Angka kemiskinan tidak hanya menunjukkan berapa banyak penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan. Struktur pengeluaran yang membentuk garis itu juga memberi gambaran tentang beban yang harus ditanggung rumah tangga miskin. Di Gorontalo, beras dan rokok menjadi dua komoditas yang menonjol dalam struktur pengeluaran tersebut.
Hasanudin Djadin, Gorontalo
Bagi sebagian orang atau rumah tangga, beras dan rokok mungkin hanya dua benda biasa. Beras dibeli untuk mengisi piring, sedangkan rokok dibeli untuk dikonsumsi. Namun, keduanya memiliki jejak yang cukup besar dalam statistik kemiskinan di Gorontalo.
Secara statistik, wajah kemiskinan Gorontalo memang membaik. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo melaporkan, pada Maret 2026 persentase penduduk miskin turun menjadi 12,16 persen, dari sebelumnya 12,62 persen pada September 2025. Jumlah penduduk miskin juga berkurang, dari 155.076 orang pada September 2025 menjadi 150.060 orang pada Maret 2026. Itu artinya dalam kurun 6 bulan, ada sebanyak 5.016 orang yang keluar dari kemiskinan.
Tetapi penurunan itu belum menghapus persoalan. Masih ada 150.060 penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan. Kondisi itu setidaknya menggambarkan 1 dari 8 orang di Gorontalo adalah warga miskin. Di sisi lain, nilai garis kemiskinan terus meningkat. Situasi ini memberi gambaran bahwa batas minimum kebutuhan hidup yang digunakan untuk mengukur kemiskinan juga bergerak naik.
BPS mengukur kemiskinan berdasarkan kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Dalam pendekatan ini, seseorang dianggap miskin jika tidak mampu secara ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan non-makanan, yang batasnya ditentukan oleh Garis Kemiskinan (GK).
Penghitungan Garis Kemiskinan dibedakan antara wilayah perkotaan dan perdesaan, serta dibagi menjadi dua komponen, yakni Garis Kemiskinan Makanan (GKM), dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan (GKBM).
GKM adalah biaya minimal untuk memenuhi kebutuhan energi sebesar 2.100 kkal per orang per hari. Nilai ini diukur dari 52 jenis komoditas makanan (seperti beras, umbi, ikan, daging, telur, susu, sayur, dan buah). Sedangkan GKBM yaitu biaya minimal untuk kebutuhan pokok selain makanan, yaitu tempat tinggal, pakaian, pendidikan, dan kesehatan. Nilai ini diukur dari 51 jenis barang/jasa di perkotaan dan 47 jenis di perdesaan.
Pada Maret 2026, garis kemiskinan Gorontalo mencapai Rp535.255 per kapita per bulan. Dari angka itu, Rp416.306 kapita/bulan atau 77,78 persen berasal dari kebutuhan makanan. Sementara kebutuhan bukan makanan sebesar 22,22 persen atau Rp118.848/kapita/bulan.
Dengan struktur seperti itu, kemiskinan di Gorontalo sangat sensitif terhadap kemampuan rumah tangga memenuhi kebutuhan pangan. Perubahan harga pangan dapat menentukan apakah pengeluaran rumah tangga miskin masih berada di atas atau justru jatuh di bawah garis kemiskinan.
Lalu mengapa beras dan rokok begitu penting dalam cerita kemiskinan di Gorontalo? Jawabannya ada pada garis kemiskinan itu sendiri. BPS mencatat, beras merupakan komoditas terbesar pembentuk garis kemiskinan. Nilainya 32,16 persen di wilayah perkotaan, dan 31,82 persen di wilayah perdesaan.
Tidak ada komoditas makanan lain yang mendekati kontribusi beras. Tongkol, tuna dan cakalang berada di posisi berikutnya, memberikan kontribusi 5,23 persen di perkotaan dan 6,45 persen di perdesaan. Angka tersebut memperlihatkan betapa besar posisi beras dalam struktur kebutuhan dasar masyarakat. Bagi rumah tangga dengan kemampuan ekonomi terbatas, sebagian besar pengeluaran untuk pangan masih bertumpu pada komoditas yang setiap hari hadir di meja makan.
Setelah beras, muncul satu komoditas lain yang cukup menonjol yaitu rokok kretek filter. Di wilayah perkotaan, kontribusi rokok kretek filter terhadap pembentukan GKM mencapai 8,34 persen. Di perdesaan angkanya sebesar 8,05 persen.
Rokok memang bukan bahan makanan, dan tidak memenuhi kebutuhan kalori. BPS pun tidak menyatakan rokok menyebabkan kemiskinan. Angka tersebut menunjukkan bahwa pengeluaran untuk rokok tetap cukup besar dalam struktur konsumsi penduduk yang berada di sekitar garis kemiskinan. Rokok memperlihatkan bagaimana uang yang terbatas tetap mengalir untuk konsumsi yang bukan kebutuhan pangan.
Dua Kebutuhan, Satu Kantong Uang
Beras dan rokok memiliki posisi yang berbeda. Beras merupakan kebutuhan pangan yang menjadi dasar penghitungan kecukupan 2.100 kilokalori per kapita per hari. Sementara rokok bukan komoditas yang memenuhi kebutuhan energi tersebut. Namun, keduanya sama-sama muncul dalam struktur komoditas yang digunakan untuk membaca garis kemiskinan.
Karena itu, beras dan rokok tidak cukup dibaca sebagai daftar komoditas. Keduanya memperlihatkan bagaimana rumah tangga dengan sumber daya terbatas mengalokasikan pengeluarannya. Beras menunjukkan besarnya porsi kebutuhan pangan. Sementara keberadaan rokok dengan kontribusi besar memperlihatkan adanya pengeluaran konsumsi lain di tengah keterbatasan sumber daya rumah tangga.
Gorontalo boleh mencatat pertumbuhan ekonomi dan penurunan angka kemiskinan. Tetapi selama sebagian besar pengeluaran kelompok bawah masih terserap untuk kebutuhan makanan, dan pendapatan mereka masih rentan karena dominasi pekerjaan informal, wajah kemiskinan itu belum sepenuhnya berubah.
Pada akhirnya, beras dan rokok memang bukan jawaban tunggal atas persoalan kemiskinan Gorontalo. Dua komoditas itu membawa kita pada satu cerita yang sama: kemiskinan bukan hanya tentang tidak memiliki cukup uang, tetapi tentang bagaimana uang yang terbatas harus dibagi untuk memenuhi begitu banyak kebutuhan.(*)






