No Result
View All Result
gopos.id
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • INFOGRAFIS
    • Info Pasar
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Pohuwato
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Boalemo
    • Kotamobagu
    • Bolmut
    • Kota Smart
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • INFOGRAFIS
    • Info Pasar
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Pohuwato
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Boalemo
    • Kotamobagu
    • Bolmut
    • Kota Smart
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi
No Result
View All Result
No Result
View All Result
gopos.id

Indrawati Gobel dan Ujian Politik NasDem Gorontalo

Ishak Noho by Ishak Noho
Senin 14 September 2026
in Perspektif
0
Dosen Jurusan Ilmu Sosiologi Universitas Negeri Gorontalo Funco Tanipu ST MA, (dok. UNG)

Dosen Jurusan Ilmu Sosiologi Universitas Negeri Gorontalo Funco Tanipu ST MA, (dok. UNG)

0
SHARES
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Oleh: Dr. Funco Tanipu, S.T., M.A.
Founder The Gorontalo Institute

PENUNJUKAN Indrawati Gobel sebagai Ketua DPW Partai NasDem Provinsi Gorontalo pada 14 September 2026 mengakhiri satu fase ketidakpastian setelah kepergian Rachmat Gobel. Surya Paloh memilih adik kandung Rachmat untuk memimpin partai yang dalam beberapa tahun terakhir tumbuh menjadi salah satu kekuatan utama politik Gorontalo. Pilihan itu sekaligus memperlihatkan bahwa NasDem mengambil jalan keberlanjutan melalui keluarga Gobel pada saat partai sedang kehilangan figur yang selama ini menjadi pusat kekuatannya.

Namun pergantian ketua tidak otomatis menyelesaikan persoalan yang ditinggalkan Rachmat. Jabatan dapat dialihkan melalui keputusan organisasi, tetapi pengaruh, kewibawaan, jaringan dan kepercayaan tidak dapat dipindahkan melalui surat keputusan. Karena itu, tantangan Indrawati bukan sekadar duduk di kursi yang pernah ditempati kakaknya, melainkan membangun alasan baru mengapa para elite NasDem tetap bersedia berada dalam satu barisan di bawah kepemimpinannya.

Situasi ini menjadi lebih menarik karena dua partai besar di Gorontalo kini dipimpin perempuan. NasDem dipimpin Indrawati Gobel, sedangkan Golkar dipimpin Idah Syahidah. Keduanya sama-sama perempuan dan sama-sama mempunyai hubungan dengan keluarga politik yang kuat, tetapi datang ke pucuk kepemimpinan melalui pengalaman, jaringan dan sumber kekuatan yang berbeda.

Modal Keluarga dan Kekuatan Awal Indrawati

Indrawati memulai kepemimpinannya dengan modal yang tidak kecil. Ia adalah adik Rachmat Gobel, figur yang pada Pemilu 2024 memperoleh 195.322 suara untuk DPR RI dan selama beberapa tahun menjadi wajah utama NasDem di Gorontalo. Kedekatan keluarga dengan tokoh sebesar Rachmat memberikan pengenalan dan penerimaan awal yang tidak mudah diperoleh politisi baru.

Modal itu bahkan tidak hanya berasal dari Rachmat. Keluarga Gobel telah mempunyai hubungan sosial yang panjang dengan Gorontalo, jauh sebelum Rachmat terjun ke politik. Nama Thayeb Mohammad Gobel, kegiatan ekonomi keluarga, hubungan dengan pendidikan, kegiatan sosial dan berbagai aktivitas lain membuat nama Gobel telah lama berada dalam ingatan masyarakat.

Karena itu, ketika Indrawati masuk ke pucuk NasDem, ia tidak memulai dari nol. Ia membawa nama keluarga yang sudah dikenal, jaringan sosial yang telah terbentuk, hubungan ekonomi yang luas dan warisan politik yang sebelumnya dirintis oleh Rachmat. Dalam politik lokal, seluruh modal ini mempunyai nilai karena seorang pemimpin tidak hanya membutuhkan jabatan, tetapi juga pengenalan, jaringan dan kepercayaan.

