No Result
View All Result
gopos.id
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • INFOGRAFIS
    • Info Pasar
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Pohuwato
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Boalemo
    • Kotamobagu
    • Bolmut
    • Kota Smart
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • INFOGRAFIS
    • Info Pasar
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Pohuwato
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Boalemo
    • Kotamobagu
    • Bolmut
    • Kota Smart
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi
No Result
View All Result
No Result
View All Result
gopos.id

TUMBILOTOHE GORONTALO DIMENSI SPIRITUAL, KULTURAL DAN EKONOM

Hasan by Hasan
Kamis 19 Maret 2026
in Perspektif
0
0
SHARES
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Oleh: Fahrudin Olilingo*

Tumbilotohe dalam bahasa Gorontalo berarti pasang lampu. Kata ini begitu populer pada semua kalangan anak-anak, tua muda, orang Gorontalo maupun tidak bahkan sampai ke daerah-daerah lain dalam negeri bahkan luar negeri pada setiap menjelang Hari Raya Iedul Fithri karena berkaitan dengan suatu budaya pasang lampu di Gorontalo dan telah menjadi suatu even nasional dalam kalender Departemen Pariwisata Republik Indonesia. Even ini memiliki daya pikat yang cukup tinggi sehingga setiap tahun menjadi salah satu alasan orang datang ke Gorontalo untuk pulang kampung bagi warga Gorontalo rantau sekalian akan bersilaturrahmi dengan sanak familinya. Demikian pula ada juga yang sekedar ingin tahu khususnya bagi para turis domestik maupun manca negara yang berkunjung ke Gorontalo ingin menikmati perlehatan Tumbilotohe karena sarat dengan budaya yang tidak ditemukan pada daerahnya masing-masing.

Menurut catatan beberapa pengamat pada setiap malam Tumbilotohe jalan-jalan cukup padat, hotel dan juga tempat perbelanjaan dipenuhi pengunjung dan tentunya secara ekonomi hal ini akan berdampak pada pergerakan ekonomi lebih bergairah. Dampak selanjutnya adalah menaiknya daya beli masyarakat dan mesin ekonomi Gorontalo bisa berputar apalagi kalau mereka bisa tinggal beberapa lama di Gorontalo hingga hari raya ketupat suatu tradisi lain yang cukup menarik di Gorontalo yang diadakan seminggu setelah hari Raya Iedul Fithri.

Penulis berupaya mencari referensi otentik tentang asal muasal munculnya budaya Tumbilotohe di Gorontalo, namun belum ada satu kata sepakat tentang munculnya budaya ini. Umumnya orang berpandangan bahwa budaya pasang lampu muncul karena dulu di Gorontalo belum ada lampu penerang jalan seperti listrik sehingga orang yang pergi ke mesjid, surau, rumah imam atau pada orang yang berhak lannya untuk membayar zakat fitrah khususnya pada malam ke 27 Ramadhan yang sangat diyakini malan itu akan turun Lailatul Qadar perlu lampu penerang jalan.

Penulis juga pernah mendapat penjelasan dari salah satu yang faham asal muasal pemasangan Tumbilotohe yaitu almarhum Ustaz Abd. Azis Hamid Pembina Majelis Zikir Nurul Hidayah Kota Gorontalo yang menjelaskan bahwa rujukan munculnya pemasangan Tumbilotohe adalah terdapat pada firman Allah Surat Al Qadr (kemuliaan) yang terdiri atas 5 ayat. Terjemahan dari ayat itu adalah: (1) Sesungguhnya Kami telah menurunkan suatu malam kemuliaan, (2) Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?, (3) Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan, (4) pada malam itu turun para malaikat dan ruh dengan izin tuhannya untuk segala urusan, (5) memberikan penuh keselamatan dan kesejahteraan sampai terbit fajar.

