No Result
View All Result
gopos.id
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • INFOGRAFIS
    • Info Pasar
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Pohuwato
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Boalemo
    • Kotamobagu
    • Bolmut
    • Kota Smart
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • INFOGRAFIS
    • Info Pasar
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Pohuwato
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Boalemo
    • Kotamobagu
    • Bolmut
    • Kota Smart
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi
No Result
View All Result
No Result
View All Result
gopos.id

Dari Tebu untuk Kopi hingga Bioetanol: Visi Swasembada Nasional

Hasan by Hasan
Rabu 22 Juli 2026
in Menyapa Nusantara
0
Presiden Prabowo Subianto bersama PT Sinergi Gula Nusantara melaksanakan Panen Raya Tebu Serentak di Kabupaten Malang, Jawa Timur, Minggu (17/7/2026). (ANTARA/HO-PT SGN)

Presiden Prabowo Subianto bersama PT Sinergi Gula Nusantara melaksanakan Panen Raya Tebu Serentak di Kabupaten Malang, Jawa Timur, Minggu (17/7/2026). (ANTARA/HO-PT SGN)

0
SHARES
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Setiap kali mendarat di Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh, Kabupaten Malang, yang juga menjadi landasan pesawat komersial, pandangan mata pasti terpukau oleh pemandangan tanaman hijau nan luas yang tampak seperti alang-alang jika dilihat dari jendela pesawat. Itu tebu.

Ternyata, kebun tebu itu bukan sekadar pemanis pemandangan di sekitar lanud. Tebu-tebu itu benar-benar dibudidayakan untuk berproduksi. Juga ternyata, hasil tebu itu tidak hanya akan menjadi pemanis dalam segelas kopi atau teh. Bukan cuma untuk pangan, tapi sumber energi: bioetanol.

Presiden RI Prabowo Subianto sendiri yang mendatangi kebun tebu di dekat tempat mendaratnya pesawat itu pada Jumat (17/7/2026). Presiden menekan sirene sebagai penanda dimulainya panen serentak di 43 titik di seluruh Indonesia untuk tiga komoditas, yang salah satunya tebu. Tiga komoditas itu adalah tebu, kedelai, dan padi.

Di antara ketiganya, tebu membawa bobot angka paling besar. Lahan binaan TNI AU mencapai 236.048 hektare, dengan potensi produksi 18,386 juta ton tebu, setara 1,36 juta ton gula, atau 45,05 persen dari target produksi gula nasional tahun ini. Khusus di kawasan Lanud Abdulrachman Saleh, lahan siap panen seluas 800,5 hektare yang diperkirakan menghasilkan 72.045 ton tebu.

Angka 236 ribu hektare itu, jika dibandingkan dengan sejarah Nusantara, mengandung ironi yang layak direnungkan. Pada masa kejayaan industri gula pemerintahan kolonial Hindia Belanda di dekade 1930-an, luas areal tebu di Jawa hanya berkisar 196 ribu hingga 200 ribu hektare, namun mampu menghasilkan sekitar 2,9 hingga 3 juta ton gula per tahun dengan produktivitas mencapai 14,7 ton gula per hektare.

Ekspornya menembus 2,4 juta ton dan menempatkan Hindia Belanda sebagai eksportir gula terbesar kedua dunia, setelah Kuba. Artinya, luas lahan yang kini dibina TNI AU untuk program ketahanan pangan sudah melampaui total luas lahan tebu Jawa di era paling produktif pemerintah kolonial. Meski, hasil gula yang diproyeksikan belum menyamai rekor lama itu.

Baca Juga :  Wamendagri Wempi dorong Pemda di Papua Tengah bangun Taman Budaya

Perbedaan dulu dan sekarang bukan soal rendemen dan teknologi giling pengolahan tebu menjadi gula, tapi juga arah komoditas. Gula era kolonial mengalir keluar, mengisi kas pemerintah Hindia Belanda dan pasar Eropa, dengan rakyat penanam tebu berada di ujung rantai yang paling sedikit menikmati nilai tambah. Setelah kemerdekaan, industri gula Nusantara meredup pelan-pelan, diperparah dengan krisis global bernama “Great Depression” dan kerusakan masa perang. Akibatnya, Indonesia yang dulu salah satu pengekspor terbesar berbalik menjadi salah satu pengimpor gula terbesar di dunia selama puluhan tahun.