Kekuatan seperti ini hanya dapat dipahami jika politik Gorontalo dibaca bersama struktur sosialnya. Kekerabatan masih mempunyai tempat penting dalam kehidupan masyarakat Gorontalo, dan marga tetap menjadi salah satu penanda asal-usul, hubungan keluarga dan reputasi sosial. Nama keluarga dalam banyak kasus bukan sekadar nama belakang, tetapi juga membawa cerita tentang siapa keluarga itu, bagaimana mereka dikenal, dan jaringan apa yang berada di sekitarnya.

Nama-nama seperti Gobel, Habibie, Monoarfa, Uno, Katili, dan keluarga besar lainnya menunjukkan bagaimana kekerabatan dapat bertahan di tengah modernisasi politik. Partai, pemilu, survei dan media tidak menghapus hubungan keluarga, tetapi justru memberi ruang baru bagi kekuatan keluarga masuk ke dalam arena politik. Nama keluarga kemudian dapat menjadi jembatan yang menghubungkan reputasi sosial dengan kekuasaan politik.

Dalam konteks itu, Indrawati mempunyai keuntungan yang nyata. Ia membawa nama Gobel pada saat NasDem membutuhkan figur yang dapat menjaga rasa keberlanjutan setelah kehilangan Rachmat. Bagi sebagian kader dan elite, nama itu dapat memberikan rasa aman bahwa kepemimpinan baru masih berada dalam lingkaran yang dikenal dan dianggap mempunyai hubungan langsung dengan warisan politik Rachmat.

Namun modal keluarga tetap mempunyai batas. Nama besar dapat mempercepat penerimaan, tetapi tidak otomatis membuat seseorang mampu mengelola partai, menyelesaikan konflik atau mengendalikan berbagai kepentingan. Kekuatan keluarga hanya menjadi modal awal, sedangkan kemampuan politik harus dibuktikan melalui keputusan dan kerja kepemimpinan.

Di sinilah perbandingan dengan Idah Syahidah menjadi penting. Idah juga tidak dapat dilepaskan dari jaringan keluarga politik, tetapi ia memasuki kepemimpinan Golkar setelah mempunyai pengalaman yang lebih panjang dalam birokrasi, organisasi sosial, DPR RI, Pilkada dan pemerintahan daerah. Dengan kata lain, Idah membawa modal keluarga sekaligus pengalaman yang telah lama dikumpulkan melalui berbagai jabatan.

Indrawati berada pada posisi yang berbeda. Modal awalnya mungkin sangat besar karena nama Gobel dan warisan Rachmat, tetapi pengalaman kepemimpinan politiknya belum sepanjang Idah. Perbedaan ini bukan soal siapa lebih layak, melainkan soal sumber kekuatan yang berbeda dan pekerjaan politik yang harus dilakukan setelah menduduki jabatan.

Membangun Otoritas Sendiri

Tantangan utama Indrawati adalah membangun kewibawaan yang tidak hanya bersumber dari nama kakaknya. Selama ini, jejak publiknya dalam jabatan struktural partai, pemerintahan atau lembaga politik belum sepanjang sejumlah elite yang sekarang akan dipimpinnya. Ia langsung masuk ke posisi tertinggi NasDem Gorontalo pada saat partai sedang menghadapi masa transisi.

Keadaan ini membuat Indrawati mempunyai jabatan lebih cepat daripada pengalaman politik yang terlihat di ruang publik. Ia memiliki kewenangan formal karena ditunjuk Ketua Umum, dan mempunyai kekuatan simbolik karena membawa nama Gobel. Namun kewibawaan politik yang lahir dari kemampuan mengendalikan konflik, mengatur kepentingan, menghadapi pemilu dan mengambil keputusan sulit masih harus dibangun.

