Penulis: Muh. Ghufron Suratman*
Bagi keluarga besar Abna Alkhairaat, nama Habib Idrus Bin Salim Aljufri – yang penuh ta’zim disebut Guru Tua – bukan hanya sekadar sosok pendiri lembaga pendidikan Alkhairaat dikawasan Timur Indonesia. Beliau adalah simbol kepahlawanan: pahlawan ilmu, pahlawan akhlak, dan pahlawan penerang kejahilan, yang jejak perjuangannya hidup dalam setiap madrasah, kelas, seragam, dan doa yang dibaca di lingkungan pendidikan Alkhairaat setiap hari hingga saat ini.
Habib Idrus lahir di Tarim, Hadhramaut, Yaman, tahun 1892 dan wafat di Palu pada 22 Desember 1969. Perjalanannya ke Nusantara bermula sebagai kunjungan ilmiah dan dakwah, hingga kemudian beliau menetap dan mengabdikan hidup di Sulawesi, khususnya Palu Sulawesi Tengah. Pada 1930, beliau mendirikan lembaga Pendidikan Alkhairaat yang kemudian tumbuh menjadi salah satu organisasi dan jaringan pendidikan Islam terbesar di kawasan timur Indonesia. Dari sinilah kepahlawanannya tampak nyata di mata para Abna sebutan bagi para santri dan alumni Alkhairaat. Bagi kami keluarga besar Abana Alkhairaat tertanam dalam diri bahwa Guru Tua adalah Pahlawan Ilmu, pahlawan keteladaan Akhlaq bagi para Santri dan masyarakat dimana beliau berada jauh sebelum usulan diajukan kepada negara untuk memberi gelar Pahlawan kepada Habib Idrus Bin Salim Aljufri.
Pahlawan Ilmu dan Peradaban
Sebelum kehadiran Guru Tua, pendidikan agama masyarakat di banyak wilayah Sulawesi masih terbatas pada lingkup keluarga dan pengajian tradisional dan bahkan sebagaian besar masyarakat di lembah Palu masih belum mengenal Islam. Melalui Alkhairaat, beliau memperkenalkan Islam bahkan menjelma menjadi model pendidikan Islam yang lebih terstruktur: ada madrasah, kurikulum, dan jenjang yang rapi, dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi.
Bagi Abna Alkhairaat, inilah bentuk “jihad” Guru Tua: bukan hanya mengajar di mimbar, tetapi membangun sistem pendidikan yang terus hidup bahkan puluhan tahun setelah beliau wafat. Di ruang-ruang kelas Alkhairaat, generasi demi generasi belajar ilmu Al-Qur’an, memperdalam fikih dan akidah, sekaligus mengenal ilmu umum dan keterampilan modern. Itulah mengapa beliau dipandang sebagai pahlawan peradaban bagi sebagian besar masyarakat Sulawesi Tengah dari pelajar desa hingga pejabat negara, banyak yang mengakui bahwa pintu ilmu mereka dibuka melalui lembaga yang beliau dirikan.
Hingga saat ini ratusan alumni Alkhairaat berkiprah di semua lini kehidupan berbangsa dan bernegara mulai dari pusat hingga daerah. Mulai dari Politisi, Kepala Daerah, Pendidikan, Birokrat, Organisasi Keagamaan bahkan dunia Usaha.
Pahlawan Moderasi dan Persatuan
Salah satu sisi kepahlawanan Guru Tua yang sangat dijaga oleh Abna Alkhairaat adalah komitmennya pada toleransi,kerukunan dan persaudaraan. Sejumlah catatan menyebutkan bagaimana beliau membangun lembaga pendidikan yang terbuka, bahkan melibatkan saudara nonmuslim sebagai tenaga pendidik di sekolah-sekolah Alkhairaat di wilayah mayoritas nonmuslim, seperti di Sulawesi Utara, Maluku Utara.
Sikap ini menunjukkan bahwa dakwah Guru Tua bukan dakwah yang memecah-belah, melainkan dakwah yang memperkuat ukhuwah wathaniyah dan kebangsaan. Bagi Abna Alkhairaat, inilah teladan nyata: menjadi muslim yang teguh pada aqidah, namun ramah kepada sesama, menghormati perbedaan, dan mampu bekerja sama dengan siapa saja demi kemaslahatan umat untuk nusa dan bangsa. Guru Tua dilihat sebagai pahlawan toleransi yang jauh mendahului wacana “moderasi beragama” yang ramai dibahas saat ini.
Pahlawan Kebangsaan: Cinta Tanah Air sebagai Nilai Pendidikan
Guru Tua bukan hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menanamkan semangat kebangsaan. Penelitian tentang perjuangannya mencatat bahwa beliau menumbuhkan rasa cinta tanah air dan semangat melawan penjajahan melalui pendidikan dan ungkapan syair-syair yang menggerakkan jiwa para warga dan santrinya.
Walaupun basis perjuangannya adalah pendidikan, pengorbanan Guru Tua diakui oleh mayoritas warga Sulawesi Tengah, sebagai bagian dari perjuangan kemerdekaan Indonesia. Bandar Udara utama di Palu Sulawesi Tengah kini menyandang nama Bandara Mutiara SIS Al-Jufrie, sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan negara/daerah terhadap jasa beliau sebagai ulama dan pendidik yang menghidupkan Islam dan peradaban di wilayah Timur Indonesia. Bahkan karena cintannya serta bangganya pengakuan Masyarakat Sulawesi Tengah terhadap perjuangan dan jasa Habib Idrus Bin Salim Aljufri kita akan menemui Gambar Habib Idrus (Guru Tua) di setiap rumah masysrakatnya. Pengalaman penulis saat melakukan perjalanan darat dari Pagimana sampai ke poso menggunaan angkutan umum mendapati disetiap gantungan kunci kendaraan umum tergantung gambar Habib Idrus Bin Salim Aljufri, bahkan rumah makan yang disinggahi menjadi pemandangan yang tidak asing tergantung didinding rumah makan gambar Guru Tua.
