tapi karena rasa sakit yang terlalu lama dipendam, ketidakadilan yang dipelihara, janji-janji yang dikhianati serta ketimpangan sosial yang terawat. Kini semua dibayar dengan amarah. Ini bukan sekedar demonstrasi, ini adalah peringatan keras jika suara rakyat dibungkam, bila janji-janji terus diingkari dan amanah dikhianati, maka amarah akan terus menyala dan cita-cita demokrasi hanya akan menjadi abu. Kita semua ingin Indonesia akan cepat membaik, bukan dengan api dan darah tapi dengan suara dan harapan yang didengarkan.

Ironi dan menyedihkan tragedi ini justru terjadi di bulan kelahiran Sang Teladan kemanusiaan, Muhammad Saw. Saat sebagian umat Islam menabuh rebana solawatan, sebagian yang lain menabuh genderang melawan petugas. Ketika santri-santri bergemuruh membaca Maulid Simtudduror, mahasiswa dan rakyat bergemuruh menyuarakan protes ketidakadilan. Maulid Nabi yang identik dengan nostalgia dan kecintaan berubah menjadi suasana yang mencekam. Dalam konteks ini, refleksi atas kelahiran dan teladan beliau memberikan pelajaran yang relevan. Rasulullah hadir di Tengah Bangsa Arab pra Islam (jahiliyah) juga ditandai dengan kekacauan social, ketidakadilan structural, konflik antar suku serta rusaknya moral manusia. Beliau tampil memberi contoh kepemimpinan, membangun tatanan masyarakat dengan kejujuran, amanah, adaptasi sosial dan keberpihakan kepada kaum lemah. Beliau mengajarkan bahwa kepemimpinan sejati lahir dari pelayanan, bukan dari ambisi kekuasaan. Dengan kepemimpinan yang berlandaskan nilai moral, beliau berhasil mengubah tatanan masyarakat menuju keadilan, persatuan dan kesejahteraan.  Ini pula yang menjadi kata kunci cita-cita Pancasila kita.

Baca Juga :  TOKOH NASIONAL TIONGHOA ASAL GORONTALO

Fenomena politik Indonesia saat ini menunjukkan adanya apa yang disebut oleh Larry Diamond sebagai democratic recession, yakni kemunduran kualitas demokrasi yang diakibatkan oleh lemahnya institusi, maraknya korupsi, dan tergerusnya etika politik. Demokrasi kehilangan substansinya karena tidak lagi menekankan nilai keadilan sosial, melainkan dikuasai oleh praktik kekuasaan transaksional. Gejala ini tampak dalam berbagai kasus; mulai dari lemahnya integritas anggota legislatif, politik dinasti, lemahnya penegakan hukum hingga maraknya manipulasi kebijakan untuk kepentingan segelintir elite.

Jauh berbeda dengan apa yang dicontohkan Nabi. Beliau mengintegrasikan moralitas dengan politik. Beliau bukan sekadar pemimpin spiritual, melainkan juga negarawan yang mampu menyatukan masyarakat Madinah yang plural. Melalui Piagam Madinah, Nabi menegaskan prinsip-prinsip keadilan, kesetaraan, dan perlindungan hak-hak minoritas. Ibn Khaldun secara khusus menekankan bahwa keberlangsungan sebuah negara sangat ditentukan oleh asabiyyah (solidaritas sosial) yang berlandaskan nilai moral. Nabi Muhammad memimpin dengan moralitas, memimpin dengan cinta sehingga melahirkan pengakuan integritas dan penghormatan yang tinggi dari Masyarakat yang dipimpinnya. Sahabat Anas bin Malik saat ditanya soal kepemimpinan Muhammad Saw., beliau menggambarkan, Ketika Nabi sementara berbicara, maka di atas kepala-kepala kami seakan bertengger burung-burung. Tak ada yang berani mengangkat kepala karena kharisma dan wibawa beliau. Fakta nyata, bahwa Indonesia saat ini krisis pemimpin yang mengilhami kepemimpinan Nabi Muhammad Saw.

