No Result
View All Result
gopos.id
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • INFOGRAFIS
    • Info Pasar
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Pohuwato
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Boalemo
    • Kotamobagu
    • Bolmut
    • Kota Smart
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • INFOGRAFIS
    • Info Pasar
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Pohuwato
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Boalemo
    • Kotamobagu
    • Bolmut
    • Kota Smart
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi
No Result
View All Result
No Result
View All Result
gopos.id

Anak bukan Miniatur Orang Dewasa, Anak adalah Anak

Arif Bina by Arif Bina
Minggu 30 November 2025
in Perspektif
0
0
SHARES
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Di balik meningkatnya perhatian masyarakat terhadap isu pendidikan dan masa depan anak, tersimpan persoalan mendasar yang sering luput disadari, yakni cara kita memandang anak itu sendiri. Banyak orang dewasa, tanpa sadar, memosisikan anak sebagai “orang dewasa kecil” yang dituntut untuk cepat paham, kuat secara emosi, dan mampu mengendalikan diri secara matang. Cara pandang ini lahir dari tekanan sosial, budaya prestasi, serta kekeliruan memahami proses tumbuh kembang anak.

Berbagai studi mutakhir menunjukkan bahwa tantangan terbesar perlindungan anak saat ini bukan hanya kemiskinan dan akses pendidikan, tetapi juga pola pengasuhan yang sarat tekanan psikologis dan kekerasan verbal. Hal ini diperkuat oleh temuan dalam developmental psychology yang menegaskan bahwa tekanan dini berkorelasi dengan gangguan emosi dan perilaku di kemudian hari. Padahal, sejak awal anak tidak diciptakan untuk langsung matang. Mereka diciptakan untuk tumbuh melalui tahapan yang alamiah, sebagaimana ditegaskan oleh Jean Piaget (2010) bahwa perkembangan kognitif anak berlangsung bertahap sesuai usia, bukan secara instan.

Anak bukanlah miniatur orang dewasa, melainkan manusia yang sedang berkembang dengan hukum dan ritme pertumbuhannya sendiri. Perbedaan cara berpikir, merasakan, dan bereaksi antara anak dan orang dewasa bukanlah kekurangan, melainkan karakteristik alamiah perkembangan. Dunia emosi anak masih belajar mengenali dan menamai perasaannya. Dunia kognisinya masih berproses memahami sebab–akibat. Dunia sosialnya masih belajar mengenal batas dan relasi. Perspektif ini sejalan dengan teori perkembangan psikososial Erik Erikson (1995) yang menegaskan bahwa setiap tahap usia memiliki tugas perkembangan emosional yang khas. Temuan longitudinal mutakhir juga menunjukkan bahwa tekanan emosional berlebih pada usia dini berhubungan kuat dengan meningkatnya kecemasan, depresi, dan gangguan regulasi emosi pada anak. Dengan demikian, memaksa anak untuk memiliki kedewasaan seperti orang dewasa bukan hanya tidak realistis, tetapi juga berisiko merusak kesehatan mentalnya.

Baca Juga :  Hari Anak Nasional Ke-41, Pemerintah Gorontalo Komitmen Turunkan Angka Kekerasan terhadap Anak

Dalam praktik pengasuhan sehari-hari, kemarahan kerap disalahpahami sebagai bagian dari disiplin. Bentakan, ancaman, dan tekanan verbal sering dianggap sebagai cara “mendidik” agar anak patuh. Namun, pola ini justru menghasilkan kepatuhan semu yang lahir dari rasa takut, bukan dari pemahaman nilai. Anak patuh bukan karena mengerti, melainkan karena ingin terhindar dari hukuman. Secara ilmiah, kekerasan verbal dan psikologis kini diakui sebagai bentuk kekerasan yang berdampak serius terhadap perkembangan otak dan emosi anak. Pola ini dikenal sebagai fear-based discipline, disiplin berbasis ketakutan yang melemahkan kemampuan regulasi diri. Karena itu, disiplin yang dibangun di atas rasa takut tidak akan melahirkan karakter yang tangguh, melainkan pribadi yang rapuh ketika pengawasan hilang.

Dampak kemarahan dan kekerasan verbal juga tertanam kuat dalam batin anak melalui kata-kata yang diucapkan setiap hari. Label seperti “bodoh”, “nakal”, atau “memalukan” perlahan membentuk cara anak memandang dirinya sendiri. Dari sanalah tumbuh rasa tidak percaya diri, takut gagal, dan keyakinan bahwa dirinya tidak pernah cukup baik. Studi neuropsikologi perkembangan menunjukkan bahwa kekerasan emosional pada masa kanak-kanak memengaruhi struktur otak yang mengatur emosi dan respons stres. Luka relasional awal ini sering tidak langsung tampak, tetapi baru muncul dalam bentuk kecemasan kronis, perfeksionisme berlebihan, atau agresivitas pada fase remaja dan dewasa. Dengan demikian, kekerasan emosional adalah luka yang diam, tetapi berumur panjang dalam kehidupan anak.

