GOPOS.ID, GORONTALO – Harga sejumlah bahan pangan di Provinsi Gorontalo mengalami penurunan harga pada Mei 2026. Situasi itu mendorong terjadinya deflasi sebesar 0,96 persen dibandingkan April 2026.
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo mencatat, penurunan harga paling besar terjadi pada cabai rawit, daging ayam ras, telur ayam ras, ikan selar atau ikan tude, ikan mujair, cumi-cumi, hingga ikan layang. Turunnya harga komoditas tersebut menjadi faktor utama yang menekan laju inflasi daerah Gorontalo sepanjang Mei 2026.
Kepala BPS Provinsi Gorontalo, Agus Sudibyo, mengatakan deflasi Mei 2026 terutama dipengaruhi kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami penurunan harga cukup signifikan.
“Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami deflasi sebesar 3,06 persen dan memberikan andil deflasi terbesar, yakni 1,15 persen,” ujar Agus saat menyampaikan Berita Resmi Statistik BPS Provinsi Gorontalo edisi Juni 2026, Selasa (2/6/2026).
Di tengah penurunan harga sejumlah bahan pangan, beberapa komoditas masih mengalami kenaikan harga selama Mei 2026. Diantaranya Tomat, beras, nasi dengan lauk, serta sigaret kretek mesin menjadi komoditas yang memberikan andil inflasi pada periode tersebut.
Agus menjelaskan, meski secara bulanan terjadi deflasi, Gorontalo masih mencatat inflasi tahunan atau year-on-year (y-on-y) sebesar 2,99 persen. Inflasi tahunan ini dipengaruhi adanya inflasi atau kenaikan harga yang cukup signifikan pada tiga kelompok pengeluaran. Yakni kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 7,15 persen. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 4,87 persen. Serta kelompok transportasi sebesar 2,85 persen. “Inflasi tahunan tersebut terutama didorong kenaikan harga emas perhiasan, angkutan udara, serta sejumlah komoditas pangan seperti tomat, beras, bawang merah, ikan cakalang, dan ikan layang,” urai Agus Sudibyo.
Lebih lanjut Agus mengemukakan, dilihat dari andil inflasi tahunan sebesar 2,99 persen, kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil yang cukup besar yakni sebesar 1,76 persen. “Hal ini menjadi gambaran bahwa harga komoditi bahan pangan harus dijaga karena memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap inflasi daerah,” ujar Agus Sudibyo.(hasan/gopos)