Baca Juga :  Membangun dan Mewariskan: Pelajaran dari Fadel Muhammad untuk Pemimpin Masa Depan

Masalah berikutnya adalah bayang-bayang Rachmat yang sangat besar. Dalam jangka pendek, bayang-bayang itu membantu Indrawati karena membuatnya mudah dikenali dan diterima sebagai bagian dari keberlanjutan. Dalam jangka panjang, ia harus keluar dari posisi sebagai “adik Rachmat” dan mulai dikenal karena keputusan dan kemampuan politiknya sendiri.

Tugas ini tidak mudah karena Rachmat dahulu menjalankan banyak fungsi sekaligus. Ia bukan hanya Ketua DPW, tetapi juga figur nasional, pemilik daya elektoral yang besar, penghubung ke pusat, pemilik jaringan ekonomi dan orang yang dapat mengambil keputusan ketika terjadi perselisihan di internal partai. Karena itu, banyak elite NasDem bukan sekadar menghormati jabatan Rachmat, tetapi juga memperhitungkan kapasitas personal yang melekat padanya.

Indrawati membawa nama yang sama, tetapi kondisi politiknya tidak sama. Nama Gobel dapat diwariskan, sedangkan kemampuan menjadi penjamin bagi berbagai kelompok di dalam partai hanya dapat dibangun melalui pengalaman. Di sinilah kepemimpinannya akan diuji sejak awal.

Ujian itu semakin berat karena NasDem Gorontalo tidak diisi politisi yang baru belajar politik. Di dalamnya ada kepala daerah seperti Rum Pagau dan Sofyan Puhi, serta Wakil Bupati Pohuwato Iwan Adam. Ada pula Marten Taha, Ridwan Monoarfa, Mikson Yapanto, Umar Karim, Roni Imran, Feriyanto Mayulu dan sejumlah figur lain yang masing-masing telah mempunyai pengalaman, jaringan dan basis politik.

Mereka bukan sekadar pengurus yang menunggu instruksi Ketua DPW. Masing-masing mempunyai hubungan dengan pemilih, kelompok masyarakat, pengusaha, birokrasi, tokoh agama dan jaringan politik di daerahnya. Karena itu, seorang ketua tidak cukup hanya mempunyai kewenangan administratif, tetapi harus mampu membuat seluruh kekuatan tersebut tetap melihat NasDem sebagai rumah yang memberi manfaat politik.

Pada masa Rachmat, kebutuhan itu relatif lebih mudah dipenuhi. Banyak politisi datang ke NasDem dari latar belakang berbeda, dan sebagian tidak tumbuh sejak awal melalui kaderisasi internal partai. Mereka dapat berkumpul karena ada Rachmat sebagai figur yang memberikan jaminan, akses, perlindungan dan daya tawar yang kuat.

Di sinilah kekuatan NasDem sekaligus menjadi sumber kerentanannya. Partai tumbuh besar karena mampu menarik tokoh-tokoh yang telah mempunyai modal politik sendiri, tetapi semakin banyak elite kuat yang bergabung, semakin besar pula kebutuhan terhadap figur yang mampu menjaga keseimbangan di antara mereka. Rachmat memainkan fungsi itu, sedangkan Indrawati sekarang harus membangun kemampuan yang sama melalui cara yang mungkin berbeda.

Jika dibandingkan dengan Idah, posisi Indrawati lebih rumit. Idah memimpin Golkar setelah melewati pengalaman panjang di birokrasi, organisasi, parlemen dan pemerintahan, sehingga ia mempunyai bekal untuk membaca watak organisasi dan berbagai kepentingan di dalamnya. Selain itu, ia berada di tengah jaringan Golkar yang telah lama terbentuk dan mempunyai banyak figur senior yang memahami sejarah internal partai.

Idah juga masih mempunyai Rusli Habibie disampingnya sebagai sumber rujukan politik yang penting di sekitarnya. Rusli pernah memimpin Golkar, menjadi gubernur dua periode dan mempunyai pengalaman panjang dalam membaca peta elite Gorontalo. Keberadaan figur seperti ini memberi ruang konsultasi dan koreksi ketika keputusan politik yang rumit harus diambil, meskipun kewenangan formal tetap berada pada Idah sebagai ketua.

