GOPOS.ID, GORONTALO – Rabu, 5 November 2025, rumah jabatan Gubernur Gorontalo terasa lebih hidup dari biasanya. Di ruang tamu yang hangat, sejumlah tokoh sepuh duduk bersisian, dengan senyum tenang. Mereka bukan pejabat aktif, tapi jejak pengabdiannya masih tertanam dalam sejarah birokrasi dan pelayanan publik Gorontalo. Mereka adalah anggota Persatuan Pensiunan Indonesia (PPI), datang membawa semangat baru: tetap berkontribusi meski sudah purna tugas.
Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail menyambut audiensi PPI Gorontalo dengan ajakan yang tak biasa. Ia meminta para pensiunan untuk terus menjadi bagian dari pembangunan daerah, bukan sekadar penonton dari pinggir arena.
“Saya menganggap PPI adalah bagian penting dari sejarah pembangunan Gorontalo. Meski sudah purna tugas, semangat dan pengalaman yang dimiliki masih sangat dibutuhkan,” ujar Gusnar dalam pertemuan itu.
PPI, yang berdiri secara nasional pada 17 Maret 2022 dan telah menggelar kongres pertamanya pada Juli tahun yang sama, menghimpun pensiunan dari berbagai latar belakang: PNS, pegawai BUMN, pejabat negara, hingga tokoh masyarakat. Organisasi ini bertujuan memperjuangkan hak-hak pensiunan sekaligus menjadi mitra pemerintah dalam menggerakkan program berbasis pengalaman dan keahlian.
Ketua PPI Gorontalo, Weni Liputo, menyampaikan kesiapan mereka untuk dikukuhkan secara resmi oleh Gubernur, setelah seluruh persyaratan administratif dipenuhi. Ia menegaskan bahwa PPI bukan bentuk dualisme dari organisasi pensiunan lain, melainkan entitas yang berdiri dengan visi berbeda.
“Kami akan segera berkoordinasi dengan Badan Kesbangpol Provinsi Gorontalo untuk memenuhi segala ketentuan, agar segera bisa dikukuhkan,” kata Weni. “Perlu kami sampaikan ini bukan bentuk dualisme dari organisasi pensiunan lainnya, karena memang pada dasarnya berbeda.”
Gubernur Gusnar menyampaikan apresiasi dan rasa hormat kepada para pensiunan yang telah mengabdi bagi bangsa dan daerah. Ia berharap PPI bisa bersinergi dengan pemerintah daerah, menjadi ruang reflektif sekaligus produktif bagi para tokoh yang pernah memegang kendali roda pemerintahan.
Di tengah arus regenerasi dan perubahan kebijakan, suara para pensiunan sering kali tenggelam. Padahal, mereka menyimpan arsip hidup tentang bagaimana negeri ini dibangun dari bawah. Jika diberi ruang, pengalaman mereka bisa menjadi jangkar moral dan kompas kebijakan. Di Gorontalo, harapan itu mulai menyala kembali.(rls/hasan/gopos)








