GOPOS.ID, GORONTALO – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Infrastruktur Universitas Negeri Gorontalo (UNG) memulai langkah awal pengabdian di Desa Huntu Utara, Kecamatan Bulango Selatan, Kabupaten Bone Bolango, dengan menggelar Focus Group Discussion (FGD) pertama bersama Pemerintah Desa dan masyarakat.
Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu (22/8/2026) tersebut menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengidentifikasi berbagai permasalahan dan kebutuhan masyarakat sebagai dasar dalam menyusun program kerja yang tepat sasaran dan sesuai dengan kondisi di lapangan.
Desa Huntu Utara saat ini memiliki 403 Kepala Keluarga (KK). Dalam pelaksanaan FGD, kondisi dan kebutuhan infrastruktur masyarakat menjadi salah satu perhatian utama mahasiswa, khususnya yang berkaitan dengan infrastruktur dasar, sanitasi, lingkungan, serta pengelolaan persampahan.
Selain melakukan pemetaan permasalahan, mahasiswa KKN juga berencana memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya sanitasi dan kebersihan lingkungan. Salah satu hal yang turut menjadi perhatian adalah persoalan persampahan yang masih perlu mendapatkan penanganan secara bersama-sama.
Dalam bidang sanitasi, Desa Huntu Utara juga telah mendapatkan bantuan sebanyak 48 unit MCK dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Keberadaan fasilitas tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam mendukung peningkatan akses masyarakat terhadap sanitasi yang layak. Namun, keberlanjutan pemanfaatan dan pemeliharaan fasilitas tersebut tetap membutuhkan peran aktif masyarakat dan pemerintah desa.
Kepala Desa Huntu Utara, Yasin Djabi, SE, menyambut baik pelaksanaan FGD yang dilaksanakan oleh mahasiswa KKN Tematik Infrastruktur UNG. Ia berharap kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat dapat terus terjalin selama pelaksanaan program KKN.
Menurutnya, keterlibatan berbagai pihak diperlukan agar program yang dirancang tidak hanya menjawab kebutuhan masyarakat saat ini, tetapi juga dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi Desa Huntu Utara.
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Hasdiana, S.Pd., M.Sn, menegaskan bahwa FGD merupakan bagian penting dalam memetakan kondisi infrastruktur masyarakat sebelum mahasiswa menentukan program kerja.
Ia menjelaskan hasil diskusi bersama pemerintah desa dan masyarakat akan menjadi dasar bagi mahasiswa dalam menentukan prioritas permasalahan serta menyusun langkah penyelesaian yang sesuai dengan kebutuhan desa.
“FGD ini menjadi salah satu tahapan penting untuk mengetahui kondisi dan kebutuhan masyarakat secara langsung. Dengan adanya keterlibatan pemerintah desa dan masyarakat, program yang disusun diharapkan dapat lebih tepat sasaran dan berkelanjutan,” ujarnya.

Sementara itu, Koordinator Desa KKN Tematik Infrastruktur, Moh. Agung S. Kalapati, menyebut FGD pertama ini menjadi langkah awal bagi mahasiswa untuk memahami kondisi lapangan secara lebih menyeluruh.
Ia mengatakan, melalui proses diskusi dan komunikasi langsung dengan masyarakat, mahasiswa dapat memperoleh gambaran mengenai persoalan yang dihadapi warga, termasuk terkait sanitasi, fasilitas MCK, dan pengelolaan lingkungan.
Hasil FGD tersebut selanjutnya akan menjadi bahan bagi mahasiswa KKN Tematik Infrastruktur UNG dalam menyusun program kerja yang disesuaikan dengan kebutuhan dan potensi Desa Huntu Utara. Dengan sinergi antara mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat, program pengabdian diharapkan dapat memberikan manfaat nyata serta mendukung peningkatan kualitas lingkungan dan infrastruktur dasar masyarakat.(*/hasan/gopos)