Indrawati belum terlihat mempunyai figur pendamping dengan posisi dan pengalaman yang setara. Rachmat dahulu justru menjadi pusat tempat banyak keputusan bermuara, sehingga ketika ia tidak ada, NasDem kehilangan orang yang selama ini berfungsi sebagai tempat terakhir untuk menyelesaikan perselisihan. Kekosongan ini dapat menjadi lebih serius daripada persoalan popularitas Indrawati sendiri.

Persoalan gender juga perlu dibaca secara hati-hati. Menjadi perempuan bukan kelemahan Indrawati, tetapi arena politik lokal masih banyak dikendalikan jaringan laki-laki, baik di partai, pemerintahan, bisnis maupun hubungan informal antarelite. Dalam lingkungan seperti itu, seorang perempuan sering kali harus bekerja lebih keras untuk mendapatkan pengakuan atas kewibawaannya.

Idah relatif lebih siap menghadapi keadaan tersebut karena telah lama berada dalam berbagai arena politik dan organisasi. Indrawati harus membangun penerimaan itu dalam waktu yang lebih singkat sambil membawa ekspektasi besar dari nama Gobel. Karena itu, tantangannya bukan hanya memimpin NasDem, tetapi juga membuktikan bahwa kewibawaannya tidak bergantung terus-menerus pada nama kakaknya.

NasDem Setelah Rachmat

Masa depan NasDem tidak akan ditentukan oleh kemampuan Indrawati menjadi Rachmat kedua. Bahkan jika ia mencoba meniru sepenuhnya cara Rachmat, hasilnya belum tentu sama karena keduanya mempunyai pengalaman, jaringan dan kekuatan yang berbeda. Yang lebih penting adalah apakah Indrawati dapat menemukan bentuk kepemimpinan yang sesuai dengan keadaan NasDem setelah Rachmat.

Rachmat mempunyai sumber daya yang memungkinkan banyak keputusan bertumpu pada dirinya. Indrawati kemungkinan harus bekerja dengan cara berbeda, yaitu membagi ruang kepada berbagai pusat kekuatan yang sudah ada dan memastikan semuanya tetap bergerak dalam satu arah. Ia lebih membutuhkan kemampuan mengoordinasikan daripada memusatkan seluruh kekuasaan.

Kondisi ini membuat masa depan NasDem sangat tergantung pada hubungan antara ketua baru dan para elite yang telah lama berada di dalam partai. Jika Rum Pagau, Sofyan Puhi, Iwan Adam dan para legislator tetap melihat NasDem sebagai kendaraan politik yang menjanjikan, partai masih mempunyai daya tahan yang kuat. Jika mereka mulai merasa bahwa jaminan yang dahulu diberikan Rachmat telah hilang, setiap orang akan mulai menghitung kembali kepentingannya sendiri.

Baca Juga :  Rachmat Gobel Bakal Pimpin DPW Partai NasDem Gorontalo Gantikan Hamim Pou

NasDem sekarang sedang memasuki tahap ketika kekuatan partai dan kekuatan Rachmat mulai dapat dipisahkan. Selama Rachmat masih hidup, keduanya sulit dibedakan karena suara partai dan suara personal Rachmat tumbuh bersama. Setelah Rachmat tidak ada, baru akan terlihat seberapa kuat NasDem sebagai organisasi dan seberapa besar selama ini bergantung pada seorang figur.

Ujian pertama adalah konsolidasi internal. Selama belum ada pembagian posisi, pencalonan atau keputusan yang menyentuh kepentingan langsung elite, suasana partai mungkin tetap terlihat tenang. Ujian sebenarnya biasanya datang ketika harus menentukan siapa mendapatkan tempat, siapa maju dalam pemilu, siapa memperoleh dukungan dan siapa harus mengalah.

Di titik-titik itulah kemampuan Indrawati akan diuji. Ia harus mampu mengambil keputusan yang cukup kuat untuk dihormati, tetapi juga cukup lentur agar tidak memecah jaringan yang telah dibangun Rachmat. Jika keputusan terlalu lemah, ketua dapat kehilangan kewibawaan; jika terlalu keras tanpa pemahaman mendalam terhadap peta internal, konflik dapat melebar.

