GOPOS.ID, GORONTALO – Di antara suara mesin molen dan derap langkah prajurit yang menata rabat beton, aroma kopi hangat tiba-tiba menyeruak dari sudut rumah warga di Desa Tonala.
Asap tipis mengepul dari cangkir-cangkir, disuguhkan oleh tangan keriput seorang ibu paruh baya yang semua orang di kampung memanggilnya, Ibu Rosita Harun.
Bukan tanpa alasan, setiap lembur, ia datang membawa teko besar berisi kopi hitam. Dengan langkah pelan namun pasti, ia menyapa satu per satu prajurit yang sedang bekerja, seolah kehadirannya menjadi jeda kecil di antara kerasnya pekerjaan membangun desa.
“Saya tidak bisa bantu angkat semen, tapi saya bisa buatkan kopi. Ini cara saya bantu mereka,” ujar Rosita sambil tersenyum malu, tangannya masih sibuk menuang kopi ke gelas plastik.
Prajurit yang menerima segelas kopi darinya selalu menyelipkan senyum, sebagian bahkan menyebutnya “ibu semangat TMMD”. Bagi mereka, kopi buatan Ibu Rosita bukan sekadar minuman, tapi bentuk kasih sayang yang tulus dari masyarakat kepada TNI.
“Setiap kali kami lelah, Ibu datang dengan kopi hangat. Rasanya seperti minum semangat,” ucap Serka Sucipto prajurit sambil tertawa ringan.
Kisah Ibu Rosita bukan sekadar tentang kopi. Ia adalah potret sederhana tentang gotong royong, tentang bagaimana setiap warga desa memiliki cara unik berkontribusi. Di tengah rabat beton yang kian keras, hatinya tetap lembut memberi kehangatan.
Dan di balik setiap cangkir kopi yang ia suguhkan, ada pesan sederhana, bahwa membangun desa bukan hanya soal tenaga, tapi juga soal hati. (Isno/gopos)