Baca Juga :  Mudik dan Kerinduan

Orang-orang tua dulu di Gorontalo meyakini malam-malam ganjil mulai dari malam ke 27 Ramadhan sangat dijaga sebagai malam Lailatul Qadri. Malam itu turun malaikat dan ruh akan membawa keselamatan bagi umat manusia. Malikat dan ruh senang akan wangi-wangian dan suasana terang sehingga perlu disambut dengan pemasangan Tumbilotohe yang bahan bakarnya dari yang wangi pula seperti minyak kelapa (Tohe Tutu). Selain daripada itu pemasangan Tumbilotohe dilengkapi dengan symbol-simbol adat seperti Alikusu (Gapura Adat) yang melambangkan betapa masyarakat Gorontalo sangat menghayati dan menghormati dalam menyambut datangnya malam kemuliaan (Laiatul Qadri) . Alikusu dibuat dari bambu kuning berbentuk kubah yang melambangkan Hablul Minallah yaitu hubungan manusia dengan Tuhannya. Atribut yang diisi di Alikusi adalah Tohe Butulu yang berjumlah sebanyak 5 lampu botol yang diletakkan di palang atas Alikusu yang menggambarkan kewajiban sholat 5 waktu sesuai dengan rukun Islam. Cahaya lampunya diibaratkan cahaya Alquran yaitu cahaya penerang kehidupan dunia dan akhirat, Lale (janur kuning) melambangkan kesucian dan kemuliaan karena warna kuning tersebut diibaratkan logam mas yang mengkilap, Polohungo (bunga yang warna warni) yang diikat menjadi satu melambangkan kehidupan pribadi, maupun masyarakat pasti terdapat perbedaan namun dapat dipersatukan dalam pengamalan agama Allah Swt, Tabongo atau bunga lahikit memiliki makna sebagai penolak balak dari pengaruh-pengaruh yang jahat, Patodu (tebu) perlambang rezeki dan manusia diharapkan ramah, bersikap manis antar sesama, Lambi (pisang) melambangkan manusia harus bermanfaat bagi orang lain, Tohe Tutu (lampu damar) menggambarkan keaslian budaya suku Gorontalo, Tonggoloopo menggambarkan cahaya alquran yang akan menerangi kehidupan setiap pribadi manusia, Padamala (lampu minyak kelapa) perlambang lampu yang akan menerangi di akhirat. Selain daripada itu Alikusu dilengkapi dengan dupa dan harumharuman yang melambangkan kesucian. Karena pemasangan tumbilotohe merupakan hal yang sakral bagi masyarakat Gorontalo maka pemsaangan pada malam pertama mengundang imam yang akan menyalakan lampu dengan membaca doa dan surat Al Qadr.

Baca Juga :  Kekerasan Simbolik: Hal yang Tidak Terungkap Dari Aksi Mahasiswa di Gorontalo

 Sakralnya malam tumbilotohe adalah pada penyambutan para malaikat dan ruh yang turun ke dunia hingga terbit fajar memberi keselamatan pada umat manusia yang sedang beribadah dengan kemuliaan ibadahnya sama dengan 1000 bulan. Oleh karena itu dianjurkan untuk perayaan tumbilotohe jangan mengabaikan nilai-nilai keluhuran ibadah selain faktor budaya. Misalnya dalam pemasangan lampu diutamakan lampu tradisional seperti Tohe Tutu berbahan bakar minyak kelapa. Lampu ini dinyalakan disumbu yang diletakkan pada popaya yang dibelah, atau ada juga yang terbuat dari bahan tradisional yang disebut dengan Padamala. Kebiasaan ini muncul sejak abad ke 15 masehi dan dilaksanakan secara turun temurun. Penulis lahir dan sejak kecil hidup di Gorontalo dan pernah menyaksikan suasana malam Tumbilotohe yang dilaksanakan secara spontan oleh masyarakat sebelum dijadikan even budaya oleh pemerintah. Pada waktu itu esensi Tumbilotohe sangat sakral karena berkaitan dengan keyakinan perlu berjaga-jaga akan turunnya Lailatu Qadri mulai dari malam ke 27 dan seterusnya dari bulan suci ramadhan. Di masyarakat Gorontalo terbagi atas dua golongan yaitu yang secara spontan ingin pasang tumbilotohe umumnya adalah dari kalangan warga NU dan yang tidak mau pasang dari kalangan warga Muhammadiyah atau juga dari non muslim. Secara kasat mata akan terlihat mana rumah yang dari NU dan mana dari Muhammadiyah atau golongan non muslim. Setelah Tumbilotohe menjadi even budaya dan dilombakan, maka Tumbilohe telah menjadi milik semua warga tanpa membedakan asal muasal keyakinan maupun golongan dan semua rumah, toko kantor pemerintah dan swasta selayaknya memasang Tumbilotohe. Diharapkan juga kepada para penceramah dan tokoh adat lebih menggali dan mengkaji hakekat tumbilohe dan disampaikan kepada umat sehingga masyarakat mengetahui nilai-nilai sakral tumbilotohe yang saat ini terus menerus mengalami pergeseran nilai. Kepada para penceramahlah dan tokoh adat kita berharap untuk selalu memberikan pencerahan kepada masyarakat untuk selalu mengingatkan dan mempertahankan sakralnya budaya Tumbilotohe Gorontalo sepanjang masa.

