GOPOS.ID, UNBITA– Universitas Bina Taruna Gorontalo (UNBITA) menegaskan komitmennya dalam perlindungan anak dan keadilan gender melalui keterlibatan aktif pada VOICE (Voicing Our Identity, Courage, and Empowerment) – Regional Training of Trainers 2026. Program ini diselenggarakan oleh PP IPM bekerja sama dengan UNICEF Indonesia, dan berlangsung pada 24–27 Januari 2026 di BPMP Provinsi Gorontalo.
Kegiatan ini membekali pelajar usia 16–22 tahun dengan pengetahuan, keterampilan fasilitasi, dan perspektif keadilan gender untuk mencegah praktik Pernikahan Anak serta Pemotongan/Pelukaan Genital Perempuan (FGM/CM).
Rektor Universitas Bina Taruna Gorontalo, Dr. Ellys Rachman, menyatakan bahwa kolaborasi bersama UNICEF melalui program VOICE merupakan langkah strategis untuk memperkuat peran mahasiswa sebagai agen perubahan sosial, terutama di wilayah yang masih menghadapi tantangan praktik berisiko terhadap anak dan perempuan.
“Program VOICE menghadirkan pendekatan edukasi yang komprehensif dan terstandarisasi. Keterlibatan UNBITA adalah komitmen nyata untuk membekali mahasiswa dengan keberanian moral, kepemimpinan, dan kapasitas fasilitasi guna mencegah praktik Pernikahan Anak dan FGM/CM,” ujar Dr. Ellys
Program VOICE menggunakan modul terstandarisasi UNICEF, pendekatan nilai Islam Berkemajuan, serta penguatan kapasitas kepemimpinan agar peserta mampu menjadi fasilitator perlindungan anak yang aktif, reflektif, dan berdampak di komunitas masing-masing. Isu ini dinilai sangat mendesak di Gorontalo, mengingat praktik Pernikahan Anak dan FGM/CM masih ditemukan di sejumlah wilayah sehingga membutuhkan edukasi berkelanjutan yang sensitif budaya dan berbasis nilai.
Rahmadia O. Ladawing, mahasiswa utusan Universitas Bina Taruna Gorontalo, menyampaikan bahwa pelatihan VOICE memperluas wawasan peserta sekaligus memberikan bekal praktis untuk melakukan edukasi di masyarakat.
“Kami belajar memahami isu secara mendalam sekaligus cara menyampaikannya dengan empati dan berbasis nilai. Ini penting karena di Gorontalo praktik-praktik tersebut masih ada, sehingga pendekatan edukasi harus tepat dan diterima masyarakat,” ungkap Rahmadia
Rektor UNBITA menekankan bahwa peran perguruan tinggi tidak berhenti pada pendidikan akademik, tetapi juga pada tanggung jawab sosial untuk mendorong perubahan perilaku di masyarakat melalui kader-kader muda yang terlatih.
“Mahasiswa harus hadir sebagai jembatan pengetahuan dan nilai. Dengan pelatihan seperti VOICE, mereka memiliki kapasitas untuk mengedukasi masyarakat secara konstruktif dan berkelanjutan,” tegas Dr. Ellys
Selama pelatihan, peserta dibekali teknik fasilitasi partisipatif, analisis konteks sosial, serta strategi advokasi komunitas agar mampu mengonversi pengetahuan menjadi aksi nyata pencegahan di tingkat lokal. Pendekatan nilai Islam Berkemajuan dinilai efektif untuk membingkai isu sensitif secara kontekstual dan dapat diterima oleh berbagai kalangan.
Rahmadia O. Ladawing menambahkan bahwa pendekatan tersebut memperkuat kepercayaan diri peserta saat berdialog dengan masyarakat.
“Pendekatan keagamaan yang progresif membuat pesan perlindungan anak lebih mudah diterima. Ini menjadi bekal penting ketika kami kembali ke komunitas masing-masing,” jelasnya.
Rektor UNBITA juga mengapresiasi konsistensi UNICEF Indonesia dan PP IPM dalam menghadirkan program penguatan generasi muda yang terstandar dan berdampak, serta menegaskan kesiapan UNBITA untuk terus bersinergi dalam agenda perlindungan anak.
“UNBITA siap berkolaborasi berkelanjutan. Upaya pencegahan harus dilakukan secara sistematis dan melibatkan pendidikan tinggi sebagai penggerak perubahan,” ujarnya
Melalui keterlibatan dalam VOICE 2026, UNBITA menegaskan perannya sebagai perguruan tinggi yang berorientasi pada penguatan karakter, kepemimpinan sosial, dan kontribusi nyata bagi masyarakat, khususnya dalam merespons urgensi edukasi pencegahan praktik Pernikahan Anak dan FGM/CM di Gorontalo.
Rahmadia O. Ladawing menutup dengan komitmen untuk menindaklanjuti hasil pelatihan secara berkelanjutan.
“Kami membawa pulang tanggung jawab untuk terus mengedukasi dan memfasilitasi perlindungan anak agar perubahan nyata dapat terwujud di lingkungan kami,” pungkasnya. (Rama/Gopos)