Rachmat dahulu mempunyai semacam kontrak tidak tertulis dengan banyak elite NasDem. Selama mereka berada di dalam partai, ada figur nasional yang mempunyai akses ke pusat, sumber daya, hubungan dengan Ketua Umum dan kemampuan menjadi penjamin ketika muncul persoalan. Kontrak politik seperti itu sekarang sudah tidak dapat bekerja dengan cara yang sama.

Indrawati karena itu harus membangun kesepakatan baru dengan para elite. Ia perlu menawarkan kepastian, rasa keadilan dalam distribusi peran, akses yang terbuka kepada keputusan dan prospek politik yang membuat mereka tetap merasa NasDem adalah kendaraan yang masuk akal. Tanpa itu, nama Gobel saja tidak akan cukup untuk menjaga seluruh jaringan tetap berada dalam satu rumah.

Di sinilah pengetahuan tentang politik Gorontalo menjadi sangat menentukan. Politik lokal bukan hanya tentang aturan partai, tetapi juga tentang hubungan keluarga, sejarah persaingan, loyalitas lama, sentimen wilayah, hubungan personal dan konflik yang kadang tidak pernah muncul di ruang publik. Ketua yang tidak memahami lapisan-lapisan tersebut dapat mengambil keputusan yang benar secara aturan, tetapi salah dalam perhitungan politik.

Perbandingan dengan Golkar kembali menunjukkan tantangan yang dihadapi Indrawati. Idah memimpin partai yang lebih tua, mempunyai ingatan organisasi yang panjang, serta didukung banyak kader yang telah melewati beberapa periode pergantian kepemimpinan. Indrawati memimpin partai yang kebesarannya di Gorontalo tumbuh sangat erat dengan satu figur, sehingga ia harus membangun kekuatan organisasi pada saat bayangan figur itu masih sangat kuat.

Pemilu 2029 akan menjadi ukuran yang paling terbuka. Dalam dua pemilu terakhir, sebagian besar suara NasDem untuk DPR RI di Gorontalo terkonsentrasi pada Rachmat. Tanpa Rachmat sebagai calon dan magnet utama, NasDem akan mengetahui berapa banyak suara yang benar-benar telah menjadi milik partai.

Jika NasDem mampu mempertahankan kekuatan elektoralnya, berarti sebagian besar warisan Rachmat berhasil dijadikan kekuatan organisasi. Jika suara DPR RI turun tetapi kekuatan NasDem di tingkat DPRD tetap bertahan, berarti partai masih mempunyai jaringan lokal yang kuat meskipun kehilangan mesin personal Rachmat. Jika keduanya sama-sama turun, itu menjadi tanda bahwa ketergantungan kepada Rachmat selama ini jauh lebih besar daripada yang terlihat.

Karena itu, Indrawati tidak perlu menghabiskan energi untuk menjadi Rachmat yang baru. Ia justru perlu membangun NasDem yang tidak lagi membutuhkan satu orang sebagai penyangga seluruh kekuatan partai. Jika itu berhasil, kepemimpinannya akan mempunyai arti yang jauh lebih besar daripada sekadar meneruskan nama keluarga.

Kekerabatan dapat membantu proses itu, tetapi tidak boleh menjadi tujuan akhir. Nama Gobel dapat dipakai untuk menjaga kepercayaan pada masa transisi, sementara partai membangun aturan, kaderisasi, mekanisme penyelesaian konflik dan pembagian kewenangan yang lebih sehat. Pada titik itu, modal keluarga benar-benar berubah menjadi kekuatan organisasi.

Sebaliknya, jika elite NasDem hanya bertahan selama masih percaya bahwa nama Gobel mampu memberi jaminan yang sama seperti Rachmat, partai akan menghadapi persoalan serius. NasDem akan terlihat lebih menyerupai kumpulan jaringan politik yang dahulu disatukan oleh seorang figur daripada organisasi yang mempunyai daya ikat sendiri. Ketika jaminan personal melemah, setiap jaringan akan kembali menghitung pilihan yang paling menguntungkan.