Karena itu, panen serentak di Malang, Jawa Timur, adalah satu simpul dari upaya membalik arah itu, dengan gula diarahkan untuk memenuhi kebutuhan domestik lebih dulu.

Bioetanol

Hal yang membedakan program tahun ini dari sekadar pengulangan sejarah adalah apa yang terjadi pada produk turunan tebu di lokasi yang sama. Lanud Abdulrachman Saleh dikembangkan sebagai ekosistem tebu yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Bukan hanya memproduksi gula kristal, lebih dari itu, mengolah tetes tebu menjadi bioetanol, pupuk organik, dan sejumlah produk industri bernilai tambah lain.

Dalam momen panen raya itu, jajaran Pertamina New and Renewable Energy memaparkan kepada Presiden perbandingan penerapan bioetanol di India yang telah mencapai campuran 20 persen (E20) dan Brasil yang sudah menjalankan mandatori hingga E30, bahkan E100 di sejumlah negara bagian. Presiden merespons dengan instruksi penambahan hingga 50 pabrik bioetanol baru dalam waktu dekat, sembari menegaskan Indonesia harus mengejar ketertinggalan dari kedua negara tersebut.

Pemerintah, melalui Kementerian ESDM, sejak Juli 2026 telah mulai menerapkan campuran bioetanol lima persen (E5) secara bertahap di enam provinsi, yaitu Jawa Timur, DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Peta jalan menuju E10 ditargetkan pada 2028-2030, dan target mandatori E20 disiapkan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia untuk mulai berjalan pada 2028.

Baca Juga :  Literasi Keuangan Rendah Picu Tingginya Korban Pinjol

Harga indeks pasar bioetanol per Juli 2026 ditetapkan Rp10.933 per liter, dihitung dari formula yang mengaitkan langsung harga tetes tebu petani dengan nilai bahan bakar nabati tersebut. Kebutuhan bioetanol untuk mencapai E20 diperkirakan mencapai delapan juta kiloliter, angka yang tampak besar, namun proporsional jika dibandingkan dengan impor BBM jenis bensin yang saat ini masih berkisar 20 juta kiloliter per tahun.

Dari hitung-hitungan efisiensi dan untung-rugi tersebut, panen raya di Malang yang dipimpin Presiden berhenti menjadi seremoni dan mulai terbaca sebagai penanda arah kebijakan yang menyatukan dua isu yang biasanya dibahas terpisah: ketahanan pangan dan ketahanan energi.

Molase yang dulunya limbah proses gula, kini menjadi bahan baku substitusi impor bahan bakar, dan setiap hektare tebu yang dipanen membawa nilai ganda, sebagai pemasok gula konsumsi, sekaligus pemasok energi domestik. Model hulu-hilir juga mengubah insentif ekonomi bagi petani tebu, karena permintaan yang tadinya bergantung penuh pada harga gula, kini turut ditopang oleh harga tetes yang dipatok mengikuti kebutuhan energi nasional.

Cita swasembada gula plus upaya subtitusi energi ini, butuh eksekusi berkelanjutan selama bertahun-tahun ke depan. Sejarah industri gula Indonesia sudah pernah membuktikan bahwa perluasan lahan tanpa perbaikan produktivitas dan tanpa kestabilan kebijakan, hanya akan mengulang siklus naik-turun yang sama.

Sebanyak 50 pabrik bioetanol yang diinstruksikan Presiden, enam provinsi yang mulai menjalankan E5, dan target E20 pada 2028 adalah rencana besar. Salah satu dari banyak cita itu, harus dinyatakan lewat pembangunan pabrik yang benar-benar berdiri, rantai pasok tetes tebu yang benar-benar stabil, dan harga yang tetap adil bagi petani di ladang.(Antara/gopos)

Previous Post

Baru Dilantik, Sudaryono Tegaskan Sikap Antipencatutan Nama

Next Post

Bulog Gorontalo Perketat Pengawasan, Kenaikan Harga Beras 0,62 Persen Diantisipasi

