GOPOS.ID, GORONTALO – GKK 2026 menampilkan beragam tradisi dan budaya lokal. Badan Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Gorontalo, di bawah kepemimpinan Kepala Badan, Sukri Gobel, SE, M.Si, bersama dengan Sekretaris Badan, Arifin Padido, SE, M.Si, berperan penting dalam mengkoordinasi acara ini.
Tema yang diusung pada tahun ini adalah “Ritme Hulondalo Harmoni Warisan Gorontalo,” yang mencerminkan kearifan lokal dan keindahan alam yang melimpah di daerah ini. Salah satu elemen penting dalam acara ini adalah Bambu’a, alat musik tradisional yang terbuat dari cangkang kerrang. Suara Bambu’a bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga menjadi simbol kekayaan laut Gorontalo.
Kekayaan laut Gorontalo yang melimpah telah membentuk budaya maritim yang kental di wilayah pesisir. Cangkang kerrang, yang biasanya digunakan sebagai alat musik tiup, kini menjadi bagian integral dalam kehidupan masyarakat. Penjaja ikan keliling menggunakan suara Bambu’a untuk menarik perhatian masyarakat, menawarkan hasil laut yang berlimpah dari pesisir hingga perkotaan.
Ketika suara Bambu’a menggema, masyarakat Gorontalo berbondong-bondong keluar rumah untuk menyaksikan dan membeli berbagai hasil laut, termasuk ikan nike atau Duwo yang merupakan salah satu hasil laut khas daerah ini. Bambu’a telah bertransformasi menjadi lebih dari sekadar alat musik; ia kini menjadi simbol kekayaan laut dan budaya Gorontalo.
Karnaval Karawo 2026 bukan hanya sekadar perayaan, tetapi juga merupakan pengingat akan hubungan erat antara masyarakat dan laut. Melalui suara Bambu’a, masyarakat dapat merasakan pesona laut, kreativitas, dan kekayaan alam Gorontalo. Acara ini diharapkan dapat memperkuat rasa cinta dan kebanggaan masyarakat terhadap budaya dan warisan leluhur mereka.
Dengan semangat yang menggebu, BKAD Gorontalo siap menyajikan sebuah karnaval yang tidak hanya meriah, tetapi juga sarat makna, mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama merayakan kekayaan budaya dan alam Gorontalo. (Putra/Gopos)