Itulah ujian terbesar Indrawati Gobel. Pertanyaannya bukan lagi apakah keluarga Gobel masih dapat memimpin NasDem, karena Surya Paloh telah menjawabnya dengan menunjuk Indrawati. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah Indrawati mampu membuat para politisi yang dahulu merasa aman karena Rachmat tetap mempunyai alasan untuk bertahan setelah Rachmat tidak lagi ada.

Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan arah NasDem Gorontalo dalam beberapa tahun ke depan. Jika Indrawati berhasil membangun kewibawaan sendiri dan mengubah warisan Rachmat menjadi kekuatan partai, NasDem dapat keluar dari ketergantungan pada satu figur. Jika tidak, penunjukannya hanya akan memperpanjang keberlanjutan nama Gobel tanpa menyelesaikan persoalan utama NasDem setelah kehilangan Rachmat. (*)

Tags: Funco TanipuIndrawati GobelNasDem
Previous Post

MAN 1 Kota Gorontalo Bekali Generasi Muda Lewat Pemilihan Duta Anti Narkoba 2026

Next Post

Gus Fawait Hadiri PKDI Cup II 2026, Bupati Bangkalan Lempar Sinyal Politik

Related Posts

Perspektif

Indrawati Gobel dan Idah Syahidah, Dua Srikandi di Puncak Politik Gorontalo

Senin 14 September 2026
Nelson Pomalingo
Perspektif

Mengenang Almarhum Rachmat Gobel, Inspirasi, Teladan dan Spirit Perjuangan untuk Gorontalo

Kamis 20 Agustus 2026
Dr. Husin Ali, S.Pd., M.A.P., CPOf.
Antropolog | Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Gorontalo | Ketua Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kota Gorontalo
Perspektif

KOTA YANG MENCARI ANAK-ANAKNYA

Sabtu 15 Agustus 2026
Funco Tanipu (Founder The Gorontalo Institute)
Perspektif

Senjakala Elite Nasional Gorontalo

Selasa 28 Juli 2026
Perspektif

Ketika Benteng Pemberantasan Korupsi Ikut Diguncang, Siapa yang Menjaga Kepercayaan Publik?

Sabtu 11 Juli 2026
Perspektif

Evaluasi POLRI: Hentikan Abuse of Power dan Stop Tindakan Represif Oknum Polisi Terhadap Rakyat

Selasa 30 Juni 2026
Next Post
Bupati Jember Muhammad fawait saat menghadiri PKDI Cup II di Bangkalan

Gus Fawait Hadiri PKDI Cup II 2026, Bupati Bangkalan Lempar Sinyal Politik

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

  • Lokasi warung remang-remang tempat ditemukannya NU meninggal dunia, Sabtu (12/9/2026) (Istimewa)

    Lelaki Asal Gorontalo Utara Meninggal Usai Berhubungan di Warung Remang-remang Pohuwato

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tak Hanya Aniaya Dokter, Aksi Jefry Taha Rusak Fasilitas Rumah Sakit Sitti Khadijah Terekam CCTV

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Polisi Tetapkan Jefry Taha Tersangka Kasus Dugaan Penganiayaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Estafet Politik Gobel Berlanjut, Indrawati Ambil Alih NasDem Gorontalo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kepala BKAD Gorontalo Pastikan Anggaran PPPK Tahun 2027 Terakomodir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
WA Saluran
Facebook X-twitter Youtube Instagram TikTok

© 2019 – 2023 Gopos.id  |  Gopos Media Online Indonesia | Gorontalo.

Iklan  |  Karir  |  Pedoman Media Cyber  |  Ramah Anak  |  Susunan Redaksi  |  Tentang Kami  |  Disclaimer

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • Info Pasar
    • INFOGRAFIS
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Ayo Germas
    • Boalemo
    • Bone Bolango
    • Kotamobagu
    • Bolmong Utara
    • Gorontalo Hebat
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Kota Smart
    • Pohuwato
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi

© 2019-2023 Gopos.id Gopos Media Online Indonesia | Gorontalo.