Oleh: Hasanudin Djadin*
Peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) semestinya menjadi ruang mawas diri. Apakah pelayanan kesehatan telah benar-benar hadir untuk mereka yang membutuhkan? Namun di Kecamatan Sipatana, Kota Gorontalo, semangat HKN justru terpeleset pada ironi. Ketika warga dalam kondisi gawat darurat membutuhkan ambulans, petugas puskesmas malah sibuk mengurus lomba voli. Seremoni mengalahkan substansi.
Havid S. Duto menjadi gambaran paling terang dari rapuhnya sistem kesehatan dasar kita. Ia bukan sekadar nama pasien, melainkan cermin getir betapa hak publik atas layanan medis cepat dan tepat masih terhalang pola pikir birokrasi: kehadiran lebih penting dari menghadirkan yang penting. Mobilitas petugas demi acara dinomorsatukan, mortalitas pasien seakan urusan belakangan.
Tidak ada yang keliru dengan lomba voli dalam rangka HKN. Tema Generasi Sehat, Masa Depan Sehat memang mengajak masyarakat kembali berolahraga. Olahraga membangun disiplin, ketangguhan, dan kebersamaan. Namun kekeliruan dimulai ketika kegiatan itu menenggelamkan peran utama puskesmas—memberi pelayanan kesehatan yang sigap dan manusiawi. Kompetisi voli boleh meriah, tapi tidak pada harga nyawa.
Ketidaksiapan ambulans Puskesmas Sipatana bukan sekadar soal teknis. Ia menunjukkan mentalitas seremonial yang masih menjiwai sebagian birokrasi layanan dasar. Kepala Puskesmas Sipatana, Rita S. Bambang, berdalih kekeliruan terjadi karena salah komunikasi. Ambulans sudah kembali ke puskesmas, katanya, namun pasien tidak berada di tempat sehingga kembali ke lokasi perlombaan. SOP pun ikut dijadikan pagar. Ambulans harus membawa pasien dari puskesmas terlebih dahulu sebelum rujukan dilakukan. Walaupun kata Rita, dalam keadaan gawat darurat pemanfaatanya bisa di luar SOP.
Penjelasan itu justru mempertegas masalahnya. Dalam kondisi gawat darurat, SOP bukan kitab kaku. Ia harus mengikuti akal sehat dan situasi. Ketika nyawa melayang adalah bentuk kelalaian yang tak bisa lagi dibungkus alasan miskomunikasi. Jika ambulans bisa bergerak untuk lomba, mengapa tidak sigap untuk hidup seseorang?
Peristiwa ini seharusnya menjadi alarm genting. Pemkot Gorontalo perlu menegur keras, memperbaiki sistem, dan memastikan bahwa peringatan kesehatan tak lagi berubah menjadi pesta seremonial yang menyingkirkan kemanusiaan.
Evaluasi sistem pelayanan kesehatan dasar tak cukup berhenti pada prosedur, tetapi menyentuh akar persoalan. Nyawa warga bukan angka statistik dalam laporan tahunan. Ia adalah mandat konstitusional yang harus dipenuhi tanpa jeda, tanpa syarat.
Ambulans sejatinya untuk menyelamatkan hidup, bukan sekadar berpindah-pindah mengikuti acara.(***)
*) Penulis adalah penanggung jawab media gopos.id








