GOPOS.ID, GORONTALO – Panggung politik Gorontalo kini menghadirkan warna baru. Dua partai politik besar di daerah itu sama-sama berada di bawah kepemimpinan perempuan.
Mereka adalah Indrawati Gobel, yang dipercaya memimpin DPW Partai NasDem Gorontalo, dan Idah Syahidah Rusli Habibie, yang menakhodai DPD Partai Golkar Provinsi Gorontalo.
Kemunculan dua sosok perempuan tersebut menjadi catatan menarik dalam dinamika politik Gorontalo.
Bukan sekadar pergantian pucuk pimpinan partai, tetapi juga menandai semakin terbukanya ruang bagi perempuan untuk mengambil posisi strategis dalam percaturan politik daerah.
Indrawati Gobel hadir dengan latar belakang keluarga politik yang memiliki pengaruh kuat di Gorontalo.
Penunjukannya sebagai Ketua DPW NasDem Gorontalo sekaligus mengakhiri spekulasi mengenai siapa yang akan mengisi posisi strategis tersebut setelah wafatnya Rachmat Gobel.
Sementara itu, Idah Syahidah Rusli Habibie bukan nama baru dalam politik Gorontalo. Ia memiliki pengalaman panjang di ruang publik dan politik, termasuk pernah mendampingi Rusli Habibie selama dua periode sebagai Gubernur Gorontalo.
Kini, keduanya berada di posisi yang sama-sama strategis yakni memimpin mesin politik masing-masing partai. Kondisi ini membuat dinamika politik Gorontalo semakin menarik.
NasDem dan Golkar merupakan dua kekuatan politik yang memiliki basis serta jaringan organisasi yang cukup kuat di daerah.
Dengan hadirnya dua perempuan sebagai ketua partai, perhatian publik tentu tidak hanya tertuju pada bagaimana mereka menjalankan roda organisasi, tetapi juga bagaimana keduanya membaca arah politik Gorontalo ke depan.
Kepemimpinan Indrawati di NasDem akan diuji dalam menjaga soliditas internal sekaligus menerjemahkan kekuatan politik keluarga Gobel ke dalam kerja-kerja partai.
Sementara Idah menghadapi tantangan untuk mempertahankan sekaligus memperkuat posisi Golkar di tengah persaingan politik yang semakin dinamis.
Keduanya kini memiliki pekerjaan besar membangun konsolidasi, merawat basis pemilih, memperkuat struktur hingga tingkat bawah, dan menyiapkan kader menghadapi agenda politik mendatang.
Menariknya, kehadiran dua srikandi ini juga membuka ruang baru bagi narasi politik perempuan di Gorontalo. Jika sebelumnya panggung politik daerah lebih banyak didominasi figur laki-laki, kini dua partai dengan sejarah dan kekuatan elektoral besar justru dipimpin oleh perempuan.
Pertarungan keduanya tentu tidak harus dimaknai sebagai persaingan personal. Justru, kepemimpinan Indrawati dan Idah dapat menjadi momentum untuk menunjukkan bahwa politik Gorontalo memiliki ruang yang semakin besar bagi perempuan untuk menentukan arah kebijakan dan masa depan politik daerah.
Dengan dua srikandi berada di kursi pimpinan partai, satu hal menjadi jelas peta politik Gorontalo kini memasuki babak baru.
Dan publik akan menunggu, siapa yang paling mampu mengubah kekuatan organisasi menjadi kekuatan elektoral pada pertarungan politik berikutnya. (Isno/gopos)








