No Result
View All Result
gopos.id
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • INFOGRAFIS
    • Info Pasar
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Pohuwato
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Boalemo
    • Kotamobagu
    • Bolmut
    • Kota Smart
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • INFOGRAFIS
    • Info Pasar
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Pohuwato
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Boalemo
    • Kotamobagu
    • Bolmut
    • Kota Smart
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi
No Result
View All Result
No Result
View All Result
gopos.id

Proklamasi di Kabila dan Merah Putih 16 Agustus

Hasan by Hasan
Minggu 17 Agustus 2025
in Perspektif
0
Basri Amin

Basri Amin

0
SHARES
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Basri Amin

Lembaga Kajian Sekolah & Masyarakat – LekSEMA

PADA tanggal 16 Agustus 1945, Sang Saka Merah Putih sudah berkibar istimewa di Gorontalo. Memori lama kita tentu tetap abadi tentang “Proklamasi” dan kibaran “Merah Putih” di Gorontalo pada hari Jumat 23 Januari 1942 oleh Nani Wartabone yang ditopang gerakan patriotiknya oleh patriot-patriot terdepan kebangsaan di Gorontalo dan oleh kelompok rakyat –-Pasukan Berani Mati–, termasuk Gerakan Pandu dan anggota partai-partai politik di masa itu.

Dengan nasionalisme yang menyala, merah Putih kembali berkibar di Gorontalo, sehari sebelum kibaran bersejarah di Jakarta…

Nani Wartabone menulis, bahwa pada “16 Agustus 1945, saya mengadakan upacara penaikan kembali Sang Saka Merah Putih dengan iringan lagu Indonesia Raya di halaman bekas kantor Kenkanrikan (bekas kediaman Asisten Residen di Gorontalo). Rupanya, pada tanggal 15 Agustus 1945, Nani Wartabone telah menerima “penyerahan kekuasaan dari penguasa Jepang, Kinosita, kepada beliau (NW, 1978: 4).

Di masa itu, bendera Merah Putih lebih sering disebut dengan kata-kata “Sang Saka Merah Putih.” Telah dipelajari mendalam oleh Prof. Muhammad Yamin, bahwa penggunaan “Merah” dan “Putih” serta makna-makna dasarnya memang sudah mengakar dalam, jauh dan meluas di Nusantara, termasuk di Sulawesi. Kata Saka bermakna “gelaran-kemegahan yang turun temurun.” Dengan demikian, Sang Saka artinya “benda warisan yang dimuliakan.” (Yamin, 1958: 230-231).

Lagi-lagi, sejarah keindonesiaan kita di Gorontalo menemukan cahaya sejarahnya yang unik dan menyala. Kabar Proklamasi “17 Agustus 1945” di Pegangsaan Timur 56 Jakarta, “Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia” yang dibacakan oleh Soekarno — didampingi Bung Hatta, diketahui oleh rakyat di Gorontalo nanti pada tanggal 28 Agustus 1945, setelah Nani Wartabone dan kawan-kawannya berhasil menyimak beritanya melalui Radio – Jepang. Maka, semakin berkobar lagi jiwa proklamasi itu di Gorontalo. Napas panjang Proklamasi “23 Januari 1942” menggema kembali…

Baca Juga :  Sekda Darda Jadi Pemimpin Upacara Penurunan Bendera

Terhadap “Kemerdekaan” di Gorontalo yang heroik pada 23 Januari 1942 tersebut, Prof. S.R. Nur, menuliskan kalimat yang sangat jernih dan bernyawa: “penggulingan pemerintahan kolonial Belanda di Indonesia yang dilakukan di Gorontalo.” Dengan demikian, perjuangan kemerdekaan bukanlah sekadar “penangkapan sejumlah aparatus Belanda di Gorontalo…” yang jumlah resminya hanya puluhan orang saja.

Perjuangan Gorontalo untuk Merdeka itu bisa dilacak jiwa-nya yang menyala-nyala sampai jauh ke belakang, antara lain sampai di masa Raja Arus Bone I (Raja Suwawa, 1960), Raja Bolango Mohammad Kamaruddin Hassan van Gobel (1862) atau di masa Raja Panipi, Bobihoe (1872—1974), Raja Tangahu (Suwawa), hingga perlawanan Rakyat oleh Olabu dan Tamuu di Sumalata (1889), dst (Nur, 1985).

Adalah kenyataan yang unik bahwa jiwa Merdeka itu di Gorontalo selalu bisa dimaterialkan perjuangannya di atas kebersamaan sebagai bangsa majemuk. Di masa “23 Januari 1942”, kita bukan hanya menggema dengan wibawa – kebesaran dan kerakyatan dari seorang Nani Wartabone, tetapi kita juga menemukan patriot-patriot hebat bernama Pendang Kalengkongan, nasionalis administrator – pemikir bernama R. Koesno Dhanupoyo dan Oe H Buluati. Demikian juga dengan tokoh-tokoh besar lainnya, seperti Dokter Saboe dan Ibrahim Muhammad, khususnya “Komite 12”. Mereka, pada dasarnya, adalah “setara dalam perjuangan” Kemerdekaan, kendati mereka harus saling merelakan dalam memilih peran, berbagi posisi, dan pengambilan resiko.

Patriotisme perjuangan dan simbolisme bukti-buktinya tidak harus diukur oleh nama siapa dan wajah yang bagaimana yang terpampang di baliho selebrasi dan di museum negara serta di dalam buku-buku buatan pakar. Yang jauh lebih mendasar adalah penghayatan kita yang mendalam tentang “jiwa kemerdekaan” dan “persatuan bangsa!”, serta “generasi patriotik” yang gigih menjawab panggilan zamannya di tengah-tengah dunia.

