No Result
View All Result
gopos.id
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • INFOGRAFIS
    • Info Pasar
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Pohuwato
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Boalemo
    • Kotamobagu
    • Bolmut
    • Kota Smart
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • INFOGRAFIS
    • Info Pasar
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Pohuwato
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Boalemo
    • Kotamobagu
    • Bolmut
    • Kota Smart
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi
No Result
View All Result
No Result
View All Result
gopos.id

Kartini di Persimpangan: Paradoks Kartini di Tengah Arus Perkembangan Zaman

Ramos by Ramos
Selasa 21 April 2026
in Universitas Bina Taruna
0
Screenshot

Screenshot

0
SHARES
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

GOPOS.ID, – Hari Kartini seharusnya menjadi penanda kemajuan, namun realitas mutakhir justru menunjukkan ironi yang sulit diabaikan. Di satu sisi, perempuan Indonesia semakin terlihat di ruang-ruang publik di kampus, di parlemen, di dunia kerja, bahkan dalam posisi kepemimpinan. Namun di sisi lain, ruang yang mereka masuki belum sepenuhnya menjadi ruang yang aman. Kemajuan yang dirayakan hari ini berdiri berdampingan dengan kerentanan yang terus berulang, menciptakan sebuah paradoks yang menempatkan perempuan pada posisi antara capaian dan ancaman.

Paradoks ini menjadi semakin nyata ketika melihat data kekerasan berbasis gender yang terus meningkat. Sepanjang tahun 2025, tercatat lebih dari 376 ribu kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia, angka tertinggi dalam satu dekade .Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan representasi dari kegagalan kolektif dalam memastikan bahwa setiap ruang baik domestik, publik, maupun digital benar-benar aman bagi perempuan. Bahkan, relasi personal yang seharusnya menjadi tempat paling aman justru menjadi locus dominan kekerasan, menegaskan bahwa ancaman tidak selalu datang dari luar, tetapi seringkali dari yang paling dekat.

Dalam eskalasi kekerasan tersebut, femisida muncul sebagai bentuk paling ekstrem dari dehumanisasi perempuan. Femisida tidak sekadar pembunuhan, tetapi pembunuhan yang dilandasi oleh motif kontrol, kepemilikan, dan dominasi terhadap tubuh perempuan . Pola yang berulang di mana pelaku sering berasal dari relasi intim menunjukkan bahwa kekerasan ini bersifat sistemik, bukan insidental. Ia tumbuh dari struktur sosial yang masih menempatkan perempuan sebagai objek, bukan sebagai subjek yang otonom.

Di saat yang sama, transformasi digital yang diharapkan membuka ruang partisipasi justru melahirkan bentuk baru eksploitasi. Kekerasan berbasis gender online menjadi salah satu kategori tertinggi dalam laporan kekerasan seksual, dengan ribuan kasus yang terus meningkat . Tubuh perempuan tidak lagi hanya dieksploitasi secara fisik, tetapi juga secara digital diproduksi, disebarkan, dan dikonsumsi dalam logika pasar dan algoritma. Perempuan hadir dalam ruang digital, tetapi seringkali tanpa kontrol atas representasi dirinya sendiri.

Baca Juga :  Dr. Ellys Rachman Ajak Civitas Akademik UNBITA Terus Berinovasi di Tahun 2024

Persoalan representasi ini menjadi krusial karena kehadiran perempuan tidak selalu berbanding lurus dengan kekuasaan yang dimilikinya. Representasi perempuan dalam berbagai sektor seringkali bersifat simbolik, tanpa diikuti oleh otonomi dalam pengambilan keputusan. Perempuan dihadirkan, tetapi tidak sepenuhnya didengar; dilibatkan, tetapi tidak sepenuhnya menentukan. Dalam konteks ini, representasi menjadi semu ia terlihat, tetapi tidak substansial.

Ketiadaan otonomi ini juga tercermin dalam kehidupan ekonomi perempuan. Di tengah meningkatnya partisipasi perempuan dalam dunia kerja, mereka masih dihadapkan pada berbagai bentuk ketimpangan, mulai dari akses hingga penghargaan atas kerja. Perempuan kerap ditempatkan pada posisi yang lebih rentan, baik dalam sektor formal maupun informal, dengan perlindungan yang terbatas dan risiko eksploitasi yang tinggi. Dalam banyak kasus, kerja perempuan dipandang sebagai pelengkap, bukan sebagai kontribusi utama.

Lebih jauh, perempuan juga menanggung beban ganda yang jarang diakui secara struktural. Mereka tidak hanya dituntut untuk produktif secara ekonomi, tetapi juga tetap memikul tanggung jawab domestik yang tidak terdistribusi secara adil. Beban ini bersifat invisibel tidak tercatat dalam statistik ekonomi, tetapi memiliki dampak nyata terhadap kualitas hidup perempuan. Di titik ini, ketidakadilan tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan yang kasat mata, tetapi juga dalam distribusi peran yang timpang.

Ketimpangan tersebut semakin dipertegas oleh persoalan upah. Kesenjangan upah antara perempuan dan laki-laki masih menjadi realitas yang belum terselesaikan, bahkan untuk pekerjaan dengan nilai dan beban yang setara. Ini menunjukkan bahwa sistem ekonomi masih mereproduksi bias gender yang menempatkan kerja perempuan sebagai kurang bernilai. Upah bukan sekadar soal ekonomi, tetapi juga soal pengakuan dan dalam hal ini, perempuan masih belum sepenuhnya diakui.

