No Result
View All Result
gopos.id
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • INFOGRAFIS
    • Info Pasar
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Pohuwato
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Boalemo
    • Kotamobagu
    • Bolmut
    • Kota Smart
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • INFOGRAFIS
    • Info Pasar
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Pohuwato
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Boalemo
    • Kotamobagu
    • Bolmut
    • Kota Smart
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi
No Result
View All Result
No Result
View All Result
gopos.id

Jadilah Guru yang Dirindui, Bukan Guru yang Ditakuti

Hasan by Hasan
Senin 24 November 2025
in Perspektif
0
0
SHARES
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

(Refleksi dalam rangka Hari Guru Nasional 2025)

Penulis: Muh. Ghufron Suratman*

Setiap tanggal 25 November, kita memperingati Hari Guru sebagai momentum untuk menghargai perjuangan para pendidik. Di balik papan tulis atau LCD, buku pelajaran, dan tumpukan tugas, ada sosok guru yang setiap hari berhadapan dengan beragam karakter peserta didik. Namun, di tengah penghormatan itu, ada pertanyaan penting yang perlu direnungkan: Penulis yang juga berprofesi sebagai guru yang setiap hari bertemu, bertatap muka dan berinteraksi secara langsung dengan murid, kadang duduk termenung berdialog dengan diri tentang setiap interaksi dengan murid yang dialami. Guru terlalu keras menegur bisa  dikriminalisasi, membiarkan segala apa yang terjadi dan dilakukan murid dibilang guru kok begitu. Semua sikap yang diambil menjadi semacam buah simalakama alias maju kena mundur kena.Yang pada akhirnya dalam benak penulis muncul pertanyaan: Kita ingin dikenal sebagai guru seperti apa? Kita ingin di dikenang sebagai apa..? Guru yang dirindukan kehadirannya, atau guru yang justru ditakuti dan dihindari ?Saat kita tidak hadir diruang kelas murid akan riang gembira ? Semua pertanyan ini menjadi renungan bagi kita semua sebagai guru saat ini.

Menjadi guru yang ditakuti memang terlihat “mudah”. Cukup bersikap keras, kurangi  senyum, pasangan watak, sering memarahi, memberi hukuman tanpa dialog, dan menunjukkan bahwa guru selalu benar. Semua proses itu sekilas, memang kelas tampak tertib, siswa terlihat diam, menunduk memperhatikan apa yang disampaikan dan aturan seolah berjalan dengan rapi dan tertib. Namun, di balik ketenangan itu, bisa jadi ada hati yang terluka, ada anak yang belajar dalam tekanan, dan ada jiwa yang hadir hanya secara fisik, bukan dengan sepenuh hati. Ketakutan mungkin bisa membuat siswa patuh, tetapi jarang melahirkan kecintaan terhadap belajar, hingga diluar sana didunia mereka di alam mereka di cirkle mereka umpatan bahkan cacian terhadap kita sebagai guru  menjadi bahasa dialog mereka dan menjadi hal biasa.

Baca Juga :  Langkah dari Bongohulawa: Pramuka, Budaya, dan Jejak Kebersamaan

Sebaliknya, menjadi guru yang dirindukan membutuhkan lebih banyak kesabaran, empati, dan kerendahan hati. Guru yang dirindukan bukan berarti guru yang “lembek” atau membiarkan siswa semaunya. Justru guru seperti ini tetap tegas, tetapi ketegasannya dibalut dengan kasih sayang. Ia tidak hanya menegakkan aturan, tetapi juga menjelaskan alasan di balik setiap aturan. Ia tidak hanya memberi nilai, tetapi juga memberi bimbingan dan kesempatan untuk memperbaiki diri.

Guru yang dirindukan adalah guru yang mampu menghadirkan rasa aman di kelas. Di hadapannya, siswa merasa tidak takut untuk bertanya, tidak malu mengakui kesalahan, dan tidak ragu mengungkapkan kesulitan. Ketika seorang siswa tertinggal dalam pelajaran, guru ini tidak buru-buru melabeli “bodoh” atau “malas”, tetapi mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin ada masalah di rumah, mungkin ada rasa minder, atau mungkin cara belajar yang digunakan belum cocok. Guru yang dirindukan berusaha memahami sebelum menghakimi.

Dalam dunia yang penuh tantangan seperti sekarang, peserta didik bukan hanya butuh penjelasan materi, tetapi juga butuh teladan sikap. Guru yang dirindukan adalah guru yang tutur katanya dijaga, yang sikapnya konsisten antara di kelas dan di luar kelas, serta yang tidak merendahkan martabat peserta didik, apa pun latar belakangnya. Murid mungkin lupa rumus atau teori yang diajarkan, tetapi mereka tidak akan lupa bagaimana perasaan mereka ketika bersama guru tersebut: apakah mereka merasa dihargai, dimanusiakan, dan dikuatkan.

Menjadi guru yang dirindukan juga berarti siap tumbuh bersama zaman beradaptasi dengan perubahan, menyesuaikan dengan zaman. Generasi hari ini berbeda dengan generasi dulu. Generasi masa kini mereka lebih kritis, lebih cepat bosan, dan lebih dekat dengan teknologi. Guru yang dirindukan bukan berarti harus selalu “kekinian” mengikuti semua tren, tetapi mau beradaptasi: mencoba metode baru, memanfaatkan teknologi, dan membuka ruang dialog dua arah. Ketika guru mau belajar dari muridnya, di situlah terjadi hubungan yang saling menghargai.

