GOPOS.ID, JEMBER – BPBD Kabupaten Jember mengambil langkah berbeda dalam menghadapi persoalan sampah. Instansi penanggulangan bencana itu kini menerapkan pengelolaan sampah mandiri dari lingkungan kantornya.
Langkah tersebut muncul setelah melihat kondisi TPA Pakusari yang semakin kritis. Setiap hari, sekitar 200 ton sampah masuk ke lokasi tersebut dengan tumpukan yang telah mencapai sekitar 25 meter.
Kepala BPBD Jember, Edy Budi Susilo, mengatakan perubahan harus dimulai dari lingkungan kerja sendiri. Menurutnya, aktivitas harian pegawai turut menghasilkan sampah yang perlu dikelola.
“Kami di BPBD menginisiasi dan mencoba mengelola sampah hasil produk dari kita semua. Setelah kami hitung, volumenya lumayan, sekitar 5 sampai 7 kilogram per hari,” ujar Edy, Rabu (3/6).
Untuk sampah organik seperti sisa makanan dan daun kering, BPBD menggunakan tong komposter khusus. Hasil pengolahannya berupa pupuk cair dan kompos yang dimanfaatkan untuk penghijauan kantor.
“Sampah sisa makanan dan dedaunan tidak lagi dibuang ke tempat sampah umum. Semuanya kami olah melalui instalasi komposter,” jelasnya.
Sementara sampah anorganik seperti botol plastik, gelas bekas, kertas, dan kardus dipisahkan dalam kondisi bersih. Sampah bernilai ekonomi itu kemudian dikumpulkan secara khusus.
“Ada dua orang pemulung yang biasanya singgah ke tempat kami. Sampah daur ulang ini kami berikan sebagai sedekah sampah yang memiliki nilai ekonomi,” katanya.
BPBD juga menyediakan wadah tersendiri untuk sampah residu yang tidak dapat didaur ulang agar tidak tercampur dengan jenis sampah lainnya. Sistem ini diterapkan melalui pemilahan berdasarkan kategori sampah.
“Kami berharap langkah kecil yang konsisten ini dapat menginspirasi instansi pemerintah lainnya di Jember,” pungkas Edy.(kur)








