Oleh: Hasanudin Djadin
Hari ini, 25 November 2025, kita kembali memeringati Hari Guru Nasional. Peringatan tahunan yang sudah ke-80 kali dilaksanakan. Gegap gempita perayaan ini bukan sekadar pembangkit memori Kongres Guru di Surakarta 24-24 November 1945 silam. Lebih dari itu merupakan sebuah momentum refleksi atas peran mulia para pendidik dalam mengukir wajah bangsa.
Guru adalah pilar peradaban. Tanpa guru, tidak ada murid yang tumbuh menjadi pemimpin, ilmuwan, atau warga negara yang berkarakter. Namun di balik itu, derasnya arus artificial intelegensi atau akal imitasi, muncul pertanyaan besar terhadap eksistensi dan kiprah para guru.
Kehadiran Chat GPT yang diinisiasi oleh Open AI pada 2022, membawa disrupsi akal imitasi. Inisiasi tersebut tidak hanya mendorong lahirnya ribuan platprom berbasis AI, tetapi juga membuka lebar interaksi publik dengan akal imitasi. Terutama di kalangan generasi muda.
Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2025 menyebutkan, generasi Z menempati urutan teratas dalam pemanfaatan AI dengan porsi mencapai 43,7 persen. Lalu generasi Milenial dengan porsi 22,3 persen. Situasi ini mencerminkan akal imitasi telah menjadi bagian dalam kehidupan anak-anak muda di Indonesia.
Dalam berbagai aspek, termasuk ruang pendidikan, tak lepas dari interaksi akal imitasi. Murid kini bisa belajar dari algoritma. Bisa mendapat jawaban instan dalam waktu sepersekian detik, dan bisa mengakses pengetahuan tanpa batas. Semuanya menjadi bisa karena kini akal imitasi mampu menulis, menjawab soal bahkan mengajar dengan sentuhan personalisasi.
Lalu apakah peran guru akan tergantikan? Justru di sinilah titik krusialnya. Pendidikan bukan hanya sekadar transfer data, tapi juga proses untuk menumbuhkan karakter, intuisi, dan empati. Itulah sifat dasar guru yang merupakan penumbuh jiwa, pembentuk karakter dan empati.
Akal imitasi boleh mengambil alih hafalan, menghadirkan jawaban instan, ataupun memberikan pengajaran. Walaupun begitu akal imitasi tidak menggantikan peran guru sebagai penjaga nilai kemanusiaan yang menanamkan etika, moral dan kebijaksanaan. Akal imitasi tak bisa menggeser kiprah guru sebagai fasilitator berpikir kritis: membimbing murid memilah informasi, menghindari misinformasi, dan menggunakan teknologi dengan bijak.
Tak kalah penting peran guru yang tak tergantikan adalah inspirator dan penghubung tradisi. Guru menjaga akar budaya sekaligus membuka cakrawala global, membangun motivasi, menumbuhkan rasa ingin tahu, dan membentuk kepemimpinan.
Walaupun begitu, pendidikan harus beradaptasi. Guru harus cakap literasi digital agar tidak tertinggal. Pemerintah wajib memastikan pelatihan berkelanjutan, penghargaan layak, dan perlindungan sosial. Dan tentunya, masyarakat harus menegaskan kembali penghormatan terhadap guru sebagai inti pendidikan.***
Penulis adalah penanggung jawab media online gopos.id