Baca Juga :  GP Ansor Temui Pemkab Boalemo Terkait Polemik Perayaan Maulid di Tengah Covid

Momentum merayakan Maulid Nabi hari ini idealnya tidak hanya berupa seremonial spiritual, tetapi juga momentum politik etis untuk mengembalikan demokrasi ke jalurnya. Kerinduan kolektrif kita pada sosok Muhammad mesti diwujudkan dalam komitmen memperjuangkan integritas, keadilan, dan solidaritas sosial dalam ruang publik. Secara eksplisit, penulis ingin menggaris bawahi 3 poin penting untuk diteladani para pemimpin saat ini. Pertama; Memimpinlah dengan Amanah. Kekuasaan harus dijalankan dengan penuh tanggungjawab, jangan mempermainkan amanah sesuai hawa nafsu. Bukankah kita akan dimintai pertanggungjawaban kelak? Kedua, rangkul kembali persaudaraan sebagai sebangsa dan setanah air, kuatkan kontrak sosial dengan rakyat. Kuatkan solidaritas lintas social; suku, agama, etnis, Ormas, kelompok rentan, dan sebagainya. Ketiga, Jiwai moralitas dalam politik. Politik tanpa moral hanya akan menghasilkan kekacauan. Sementara politik berbasis nilai moral menghasilkan cinta damai dan kesejahteraan.

CLOSING ! Kekacauan sosial, politik dan demokrasi kita saat ini menjadi cermin betapa lemahnya fondasi moral dalam praktik bernegara. Refleksi atas kelahiran dan teladan Nabi Besar Muhammad Saw menjadi penting kita renungkan. Beliau menunjukkan bahwa krisis sosial dapat diselesaikan dengan kepemimpinan yang berlandaskan moral, keadilan dan cinta (kasih sayang). Indonesia akan mampu keluar dari kekacauan saat ini bila para elite politik  mampu menjiwai nilai-nilai kepemimpinan Nabi dalam membangun negara yang lebih bermartabat.*

Penulis: Dr. Andries Kango, M.Ag, Dekan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Sultan Amai Gorontalo.

Tags: KepemimpinanMaulid Nabi MuhammadSosial Politik
Previous Post

Tim Resmob Saronde Gerak Cepat Buru Pelaku Penikaman yang Kabur ke Pegunungan

Next Post

Dorong Pembangunan Daerah, Wali Kota Kotamobagu Temui Staf Ahli Menteri PUPR di Jakarta

Related Posts

Funco Tanipu (Founder The Gorontalo Institute)
Perspektif

Senjakala Elite Nasional Gorontalo

Selasa 28 Juli 2026
Perspektif

Ketika Benteng Pemberantasan Korupsi Ikut Diguncang, Siapa yang Menjaga Kepercayaan Publik?

Sabtu 11 Juli 2026
Perspektif

Evaluasi POLRI: Hentikan Abuse of Power dan Stop Tindakan Represif Oknum Polisi Terhadap Rakyat

Selasa 30 Juni 2026
Irwan Bempah saat menghadiri Penas Petani dan Nelayan Gorontalo
Perspektif

PENAS XVII Gorontalo : Lahirnya Gagasan Besar untuk Pertanian Indonesia

Kamis 25 Juni 2026
Perspektif

Alarm Revolusi: Indonesia Sedang Tidak Baik-Baik Saja, Saatnya Kita Semua Mengambil Sikap Tegas

Kamis 11 Juni 2026
Perspektif

Pancasila 1 Juni: Warisi Apinya, Bukan Abunya

Senin 1 Juni 2026
Next Post

Dorong Pembangunan Daerah, Wali Kota Kotamobagu Temui Staf Ahli Menteri PUPR di Jakarta

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

  • Kuasa hukum korban, Rizka Umar diwawancarai gopos.id.

    Owner Kedai Kopi di Gorontalo Diduga Lakukan Pelecehan ke Mantan Karyawan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pengurus DPD-DPC ABPEDNAS Gorontalo Dilantik: Wujudkan Kolaborasi Daerah dan Pusat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Siswa SMP Tewas Tenggelam di Pantai Muara Kasih Bonepantai

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PETI DAM Pohuwato Longsor, Empat Orang Dikabarkan Meninggal

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gubernur Gorontalo Minta ABPEDNAS Berkolaborasi Bangun Daerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
WA Saluran
Facebook X-twitter Youtube Instagram TikTok

© 2019 – 2023 Gopos.id  |  Gopos Media Online Indonesia | Gorontalo.

Iklan  |  Karir  |  Pedoman Media Cyber  |  Ramah Anak  |  Susunan Redaksi  |  Tentang Kami  |  Disclaimer

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • Info Pasar
    • INFOGRAFIS
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Ayo Germas
    • Boalemo
    • Bone Bolango
    • Kotamobagu
    • Bolmong Utara
    • Gorontalo Hebat
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Kota Smart
    • Pohuwato
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi

© 2019-2023 Gopos.id Gopos Media Online Indonesia | Gorontalo.