GOPOS.ID, TIBAWA – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Tahap II Universitas Negeri Gorontalo (UNG) Tahun 2026 melaksanakan Sekolah Lapang Budidaya Sorgum Adaptif Iklim di Dusun Sakulati, Desa Tolotio, Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo, Sabtu (5/9/2026).
Kegiatan yang menjadi salah satu program kerja inti KKN Tematik II tersebut diikuti oleh 30 petani Desa Tolotio bersama mahasiswa peserta KKN. Sekolah lapang dilaksanakan langsung di lahan budidaya sorgum sehingga peserta dapat mempelajari dan mempraktikkan teknik pengelolaan tanaman sesuai dengan kondisi lapangan.
Materi sekolah lapang disampaikan oleh tim Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), yaitu Irwan Bempah, Rival Rahman, dan Agus Bahar Rachman. Materi yang diberikan meliputi manajemen air, strategi adaptasi terhadap perubahan iklim, teknik pemupukan, serta penerapan sistem blok dalam budidaya sorgum.
Melalui materi manajemen air, petani dibekali pengetahuan mengenai penggunaan air secara efisien dan upaya menjaga kelembapan tanah. Materi adaptasi iklim menekankan pentingnya menyesuaikan waktu tanam dan pemeliharaan tanaman dengan kondisi cuaca.
Sementara itu, teknik pemupukan dan sistem blok diperkenalkan untuk mendukung pertumbuhan tanaman, mempermudah pemeliharaan, dan meningkatkan efektivitas pengelolaan lahan.
Ketua DPL, Irwan Bempah menjelaskan, bahwa sekolah lapang tersebut terlaksana berkat kolaborasi antara Fakultas Pertanian UNG dan PT Sorbu Agro Energi yang diimplementasikan melalui Program KKN Tematik Tahap II Tahun 2026.
“Kolaborasi ini dirancang untuk mendekatkan pengetahuan dan teknologi budidaya sorgum kepada masyarakat. Petani tidak hanya menerima materi, tetapi juga belajar dan mempraktikkannya secara langsung di lahan,” ujar Irwan.
Menurutnya, keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat proses pendampingan petani sekaligus menjadi sarana pembelajaran lapangan bagi mahasiswa. Program tersebut juga menjadi bagian dari upaya membangun kemitraan antara perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat dalam pengembangan komoditas sorgum.
Sekolah lapang ini diharapkan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam menerapkan budidaya sorgum yang efisien serta mampu menghadapi ketidakpastian iklim. Ke depan, lahan budidaya di Dusun Sakulati diharapkan dapat berkembang sebagai demplot pembelajaran sorgum bagi petani dan masyarakat Desa Tolotio. (Firsa/Gopos)