Related Posts

Anggota Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Rycko Menoza pada kegiatan Forum Group Discussion (FGD) Evaluasi Pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 dan Penguatan Kelembagaan Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Penyelenggaraan Sistem Statistik Nasional (SSN) di Bandarlampung, Jumat (11/9/2026). (ANTARA/HO)
Menyapa Nusantara

DPR Dorong Perbaikan DTSEN untuk PIP dan KIP

Sabtu 12 September 2026
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari memberikan sambutan pada acara peluncuran buku "Juru Bicara: Perspektif Manajemen Komunikasi Politik di Era Disrupsi" di Antara Heritage Center, Jakarta, Jumat (11/9/2026). (ANTARA/Livia Kristianti)
Menyapa Nusantara

Qodari: Negara Harus Hadir dengan Data, Bukan Diam

Sabtu 12 September 2026
Gubernur Kaltim Seno Aji (kelima dari kiri), Kepala BI Kaltim (keenam dari kiri) dan sejumlah pihak terkait saat panen padi di Desa Sidomulyo, Anggana, Kutai Kartanegara, Kaltim, Kamis (10/9/2026) (ANTARA/ HO- BI Kaltim)
Menyapa Nusantara

Tatkala Emas Hijau dan Teknologi Menyatu di Timur Kalimantan

Jumat 11 September 2026
Presiden Prabowo Subianto memberikan sambutan pada penutupan Muktamar Ke-35 NU di Jombang, Jawa Timur, Senin (31/8/2026). ANTARA/HO-BPMI Sekretariat Presiden
Menyapa Nusantara

Prabowo Tutup 290 BUMN Rugi

Senin 31 Agustus 2026
Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin menjawab pertanyaan wartawan usai mengikuti sidang pleno voting opsi mekanisme pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Minggu (30/8/2026) dini hari. Peserta Muktamar ke-35 NU menyetujui perubahan mekanisme pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dari sistem 'one man one vote' (satu orang, satu suara) menjadi mekanisme 'Ahlul Halli wal Aqdi' (AHWA) dan pemilihan akan berlanjut pada Minggu (30/8) pagi. ANTARA FOTO/Syaiful Arifngasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, K.H Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin. ANTARA FOTO/Syaiful Arif
Menyapa Nusantara

Gus Kikin Terpilih Ketua Umum PBNU 2026-2031

Senin 31 Agustus 2026
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid dalam wawancara cegat di Kantor Kementerian Komunikasi dan Digital, Jakarta Pusat, Sabtu (28/8/2026). (ANTARA/Livia Kristianti)
Menyapa Nusantara

Sisa Kuota Internet Tak Boleh Hangus, Operator Seluler Wajib Beri Pilihan

Sabtu 29 Agustus 2026
Next Post

Bulog Gorontalo Perketat Pengawasan, Kenaikan Harga Beras 0,62 Persen Diantisipasi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

  • Rekaman CCTV.

    Tak Hanya Aniaya Dokter, Aksi Jefry Taha Rusak Fasilitas Rumah Sakit Sitti Khadijah Terekam CCTV

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PWI Gorontalo Soroti Dugaan Arogansi Oknum yang Mengaku Wartawan di RS Sitti Khadijah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Lelaki Asal Gorontalo Utara Meninggal Usai Berhubungan di Warung Remang-remang Pohuwato

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dokter RS Sitti Khadijah Laporkan Jefry Taha yang Diduga Lakukan Penganiayaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Warga Gorontalo Digegerkan Fenomena Kilatan Cahaya dan Suara Dentuman Keras

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
WA Saluran
Facebook X-twitter Youtube Instagram TikTok

© 2019 – 2023 Gopos.id  |  Gopos Media Online Indonesia | Gorontalo.

Iklan  |  Karir  |  Pedoman Media Cyber  |  Ramah Anak  |  Susunan Redaksi  |  Tentang Kami  |  Disclaimer

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • Info Pasar
    • INFOGRAFIS
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Ayo Germas
    • Boalemo
    • Bone Bolango
    • Kotamobagu
    • Bolmong Utara
    • Gorontalo Hebat
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Kota Smart
    • Pohuwato
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi

© 2019-2023 Gopos.id Gopos Media Online Indonesia | Gorontalo.