No Result
View All Result
gopos.id
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • INFOGRAFIS
    • Info Pasar
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Pohuwato
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Boalemo
    • Kotamobagu
    • Bolmut
    • Kota Smart
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • INFOGRAFIS
    • Info Pasar
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Pohuwato
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Boalemo
    • Kotamobagu
    • Bolmut
    • Kota Smart
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi
No Result
View All Result
No Result
View All Result
gopos.id

Hidup Tanpa Nasi Selama Seabad di Kampung Kampung Cireundeu

Hasan by Hasan
Jumat 29 November 2024
in Menyapa Nusantara
0
Sebuah mesin penggilingan yang dimanfaatkan oleh masyarakat Kampung Cireundeu untuk membuat beras singkong di Kota Cimahi, Jawa Barat, Kamis (24/11/2024). ANTARA/Rubby Jovan

Sebuah mesin penggilingan yang dimanfaatkan oleh masyarakat Kampung Cireundeu untuk membuat beras singkong di Kota Cimahi, Jawa Barat, Kamis (24/11/2024). ANTARA/Rubby Jovan

0
SHARES
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Di tengah pesatnya arus globalisasi dan moderinisasi, sebuah kampung di Jawa Barat mempertahankan tradisi ketahanan pangan dengan cara unik. Kampung Cireundeu, yang terletak di Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, telah menjalani hidup tanpa nasi selama lebih dari 1 abad alias 100 tahun.

Masyarakat di kampung ini tidak hanya bertahan, tetapi juga berhasil mengubah tantangan menjadi sebuah kearifan lokal yang kini menjadi inspirasi banyak orang.

Pada tahun 1918, Kampung Cireundeu mengalami masa-masa sulit. Kekeringan dan paceklik yang melanda kawasan ini membuat tanaman padi sulit tumbuh.

Sebagai alternatif, masyarakat setempat beralih ke singkong sebagai makanan pokok. Singkong, yang dikenal sebagai sumber karbohidrat yang mudah didapat, menjadi penyelamat pada masa itu.

Tidak hanya sebagai makanan, singkong kemudian menjadi simbol ketahanan dan kemandirian masyarakat Cireundeu. Pada tahun 1924, melalui kesepakatan adat, makan nasi dianggap sebagai pantangan, dan singkong diangkat sebagai makanan pokok yang harus dihormati.

Meskipun nasi adalah makanan pokok yang umum, masyarakat Cireundeu memilih untuk memfokuskan pada singkong. Tradisi ini telah bertahan dari generasi ke generasi. Hingga kini.

Menjadi Ikon Ketahanan Pangan

Dulu, Kampung Cireundeu sering dipandang sebelah mata oleh masyarakat luar. Mengonsumsi singkong dianggap rendah dan tidak mencerminkan modernitas.

Namun, seiring waktu, pandangan itu berubah. Kampung Cireundeu kini menjadi destinasi yang banyak dikunjungi oleh berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, peneliti, hingga turis mancanegara.

Mereka datang untuk belajar tentang ketahanan pangan dan keberhasilan masyarakat Cireundeu dalam beralih dari nasi ke singkong, serta bagaimana tradisi ini dipertahankan selama lebih dari 100 tahun.

Bagi warga Cireundeu, hidup berdampingan dengan alam adalah prinsip yang terus dan harus dijaga. Di kampung ini, mereka tidak hanya bertani, tetapi juga menjaga keseimbangan ekologis yang menjadi bagian dari warisan adat.

Abah Widi, sesepuh adat Cireundeu yang berusia lebih dari 60 tahun, menceritakan kepada ANTARA bahwa sejak kecil, ia tidak pernah merasakan makan nasi atau makanan berbahan beras.

Dirinya menjelaskan dengan filosofi dalam bahasa Sunda yakni teu nyawah asal boga pare, teu boga pare asal boga beas, teu boga beas asal bisa nyangu, teu nyangu asal dahar, teu dahar asal kuat. Artinya, tidak memiliki sawah tidak masalah asal memiliki beras, tidak ada beras tidak masalah asal bisa menanak nasi, tidak ada nasi tidak masalah asal bisa makan, tidak makan tidak masalah asal tetap kuat.

Baca Juga :  Konsistensi dan Kontribusi Bulog Menjaga ketersediaan Pangan

Filosofi ini menggambarkan bahwa kenyang tidak harus selalu dengan nasi. Bagi mereka, makan adalah tentang bertahan hidup dan menjaga tubuh tetap sehat, bukan soal memenuhi ekspektasi tentang makanan pokok.

Sejak 2010, Kampung Cireundeu mulai dikenal sebagai desa wisata, berawal dari kedatangan sejumlah mahasiswa yang tertarik mempelajari cara hidup masyarakat setempat.