* Penulis Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Gorontalo juga Ketua Pemberdayaan Ekonomi Umat MUI Provinsi Gorontalo

Tags: PerspektifTumbilotohe
Previous Post

Pemantauan Hilal 1 Syawal Berlokasi di Pantai Botubarani Gorontalo

Next Post

Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi Lepas 125 Pemudik dalam Program Mudik Gratis MyPertamina 2026 “Mudik Aman Berbagi Harapan”

Related Posts

Perspektif

Ketika Benteng Pemberantasan Korupsi Ikut Diguncang, Siapa yang Menjaga Kepercayaan Publik?

Sabtu 11 Juli 2026
Perspektif

Evaluasi POLRI: Hentikan Abuse of Power dan Stop Tindakan Represif Oknum Polisi Terhadap Rakyat

Selasa 30 Juni 2026
Irwan Bempah saat menghadiri Penas Petani dan Nelayan Gorontalo
Perspektif

PENAS XVII Gorontalo : Lahirnya Gagasan Besar untuk Pertanian Indonesia

Kamis 25 Juni 2026
Perspektif

Alarm Revolusi: Indonesia Sedang Tidak Baik-Baik Saja, Saatnya Kita Semua Mengambil Sikap Tegas

Kamis 11 Juni 2026
Perspektif

Pancasila 1 Juni: Warisi Apinya, Bukan Abunya

Senin 1 Juni 2026
Perspektif

DPC GMNI Jakarta Timur Hadir Membuka Bantuan Hukum untuk Kaum Marhaen dan Kaum Marjinal

Kamis 28 Mei 2026
Next Post

Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi Lepas 125 Pemudik dalam Program Mudik Gratis MyPertamina 2026 “Mudik Aman Berbagi Harapan”

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

  • Kapolresta Gorontalo Kota, Kombes Pol Muhammad Junaeddy Johnny saat melaksanakan tradisi PedangPora di Polresta Gorontalo Kota, Kamis (9-7-2026). Putra/Gopos

    Profil Lengkap Kapolresta Gorontalo Kota Kombes Pol Muhammad Junaeddy Johnny

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cahaya Itu Kini Berpulang, Jejak Rachmat Gobel untuk Negeri dan Gorontalo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gelar Adat untuk Almarhum Rachmat Gobel: Taa Lo’o Lamahe Lipu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gorontalo Berduka, Idah Syahidah Rusli Habibie Sebut Almarhum Rachmat Gobel Orang Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cerita Aspik Nalole: Kenang Kebaikan Almarhum Rachmat Gobel Semasa Hidup

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
WA Saluran
Facebook X-twitter Youtube Instagram TikTok

© 2019 – 2023 Gopos.id  |  Gopos Media Online Indonesia | Gorontalo.

Iklan  |  Karir  |  Pedoman Media Cyber  |  Ramah Anak  |  Susunan Redaksi  |  Tentang Kami  |  Disclaimer

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • Info Pasar
    • INFOGRAFIS
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Ayo Germas
    • Boalemo
    • Bone Bolango
    • Kotamobagu
    • Bolmong Utara
    • Gorontalo Hebat
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Kota Smart
    • Pohuwato
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi

© 2019-2023 Gopos.id Gopos Media Online Indonesia | Gorontalo.