GOPOS.ID, KOTAMOBAGU – Upaya pelestarian seni dan budaya lokal di Bolaang Mongondow mendapat perhatian serius dari Pengurus Cabang Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Nahdlatul Ulama Kotamobagu. Pada masa khidmat 2026–2031, organisasi tersebut menetapkan dokumentasi, digitalisasi, dan pengarsipan kebudayaan sebagai program prioritas yang akan dijalankan secara bertahap selama lima tahun ke depan.
Langkah tersebut merupakan tindak lanjut dari hasil Musyawarah Kerja Cabang (Muskercab) setelah pelantikan jajaran pengurus baru PC Lesbumi NU Kotamobagu. Fokus utama pada tahun pertama kepengurusan adalah menyelamatkan berbagai jejak seni budaya daerah yang dinilai rentan hilang jika tidak segera didokumentasikan.
Ketua PC Lesbumi NU Kotamobagu, Iswahyudi Masloman atau yang akrab disapa Udi, mengatakan banyak tokoh seni dan budayawan lokal yang menyimpan pengetahuan berharga, namun belum terdokumentasi secara memadai.
“Kalau tidak dimulai sekarang, kita berisiko kehilangan jejak sejarah. Banyak tokoh seni yang menyimpan pengetahuan berharga, tetapi belum pernah terdokumentasikan dengan baik. Begitu pula karya-karya seni dan tradisi lokal yang selama ini hanya hidup dari generasi ke generasi tanpa arsip yang memadai. Karena itu, Lesbumi ingin bergerak sebelum semuanya terlambat,” ujarnya.
Sebagai langkah awal, Lesbumi menargetkan pendataan sedikitnya tiga sanggar seni serta pendokumentasian minimal tiga tokoh seni budaya Bolaang Mongondow pada tahun pertama. Pendataan juga akan mencakup komunitas seni, pelaku budaya, alat musik tradisional, karya seni, hingga situs budaya dan sejarah yang tersebar di wilayah Bolaang Mongondow Raya.
Selain melakukan pendokumentasian langsung, Lesbumi juga akan membangun arsip digital yang berisi foto, video, audio, dan tulisan mengenai berbagai kekayaan budaya daerah. Arsip tersebut nantinya akan dipublikasikan melalui kanal digital dan media massa sebagai sumber informasi dan referensi bagi masyarakat serta generasi muda.
Wakil Ketua PC Lesbumi NU Kotamobagu, Indra Umbola, menjelaskan bahwa program tersebut sesungguhnya telah mulai berjalan berkat dukungan sumber daya pengurus yang sebagian besar berasal dari kalangan jurnalis, seniman, fotografer, videografer, musisi, dan pelaku industri kreatif.
“Program ini sesungguhnya sudah berjalan. Kami mulai mendokumentasikan berbagai kegiatan seni budaya dan musik lokal karena sebagian besar pengurus Lesbumi merupakan praktisi seni budaya, musisi, fotografer, videografer, penulis, dan pelaku kreatif yang selama ini aktif berkarya,” kata Indra.
Menurutnya, Lesbumi hadir tidak hanya untuk mengembangkan seni bernuansa Islami, tetapi juga menjaga seluruh kekayaan budaya lokal sebagai bagian dari identitas masyarakat Bolaang Mongondow.
“Bagi kami, budaya lokal adalah identitas masyarakat yang harus dijaga, dirawat, dan diwariskan kepada generasi berikutnya selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam,” tegasnya.
Sementara itu, Bendahara PC Lesbumi NU Kotamobagu, Egenus Paputungan, mengungkapkan bahwa pihaknya juga telah menyiapkan sejumlah program kreatif untuk mendorong lahirnya karya-karya baru dari daerah.
Salah satu program yang disiapkan adalah target penerbitan minimal satu lagu baru setiap tahun dengan memadukan bahasa Mongondow dan Bahasa Indonesia yang mengangkat tema dakwah Islam, persaudaraan, budaya lokal, dan kebangsaan.
Selain itu, Lesbumi juga berencana menggelar Festival Musik Islami pada bulan Muharram mendatang, serta Festival Seni Budaya yang akan dilaksanakan melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah dan berbagai lembaga di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Tak hanya itu, organisasi tersebut juga menyiapkan Lesbumi Recording Project, yaitu program rekaman album kompilasi musisi lokal yang ditargetkan diproduksi setiap tahun sebagai wadah promosi sekaligus pelestarian karya musik daerah.
Pada akhir masa khidmat 2026–2031, Lesbumi menargetkan penerbitan buku dokumentasi seni budaya Bolaang Mongondow yang memuat tradisi, situs sejarah, serta profil tokoh-tokoh seni budaya sebagai referensi bagi masyarakat, akademisi, dan generasi muda.
Melalui berbagai program tersebut, Lesbumi Kotamobagu berharap dapat menjadi rumah bersama bagi para seniman dan budayawan, sekaligus memperkuat peran seni budaya sebagai media dakwah kultural yang mampu menjaga identitas lokal dan mewariskan kekayaan budaya daerah kepada generasi mendatang. (Joe/Gopos)