Desa ini tidak mengandalkan komersialisasi, namun lebih pada keinginan untuk memperkenalkan pola makan dan kehidupan yang berfokus pada kemandirian pangan.

Dengan konsep yang sederhana dan tidak mengutamakan keuntungan ekonomi, masyarakat Cireundeu menjaga keaslian budaya mereka dengan mengajarkan pengunjung tentang ketahanan pangan dan pentingnya diversifikasi makanan.

“Jadi, kami tidak membuat objek wisata yang baru karena ini merupakan warisan budaya dari leluhur kami untuk tetap dijaga oleh penerusnya sampai kapan pun,” kata Abah Widi.

Ketahanan pangan Cireundeu kini mendapat perhatian besar, terutama dalam menghadapi isu ketergantungan pada beras impor. Abah Widi dan warga adat lainnya terus mempromosikan pemikiran bahwa makan tidak hanya harus dengan nasi, dan singkong dapat menjadi alternatif yang juga bergizi.

Kampung ini ditegaskan tidak komersial. Jadi, wisatawan mau datang ke sini tidak ada hitung-hitungan ekonomi. Yang penting mereka datang dulu ke sini lalu mereka akan diberikan paham bagaimana menjaga ketahanan pangan.

Masyarakat Cireundeu juga telah mengolah singkong menjadi berbagai produk, seperti tepung singkong, keripik, hingga kue dan oleh-oleh khas, yang makin memperkenalkan potensi ekonomi berbasis pangan lokal.

Peran Pemerintah dalam pengembangan ketahanan pangan di Cireundeu sangat dirasakan oleh penduduk setempat. Pemerintah telah memberikan bantuan mesin penggiling singkong dan peralatan lainnya yang mendukung keberlanjutan produk berbasis singkong.

Abah Widi berharap ilmu tentang ketahanan pangan yang ada di Cireundeu dapat disebarkan ke daerah-daerah lain, agar masyarakat Indonesia tidak terus bergantung pada beras impor, melainkan kembali memanfaatkan potensi lokal yang tersedia di sekitar mereka.

Oleh karena itu, ia minta Pemerintah membantu  menularkan ilmu tentang ketahanan pangan ke daerah lain, agar tidak ada lagi orang yang berbicara kelaparan karena tergantung dengan beras.

Mempertahankan Warisan Budaya di Desa Wisata Cireundeu

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jawa Barat mengungkapkan dua tradisi khas Kampung Cireundeu telah resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI.

Baca Juga :  Infografik: Tiga Pesawat Rafale Siap Jaga Langit Indonesia

Tradisi tersebut adalah kebiasaan masyarakat mengonsumsi rasi (beras singkong) sebagai sumber karbohidrat utama, serta tradisi Tutup Taun Ngemban Taun 1 Sura.

Kepala Bidang Kebudayaan Disparbud Jawa Barat Febiyani menjelaskan bahwa proses penetapan ini melalui berbagai kajian oleh tim WBTB yang melibatkan akademisi.

Masyarakat diminta terus menjaga tradisi itu seperti halnya merawat tradisi makan rasi dan tutup taun yang ditetapkan jadi WBTB Jabar dan Indonesia.

Bagi masyarakat masyarakat Kampung Cireundeu, perayaan upacara adat Tutup Taun Ngemban Taun 1 Sura layaknya Lebaran bagi kaum muslim.

Tradisi ini melibatkan serangkaian kegiatan keagamaan, budaya, dan refleksi bersama, yang bertujuan untuk menjaga harmoni antara manusia, alam, dan sang pencipta.

“Dua tradisi ini harus diturunkan ke anak keturunan kita, khususnya di Cireundeu. Wajib dirawat dan dilestarikan. Jadi setelah ditetapkan, ada tanggung jawab di baliknya,” kata dia.

Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Barat Muslimin Anwar mengungkapkan pihaknya terus mendorong pengembangan desa wisata sebagai bagian dari upaya meningkatkan potensi pariwisata daerah.

Muslimin menjelaskan terdapat tiga fokus utama pengembangan yang diarahkan pada tiga aspek penting, yaitu aksesibilitas, fasilitas, dan atraksi pada pengembangan desa wisata.

Aksesibilitas di Kampung Cireundeu maupun desa wisata lainnya di Jawa Barat masih memerlukan perhatian lebih, misalnya, perbaikan infrastruktur agar dapat mengundang lebih banyak wisatawan.

Dari segi fasilitas, Pemerintah dan BI Jabar mengutamakan pembangunan homestay yang nyaman dan inovatif. Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah konsep camping ground yang dinilai mampu menarik minat wisatawan muda.