Baca Juga :  UNBITA Gorontalo Jalin Kemitraan dengan Bank Indonesia

Dalam lanskap yang kompleks ini, Kartini berada di persimpangan makna. Ia tidak lagi cukup dibaca sebagai simbol emansipasi, tetapi harus dipahami sebagai kritik terhadap realitas yang belum berubah secara fundamental. Semangat Kartini hari ini tidak hanya tentang membuka akses, tetapi juga tentang memastikan bahwa akses tersebut tidak berujung pada kerentanan baru. Emansipasi tanpa perlindungan hanya akan memindahkan perempuan dari satu bentuk ketidakadilan ke bentuk lainnya.

Sebagai Rektor Universitas Bina Taruna Gorontalo, saya memandang bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab strategis dalam menjawab paradoks ini. Kampus tidak boleh hanya menjadi ruang produksi pengetahuan, tetapi juga harus menjadi ruang aman yang bebas dari kekerasan dan diskriminasi. Lebih dari itu, kampus harus mampu membangun kesadaran kritis tentang isu-isu perempuan, serta mendorong lahirnya kebijakan dan praktik yang berperspektif gender.

Momentum Hari Kartini ini menuntut lebih dari sekadar perayaan. Ia menuntut keberanian untuk melihat realitas secara jernih, mengakui ketimpangan yang ada, dan bergerak secara kolektif untuk mengubahnya. Kartini di persimpangan adalah refleksi tentang kita hari ini apakah kita akan melanjutkan perjuangannya secara substantif, atau justru berhenti pada simbolisme yang kehilangan makna.

Pada akhirnya, kemajuan perempuan tidak dapat diukur hanya dari seberapa jauh mereka melangkah ke ruang publik, tetapi dari seberapa aman, adil, dan bermartabat ruang tersebut bagi mereka. Di titik inilah, perjuangan Kartini menemukan relevansinya kembali bukan sebagai sejarah yang selesai, tetapi sebagai agenda yang belum tuntas. (Rama/Gopos)

Tags: Dr. Ellys RacmanHari KartiniUNBITA
Previous Post

Operasi Ketupat Otanaha 2026: Keberhasilan dan Kepuasan Masyarakat Gorontalo

Next Post

Hari Kartini Momentum DWP Bone Bolango Bentuk Karakter Anak di Sekolah

Related Posts

Universitas Bina Taruna

Kartini di Persimpangan: “Paradoks Kartini di Tengah Arus Perkembangan Zaman”

Selasa 21 April 2026
Screenshot
Universitas Bina Taruna

Dorong Kampus Aman dan Berkeadilan, Mahasiswa UNBITA Respons Kasus Kekerasan Seksual UI

Kamis 16 April 2026
Screenshot
Universitas Bina Taruna

Akselerasi Riset UNBITA, 22 Dosen Lolos Pendanaan Kemendiktisaintek

Jumat 10 April 2026
Screenshot
Universitas Bina Taruna

Lewati Seleksi Berlapis, UNBITA Tetapkan Wakil Terbaik PILMAPRES 2026 ke LLDIKTI XVI

Kamis 9 April 2026
Screenshot
Universitas Bina Taruna

UNBITA Gelar Seleksi PILMAPRES, Dua Mahasiswa Terbaik Siap Melaju ke LLDIKTI

Rabu 8 April 2026
Screenshot
Gorontalo

Lima Tahun UNBITA, Momentum Refleksi dan Lompatan Menuju Kampus Unggul dan Berdampak

Selasa 7 April 2026
Next Post
Ketua DWP Bone Bolango mempraktikkan cara mencuci tangan yang benar kepada siswa SDN 1 Kabila Bone, Selasa (21/04/26). (Foto Munifa/Diskominfo)

Hari Kartini Momentum DWP Bone Bolango Bentuk Karakter Anak di Sekolah

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

Terpopuler

  • BBPOM di Gorontalo Tindak Peredaran Kosmetik Ilegal, Satu Tersangka Diamankan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • ASN dan PPPK Tak Boleh Rangkap Jabatan sebagai Anggota BPD, Ini Penjelasan Aturannya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Polres Pohuwato Tahan Empat Tersangka Penganiayaan di Lokasi PETI Hulawa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Daftar Kosmetik Ilegal yang Diamankan BBPOM di Gorontalo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Operasi Ketupat Otanaha 2026: Keberhasilan dan Kepuasan Masyarakat Gorontalo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
WA Saluran
Facebook Icon-x Youtube Instagram Icon-ttk

© 2019 – 2023 Gopos.id  |  Gopos Media Online Indonesia | Gorontalo.

Iklan  |  Karir  |  Pedoman Media Cyber  |  Ramah Anak  |  Susunan Redaksi  |  Tentang Kami  |  Disclaimer

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • Info Pasar
    • INFOGRAFIS
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Ayo Germas
    • Boalemo
    • Bone Bolango
    • Kotamobagu
    • Bolmong Utara
    • Gorontalo Hebat
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Kota Smart
    • Pohuwato
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi

© 2019-2023 Gopos.id Gopos Media Online Indonesia | Gorontalo.