Dalam beberapa tahun terakhir, usulan agar Guru Tua ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional semakin menguat. Lima gubernur dari berbagai provinsi – termasuk Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Gorontalo, Maluku Utara, dan Kalimantan Utara – mendukung pengusulan gelar tersebut, Hal ini menunjukkan luasnya pengaruh dan penghormatan kepada beliau. Bagi Abna Alkhairaat, gelar resmi itu penting olehnya atas nama alumni mengucapan terimakasih bagi mereka yang tetap istiqomah memperjuangkan , tetapi jauh sebelum pengakuan negara tentang kepahlawanan belaiu Guru Tua, di hati kami para santri dan alumni Guru Tua adalah sosok Pahlawan . Ibaratnya pengakuan negara Adalah Bonus bagi Alkhairaat, tapi bagi kami para santri dan alumni Guru Tua adalah Pahlawan sejak dahulu hingga sekarang.
Guru Tua di Mata Abnaul Alkhairaat
Dalam tradisi masyarakat Kaili, sebutan atau sapaan “Guru Tua” bermakna “gurunya guru”: gelar kehormatan tertinggi bagi sosok yang menguasai ilmu duniawi dan ukhrawi, dan mengajarkannya kepada banyak orang. Abnaul Alkhairaat memandang beliau bukan sekadar pendiri lembaga, tetapi sebagai orang tua ruhani yang menuntun mereka mengenal Allah, Rasul-Nya, ilmu, dan juga cinta tanah air.
Bagi seorang Abna:
- Ketika ia menyebut namanya, selalu disertai rasa hormat atas semua jasa-jasanya dan rindu akan petuah yang penuh kekuatan keikhlasan ruhnya.
- Ketika ia mengajar di kelas, ia merasa sedang meneruskan dan menyambungkan rantai sanad ilmu yang berasal dari Guru Tua hingga Rasulullah saw.
- Ketika ia berkhidmat di masyarakat, ia merasa sedang menghidupkan ajaran keikhlasan dan pengabdian yang dicontohkan beliau Guru Tua yang beraliran Ahlu Sunnah wal Jamaah.
Data menunjukkan bahwa jaringan Alkhairaat kini mencakup ribuan unit pendidikan dan jutaan warga yang berafiliasi sebagai santri, guru, dan alumni di berbagai provinsi di Indonesia Timur. Di balik angka yang besar itu, ada satu ruh yang sama: ruh perjuangan Guru Tua yang terus mengalir lewat pengajian, madrasah, universitas, dan gerakan pengabdian sosial. Bahkan dari sulbi dan Rahim Alkhairaat muncul lembaga pendidikan baru yang didirikan dan dikelola oleh Alumni Alkhiraat yang dibelakangnya menggunakan nama Alkhairaat mulai dari: Nahdlatul Khairaat, Ummul Khairaat, Najmul Khairaat, Nidaul Khairaat, Azharul Khairaat, Nurul Khairaat, Zahratul Khairaat kesemua lembaga itu adalah milik para alumni Alkhairaat yang tersebar di wilayah Sulawesi Tengah dan Gorontalo.
Warisan dan Tanggung Jawab Generasi
Kepahlawanan Guru Tua bukan dongeng masa lalu, tetapi amanah hari ini bagi Abnaul Alkhairaat. Warisan yang beliau tinggalkan bukan hanya bangunan madrasah dan universitas, tetapi:
- Tradisi ilmu: dorongan untuk terus belajar, mengajar, dan membuka lembaga pendidikan baru di daerah-daerah terpencil sebagai bentuk amanah Guru Tua memberi manfaat ilmu untuk orang lain.
- Tradisi akhlak: menebar kasih sayang, kesederhanaan, dan kerendahan hati dalam berdakwah.
- Tradisi kebangsaan: mengajarkan bahwa cinta tanah air adalah bagian dari iman, dan bahwa umat yang kuat adalah umat yang berpendidikan dan mencintai bangsa.
Karena itu, di mata Abna Alkhairaat, kita belum benar-benar memuliakan Guru Tua kalau hanya sekadar memajang fotonya di dinding kelas atau memperingati haulnya setahun sekali. Cara terbaik memuliakan beliau adalah melanjutkan perjuangan: menjaga mutu pendidikan Alkhairaat, menguatkan karakter santri, mengokohkan moderasi dan persatuan, serta hadir sebagai solusi problem di tengah umat.
Penutup
Perlu Penulis tegaskan kembali bila negara kelak resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Habib Idrus bin Salim Aljufri, Abna Alkhairaat tentu bersyukur. Namun jauh sebelum itu, dalam hati setiap Abna yang pernah belajar di bawah bendera hijau Alkhairaat,Guru Tua telah menjadi pahlawan bagi kami, pahlawan yang menerangi jahiliah dengan ilmu, menghaluskan kerasnya jiwa dengan akhlak, dan menguatkan cinta pada Allah sekaligus pada Negeri kita Indonesia.
Wallahu a’lam bishowab
*Penulis adalah Alumni PP Alkhairaat Kota Gorontalo,Staf Pengajar MTs dan MA, Ketua PW RMINU Gorontalo dan Katib Syuriah PCNU Kota Gorontalo.








