GOPOS.ID, GORONTALO – Produktivitas usaha jasa akomodasi di Provinsi Gorontalo pada September 2025 menunjukkan tren beragam. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang tercatat sebesar 45,57 persen, naik 0,99 poin dibandingkan Agustus 2025 yang sebesar 44,58 persen. Sementara itu, TPK hotel nonbintang menurun menjadi 14,64 persen dari sebelumnya 15,29 persen.
Plt Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo, Dwi Alwi Astuti, menjelaskan tren peningkatan TPK hotel bintang pada September memperlihatkan adanya pergeseran pola puncak okupansi dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“Jika pada 2023 puncak TPK terjadi pada September dan pada 2024 bergeser ke November, maka pada 2025 kembali ke September,” ujarnya, dalam Laporan Resmi Statistik, Senin (3/11/2025).
Dwi Alwi menjelaskan, TPK hotel bintang di Gorontalo sejak 2023 hingga September 2025 bergerak dalam kisaran 23 persen hingga 60 persen. Pada 2023, titik tertinggi terjadi pada September (56,45 persen), sedangkan tahun 2024 mencapai puncak di November (64,75 persen). Memasuki 2025, September kembali menjadi bulan dengan okupansi tertinggi, meski pada level yang lebih rendah dibanding dua tahun sebelumnya.
Secara nasional, TPK hotel bintang Indonesia pada September 2025 mencapai 50,16 persen. Provinsi Bali menempati posisi tertinggi dengan 68,13 persen, sedangkan Bangka Belitung menjadi yang terendah, hanya 26,60 persen. Angka Gorontalo masih berada di bawah rata-rata nasional.
Selain tingkat okupansi, BPS juga mencatat rata-rata lama menginap tamu (RLMT) hotel bintang di Gorontalo selama September 2025 sebesar 1,54 malam, sedikit menurun dari Agustus (1,61 malam). Tamu asing rata-rata menginap 1,49 malam, lebih singkat dibanding tamu domestik yang mencapai 1,54 malam.
Untuk hotel nonbintang, RLMT pada September 2025 tercatat 1,10 malam, naik tipis dari 1,08 malam pada Agustus. Perbedaan lama menginap antara tamu asing dan domestik relatif kecil, masing-masing 1,33 malam dan 1,10 malam.
“Dalam dua tahun terakhir, pola lama menginap tamu hotel bintang di Gorontalo cenderung stabil dan fluktuatif ringan,” terang Dwi Alwi.
Tahun 2023 mencatat rata-rata tertinggi pada April (2 malam) dan terendah pada Desember (1,42 malam). Sepanjang 2024, durasi menginap tidak lebih dari dua malam di setiap bulan. Memasuki Januari–September 2025, rata-rata lama menginap bergerak antara 1,39 hingga 1,61 malam, dengan puncak tertinggi pada Agustus.
Menurut Dwi Alwi, dinamika tersebut menunjukkan tingkat hunian dan lama menginap masih dipengaruhi pola musiman serta kegiatan yang mendorong kunjungan wisata atau perjalanan dinas di daerah.
“Perlu upaya kolaboratif antara pemerintah daerah dan pelaku industri untuk meningkatkan daya tarik kunjungan agar tingkat hunian lebih stabil,” ujarnya.(hasan/gopos)