Keunikan desa wisata ada pada kehidupan sehari-hari warganya karena wisatawan tidak mencari hal-hal mewah, tetapi pengalaman autentik yang berbeda dari kehidupan kota besar.

Kampung Cireundeu telah mengajarkan banyak hal, terutama tentang pentingnya ketahanan pangan dan bagaimana sebuah komunitas dapat bertahan hidup dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada.

Di tengah perubahan zaman, masyarakat Cireundeu tetap teguh pada prinsip mereka bahwa makan tidak harus dengan nasi. Singkong, yang dulu dianggap sebagai makanan sederhana, kini menjadi simbol ketahanan dan kebijaksanaan dalam menghadapi tantangan hidup.

Dengan prinsip sederhana “kenyang tak harus nasi,” Kampung Cireundeu tidak hanya menunjukkan cara hidup yang berbasis pada ketahanan pangan, tetapi juga mengajak manusia untuk lebih bijak dalam memilih sumber pangan dan lebih mengutamakan kemandirian pangan.(gopos/antara)

Tags: Derap Nusantara
Previous Post

Menanti Solusi Jitu Kebijakan BBM Bersubsidi

Next Post

Gusnar Ismail Disapa Warga Usai Jumatan, Ada yang Minta Foto sampai Ucapkan Selamat 

Related Posts

Ilustrasi hari libur (https://www.abreva.ca)
Menyapa Nusantara

Mengisi Waktu Libur Sekolah agar Anak Tetap Tumbuh dan Belajar

Sabtu 30 Mei 2026
Presiden Republik Indonesia (kiri) Prabowo Subianto dan Presiden Republik Prancis (kanan) Emmanuel Macron dalam pernyataan bersama di Istana Elysee, Paris, Prancis, Kamis (28/5/2026). ANTARA/HO-BPMI Sekretariat Presiden
Menyapa Nusantara

Prabowo dan Macron Perkuat Kemitraan Strategis Indonesia–Prancis

Jumat 29 Mei 2026
Petugas memotong daging hewan kurban di Masjid Cut Meutia, Jakarta, Rabu (27/5/2026). Panitia kurban Masjid Cut Meutia menyembelih 21 ekor sapi dan 21 ekor kambing pada perayaan Idul Adha 1447 H. ANTARA FOTO/Salma Talita/nym.
Menyapa Nusantara

Menjaga Generasi Indonesia Melalui Spirit Kurban

Rabu 27 Mei 2026
Penyerahan bantuan kemasyarakatan sapi kurban seberat 1.130 kg dari Presiden RI melalui Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail, pada 25/05/206
Menyapa Nusantara

Presiden Prabowo Berkurban 1.098 Sapi

Selasa 26 Mei 2026
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti pose bersama penerima manfaat usai meresmikan revitalisasi sekolah di Kota Sorong, Selasa (26/5/2026). ANTARA/Yuvensius Lasa Banafanu
Menyapa Nusantara

Mendikdasmen: Revitalisasi Sekolah Dorong Ekonomi Lokal

Selasa 26 Mei 2026
Ilustrasi Media Sosial
Menyapa Nusantara

Empat Kuadran Berpikir Manusia di Media Digital

Selasa 26 Mei 2026
Next Post
Gusnar Ismail disapa oleh sejumlah warga usai ia melaksanakan sholat Jumat di Masjid Agung Baiturrahim, Kota Gorontalo, Jumat (29-11-2024).

Gusnar Ismail Disapa Warga Usai Jumatan, Ada yang Minta Foto sampai Ucapkan Selamat 

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

  • SIM Digital Resmi Hadir, Ini Langkah Mudah Aktivasi Lewat HP

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mantan Wakil Bupati Bone Bolango Kilat Wartabone Tutup Usia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Polresta Gorontalo Kota Sita 13 Unit Kendaraan Diduga Terlibat Balap Liar 

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Riset Mahasiswa UNBITA Jadi Masukan BPBD, Petakan Kerentanan Banjir di Dumbo Raya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kronologis Satu Pekerja Tewas di Tambang Suwawa Timur 

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
WA Saluran
Facebook X-twitter Youtube Instagram TikTok

© 2019 – 2023 Gopos.id  |  Gopos Media Online Indonesia | Gorontalo.

Iklan  |  Karir  |  Pedoman Media Cyber  |  Ramah Anak  |  Susunan Redaksi  |  Tentang Kami  |  Disclaimer

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • Info Pasar
    • INFOGRAFIS
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Ayo Germas
    • Boalemo
    • Bone Bolango
    • Kotamobagu
    • Bolmong Utara
    • Gorontalo Hebat
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Kota Smart
    • Pohuwato
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi

© 2019-2023 Gopos.id Gopos Media Online Indonesia | Gorontalo.