Baca Juga :  Pimpinan PGP Ajak Karyawan Isi Kemerdekaan dengan Semangat Kebersamaan

Di Kabila, Bone Bolango, di sebuah titik yang unik, kita bisa menemukan sebuah Tugu Peringatan

“Empat Tahun Proklamasi” Kemerdekaan Indonesia. Di Tugu itu, yang kita temukan bukan hanya “17 Agustus 1945”, melainkan juga tentang “27 Desember 1949”. Rupanya, Tugu Kabila ini hendak mengesankan sebuah pengetahuan keindonesiaan yang sangat penting dan yang tak bisa kita lupakan, bahwa setelah Proklamasi 17 Agustus 1945 di Jakarta, posisi “Indonesia” kita sesungguhnya dikepung oleh begitu banyak guncangan, pergolakan, dan ketidakpastian. Bahkan, ibu kota Republik di Jakarta terpaksa harus pindah ke Jogjakarta awal tahun 1946 dan nanti pada “27 Desember 1949” posisi Jakarta beroleh marwah kemerdekaannya kembali. Di tahun-tahun yang penuh gejolak itulah yang disebut sebagai “Revolusi Kemerdekaan” (Kahin, 1970).

Pada hari itu, 27 Desember 1949, akhirnya “Belanda menyatakan pengakuan atas Kemerdekaan Indonesia.” Bung Hatta di Belanda berpidato resmi di hari itu, sementara Sri Sultan IX di Istana Negara, “mengibarkan sang Saka Merah Putih.” Dengan penghormatan besar disaksikan oleh rakyat (https://www.youtube.com/watch?v=uj94LJPKBKw), bendera tri warna Belanda diturunkan dari tiangnya. Besoknya, 28 Desember 1949, barulah Presiden Soekarno, keluarga, dan Bendera Pusaka Merah Putih menuju Jakarta. Disambut ribuan rakyat, sepanjang tujuh kilometer dari Kemajoran sampai Istana Merdeka di Gambir (Antara, 2017: 59-60).

Merdeka dalam pengetahuan! Merdeka karena Perjuangan!

Kabila di Gorontalo, dari ujung negeri yang relatif jauh, juga membuktikan jiwa – raganya yang cinta Merah Putih. Sampai kini, Tugu Kabila itu masih terus kokoh berdiri di sana: untuk Kemerdekaan yang sesungguhnya. Kendati, ia terkesan sunyi dan tak pernah disapa oleh sejarah bangsanya di Gorontalo. Entah?! ***

Tags: Basri AminHUT RIProklamasi
Previous Post

Fun Run 5K Citifoodfest, Wagub Tekankan Pentingnya Event Ramah Lingkungan

Next Post

Wali Kota Kotamobagu Pimpin Upacara HUT ke-80 RI, Suasana Khidmat Warnai Alun-Alun

Related Posts

Perspektif

Di Balik Pengakuan Bersalah, Adakah Keadilan untuk Korban?

Rabu 20 Mei 2026
Husin Ali - Antropolog
Perspektif

Make Up School dan Kota sebagai Ruang Belajar: Jalan Kebudayaan Menuju Kota Jasa yang Beradab

Jumat 15 Mei 2026
Perspektif

Biografi Azis Rachman: Meniti Jalan Pengabdian dan Kepemimpinan

Sabtu 2 Mei 2026
Perspektif

Menuju Pengajaran Bahasa Inggris Inklusif: Lepas dari Belenggu “Native-Like”

Jumat 24 April 2026
Perspektif

TRAGEDI KEADILAN DAN PARADOKS NEGARA HUKUM: KETIKA PEMBELAAN DIRI DIPIDANAKAN

Rabu 22 April 2026
Perspektif

RTH Penting, Tetapi Jangan Sampai Menumbalkan Rakyat dan Jadi Lahan Basah Korupsi

Sabtu 4 April 2026
Next Post

Wali Kota Kotamobagu Pimpin Upacara HUT ke-80 RI, Suasana Khidmat Warnai Alun-Alun

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

  • Mahasiswa UNG Juara Lomba Baca Puisi, Siap Berlaga di Peksiminas Tingkat Nasional

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Puluhan Murid SD di Telaga Biru Muntah-muntah Usai Santap MBG

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • ASN dan PPPK Tak Boleh Rangkap Jabatan sebagai Anggota BPD, Ini Penjelasan Aturannya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Di Balik Pengakuan Bersalah, Adakah Keadilan untuk Korban?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Viral Diduga Tercemar Tambang, Camat Suwawa Selatan Ungkap Fakta Ikan Mati di Sungai Bone

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
WA Saluran
Facebook Icon-x Youtube Instagram Icon-ttk

© 2019 – 2023 Gopos.id  |  Gopos Media Online Indonesia | Gorontalo.

Iklan  |  Karir  |  Pedoman Media Cyber  |  Ramah Anak  |  Susunan Redaksi  |  Tentang Kami  |  Disclaimer

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • NEWS
    • Hukum & Kriminal
    • Indepth News
    • Info Pasar
    • INFOGRAFIS
    • Olahraga
    • Pemilu
    • Peristiwa
    • Politik
  • DAERAH
    • Gorontalo
    • Ayo Germas
    • Boalemo
    • Bone Bolango
    • Kotamobagu
    • Bolmong Utara
    • Gorontalo Hebat
    • Gorontalo Utara
    • Kabupaten Gorontalo
    • Kota Smart
    • Pohuwato
    • Wakil Rakyat
  • NASIONAL
  • LIFESTYLE
    • Infotaintment
    • Kuliner
    • Tekno
  • Menyapa Nusantara
  • MULTIMEDIA
    • Foto
    • Video
  • Gopos Literasi

© 2019-2023 Gopos.id Gopos Media Online Indonesia | Gorontalo.