JEMBER, GOPOS.ID — Di balik dinamika layanan kesehatan tingkat pertama, keberadaan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kerap menjadi penentu antara keterlambatan penanganan dan rasa aman bagi masyarakat.
Pengalaman tersebut dirasakan langsung oleh Linda Khoirun Nisa (38), seorang tenaga kesehatan sekaligus peserta JKN dari segmen Pekerja Penerima Upah Penyelenggara Negara (PPU PN).
Sebagai petugas medis yang sehari-hari berhadapan langsung dengan dinamika pasien di puskesmas, Linda tidak hanya melihat program ini dari kacamata profesional, tetapi juga dari pengalaman personal bersama suami dan kedua anaknya.
Bagi Linda, perlindungan JKN telah menjadi fondasi penting dalam menghadapi situasi medis yang sering kali datang tanpa diduga.
“Bagi saya, Program JKN seharusnya sudah menjadi kebutuhan dasar masyarakat. Program ini sangat membantu biaya pengobatan keluarga kami, terutama ketika menghadapi kondisi darurat. Saat seseorang tiba-tiba sakit tanpa memiliki persiapan biaya, barulah terasa betapa besar manfaat Program JKN. Karena itu, saya berharap seluruh masyarakat dapat menjadi peserta JKN,” ujar Linda, Kamis (30/7/2026).
Dalam praktiknya di fasilitas kesehatan, ia mengaku sering menemui pasien yang datang dengan kecemasan tinggi akibat keterbatasan finansial.
Ketakutan akan beban biaya pengobatan kerap menghantui masyarakat kelas pekerja sebelum mereka mengetahui hak akses yang dijamin oleh kepesertaan JKN.
Namun, keraguan tersebut kerap runtuh ketika pelayanan medis, mulai dari pemeriksaan rutin hingga proses rujukan, dapat diakses tanpa hambatan biaya.
“Selama bertugas di puskesmas, saya sering menjumpai pasien yang dapat memperoleh pemeriksaan, pengobatan, hingga rujukan sesuai kebutuhan karena menjadi peserta JKN. Pengalaman itu membuat saya semakin yakin bahwa Program JKN memiliki manfaat yang sangat besar, terutama dalam memastikan masyarakat tetap dapat mengakses layanan kesehatan tanpa terkendala biaya,” tuturnya.
Tidak hanya di ruang pelayanan publik, perlindungan JKN juga dirasakan Linda di dalam lingkup keluarganya sendiri.
Ia menceritakan bagaimana akses berobat untuk keluhan kesehatan ringan, seperti batuk dan pilek, dapat ditangani secara cepat tanpa harus memicu kekhawatiran finansial jangka pendek.
“Keluarga saya juga merasakan langsung manfaat Program JKN. Saat mengalami keluhan ringan seperti batuk atau pilek, kami dapat segera memeriksakan diri dan memperoleh pelayanan kesehatan yang dibutuhkan. Kehadiran Program JKN membuat kami merasa lebih tenang karena tidak perlu khawatir terhadap biaya saat membutuhkan pengobatan,” imbuhnya.
Menutup pandangannya, Linda mengingatkan bahwa kepesertaan JKN harus berjalan seiring dengan kesadaran menjaga gaya hidup preventif.
Baginya, jaminan kesehatan dan pola hidup sehat adalah dua sisi mata uang yang saling melengkapi untuk menciptakan ketahanan kesehatan masyarakat di daerah.
“Menurut saya, Program JKN memberikan manfaat yang sangat besar bagi masyarakat. Namun, sebagai tenaga kesehatan saya juga mengajak masyarakat untuk membiasakan pola hidup sehat dengan mengonsumsi makanan bergizi dan rutin berolahraga. Mencegah penyakit tentu lebih baik daripada mengobati. Karena itu, menjaga kesehatan perlu diimbangi dengan memiliki JKN sebagai perlindungan ketika sewaktu-waktu membutuhkan pelayanan kesehatan,” pungkasnya. (Adv)