Baca Juga :  Kiayi dan Santri dalam Lingkaran Perselisihan

Namun, semua itu tentu tidak mudah. Terkadang lelah mengajar, tumpukan kewajiban  administrasi, masalah pribadi, dan berbagai beban lain membuat guru mudah terpancing emosi. Di titik inilah refleksi menjadi penting. Saat suara mulai meninggi dan sabar mulai menipis, mungkin kita perlu berhenti sejenak dan bertanya dalam hati: “Apakah cara saya akan membuat mereka semakin dekat, atau justru semakin jauh?” Sebab, jeritan marah mungkin membuat kelas hening, tetapi kelembutan yang tegas akan membuat hati terbuka.

Di momen Hari Guru ini, ajakan “Jadilah Guru yang Dirindui, Bukan Guru yang Ditakuti” bukan sekadar slogan manis, tetapi panggilan untuk memperbaiki cara kita hadir di hadapan peserta didik. Jadilah guru yang namanya disebut murid bukan dengan rasa cemas, tetapi dengan senyum dan rasa hormat. Jadilah guru yang jika suatu hari tidak hadir, murid benar-benar merasa kehilangan, bukan sekadar senang karena “jam kosong”.

Akhirnya, seorang guru mungkin tidak akan pernah tahu persis seberapa besar pengaruhnya dalam hidup murid-muridnya. Tetapi percayalah, setiap kata yang diucapkan, setiap sikap yang ditunjukkan, dan setiap perhatian yang diberikan akan tertanam di ingatan mereka. Bertahun-tahun kemudian, ketika murid-murid itu tumbuh dewasa, mereka akan mengenang sebagian guru dalam hidup mereka. Saat itulah, semoga nama kita dikenang sebagai sosok yang dirindukan, bukan yang ditakuti.

Selamat Hari Guru. Semoga kita semua terus diberi kekuatan untuk menjadi guru yang mengajar dengan ilmu, membimbing dengan keteladanan, dan menyentuh hati dengan kasih sayang, selaras dengan kurikulum berbasis cinta yang sedang di gaungkan oleh kementerian Agama RI. #Selamat Hari Guru Nasional 2025#

* Penulis Adalah Guru pada MTs dan MA Alkhairaat Kota Gorontalo.

Tags: Hari GuruPerspektif
Previous Post

Bupati Pohuwato Terima Laporan Keuangan Bank Sulut-Go Triwulan III 2025

Next Post

Pemkab Boalemo Sokong Produktivitas 45 Nelayan

Related Posts

Funco Tanipu (Founder The Gorontalo Institute)
Perspektif

Mengapa Anak Muda Selalu Kalah dalam Politik Gorontalo?

Rabu 28 Oktober 2026
Perspektif

Pemuda Berkemajuan: Merawat Idealisme, Menggerakkan Perubahan, Mencerahkan Peradaban

Selasa 27 Oktober 2026
Perspektif

Siti Asiyah Sang Pejuang Iman Dari Sungai Nil

Jumat 23 Oktober 2026
Dr. Dolot Alhasni Bakung. SH., MH adalah dosen tetap di lngkungan Fakultas Hukum Universitas Negeri Gorontalo sejak tahun 2009 dan saat ini menjabat Ketua Pusat Kajian Hukum Argaria Fakultas Hukum UNG. Tulisan ini disarikan dari artikel jurnal penulis tentang tanah yang berjudul “Challenging the State’s Monopoly on Legality over Customary Land in Gorontalo: ‘Land Without a State: Unpacking the Legal Absence of Land in Gorontalo’s Customary Law Communities’.
Perspektif

Adat Dijunjung, Tanah Adat Terlupakan: Gugatan dari Bumi Hulondalo

Senin 19 Oktober 2026
Perspektif

Tidak Membongkar Bangunan Tua, Mengapa Adhan Harus Menanggung Perkara?

Senin 19 Oktober 2026
Perspektif

Bahasa Kekuasaan dan Politik Bencana Karhutla

Jumat 16 Oktober 2026
Next Post
Wakil Bupati Boalemo, Lahmudin Hambali, menyerahkan bantuan bagi 45 nelayan

Pemkab Boalemo Sokong Produktivitas 45 Nelayan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

  • Kejati Tahan Eks Pj Gubernur Gorontalo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Santriwati Meninggal Tenggelam, Keluarga Polisikan Pimpinan Ponpes Hubulo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • “Perintah” Eks Pj Gubernur ke Syukri Botutihe Proyek Video Wall Kini Didalami Kejati

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pengakuan Karyawan PT GM saat Demo Penambang: Dikejar, Barang Berharga Hilang 

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Masa Aksi Penambang Suwawa Diduga Jarah Gudang Logistik PT GM

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
WA Saluran
Facebook X-twitter Youtube Instagram TikTok

© 2019 – 2023 Gopos.id  |  Gopos Media Online Indonesia | Gorontalo.

Iklan  |  Karir  |  Pedoman Media Cyber  |  Ramah Anak  |  Susunan Redaksi  |  Tentang Kami  |  Disclaimer

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • Info Pasar
    • INFOGRAFIS
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Ayo Germas
    • Boalemo
    • Bone Bolango
    • Kotamobagu
    • Bolmong Utara
    • Gorontalo Hebat
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Kota Smart
    • Pohuwato
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi

© 2019-2023 Gopos.id Gopos Media Online Indonesia | Gorontalo.