Persoalan pengasuhan menjadi semakin kompleks ketika anak kehilangan ruang alaminya untuk tumbuh sebagai anak. Waktu bermain kian terdesak oleh tuntutan akademik dan jadwal aktivitas yang padat. Anak dipacu mengejar prestasi sejak dini, seolah masa depan hanya ditentukan oleh angka dan capaian. Padahal, riset mutakhir dalam psikologi pendidikan menegaskan bahwa bermain merupakan fondasi utama perkembangan sosial, emosi, bahasa, dan ketahanan mental anak. Melalui bermain, anak belajar bekerja sama, mengelola emosi, menyelesaikan konflik, memahami aturan, dan menerima kegagalan secara sehat. Ketika dunia anak terlalu cepat ditarik ke dunia dewasa, yang terkikis bukan hanya keceriaan, tetapi juga kesehatan mentalnya. Dalam perspektif ekologi perkembangan Urie Bronfenbrenner (1979), kondisi ini dibentuk oleh relasi timbal balik antara keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial. Artinya, kesehatan mental anak sangat ditentukan oleh kualitas sistem yang mengelilinginya.

Baca Juga :  Terimakasih Pak Anas, Selamat Bertugas Pak Hendriwan

Pada akhirnya, pengasuhan yang sehat bukanlah pengasuhan tanpa batas, melainkan pengasuhan yang memadukan ketegasan dengan kehangatan. Anak tetap memerlukan aturan, konsistensi, dan struktur, tetapi semuanya harus lahir dari relasi yang aman, bukan dari dominasi yang menakutkan. Berbagai temuan kontemporer menunjukkan bahwa positive parenting berbasis dialog, afeksi, dan keteladanan jauh lebih efektif dalam membangun empati, kontrol diri, dan karakter moral anak. Anak juga tidak membutuhkan orang tua yang sempurna. Mereka hanya membutuhkan orang dewasa yang mau hadir secara utuh, mau belajar, dan mau mengakui kesalahan. Rasa aman yang lahir dari relasi inilah yang menjadi fondasi tumbuhnya kepercayaan diri, empati, dan ketahanan mental anak di masa depan. Dengan demikian, tugas terbesar orang dewasa bukan mempercepat anak menjadi dewasa, melainkan memastikan mereka tumbuh sebagai manusia yang utuh aman secara emosi, sehat secara jiwa, dan percaya pada dirinya sendiri.

Selamat Hari Anak, November 2025
Selamat Ulang Tahun Muhammad Albarrak Moge Ke- 8
We Love U…

 

Penulis: Dr. Kusmawaty Matara, MA., Akademisi, Pengajar Psikologi Pendidikan IAIN Sultan Amai Gorontalo

Tags: Hari AnakKusmawaty Matara
Previous Post

Menteri UMKM Bakal Cari Formulasi Soal Perdagangan Baju Bekas

Next Post

Polda Tetapkan Tersangka Kasus Dugaan Penganiayaan Aleg Deprov Gorontalo

Related Posts

Perspektif

Biografi Azis Rachman: Meniti Jalan Pengabdian dan Kepemimpinan

Sabtu 2 Mei 2026
Perspektif

Menuju Pengajaran Bahasa Inggris Inklusif: Lepas dari Belenggu “Native-Like”

Jumat 24 April 2026
Perspektif

TRAGEDI KEADILAN DAN PARADOKS NEGARA HUKUM: KETIKA PEMBELAAN DIRI DIPIDANAKAN

Rabu 22 April 2026
Perspektif

RTH Penting, Tetapi Jangan Sampai Menumbalkan Rakyat dan Jadi Lahan Basah Korupsi

Sabtu 4 April 2026
Perspektif

Di Persimpangan Jalan Idealisme dan Realistis, Tetaplah di Garis Marhaen GMNI

Senin 23 Maret 2026
Perspektif

TUMBILOTOHE GORONTALO DIMENSI SPIRITUAL, KULTURAL DAN EKONOM

Kamis 19 Maret 2026
Next Post

Polda Tetapkan Tersangka Kasus Dugaan Penganiayaan Aleg Deprov Gorontalo

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

  • UMKM Street Food Gorontalo Diserbu Warga, Jadi Event Kuliner Terbesar Pertama di Kota Gorontalo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pria di Lemito Tewas Ditembak dengan Senapan Angin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • ASN dan PPPK Tak Boleh Rangkap Jabatan sebagai Anggota BPD, Ini Penjelasan Aturannya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Banggakan Gorontalo! Dua Atlet Padel Raih Juara 2 di Turnamen Bergengsi Manado

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Usia Senja Tak Halangi Semangat Berhaji: Salim Potutu, Jemaah Haji Tertua dari Gorontalo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
WA Saluran
Facebook Icon-x Youtube Instagram Icon-ttk

© 2019 – 2023 Gopos.id  |  Gopos Media Online Indonesia | Gorontalo.

Iklan  |  Karir  |  Pedoman Media Cyber  |  Ramah Anak  |  Susunan Redaksi  |  Tentang Kami  |  Disclaimer

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • Info Pasar
    • INFOGRAFIS
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Ayo Germas
    • Boalemo
    • Bone Bolango
    • Kotamobagu
    • Bolmong Utara
    • Gorontalo Hebat
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Kota Smart
    • Pohuwato
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi

© 2019-2023 Gopos.id Gopos Media Online Indonesia | Gorontalo.