GOPOS.ID, GORONTALO – Dari timur Indonesia, Kota Gorontalo menghadirkan jawaban yang santun sekaligus bermakna atas arahan Presiden RI Prabowo Subianto tentang penguatan karakter bangsa, kepedulian lingkungan, dan revitalisasi nilai gotong royong.
Melalui gerakan Pramuka Penjaga Lingkungan, arahan nasional itu tidak berhenti sebagai wacana kebijakan, melainkan dihidupkan menjadi kerja kolektif yang menyentuh ruang publik dan batin masyarakat.
Gagasan ini berakar pada kepemimpinan Adhan Dambea selaku Kamabicab. Dengan pendekatan sederhana namun bernas, Kak Adhan menggerakkan Pramuka untuk hadir di pusat kehidupan warga—membersihkan, merawat, dan memuliakan lingkungan—seraya menanamkan disiplin, tanggung jawab, dan semangat pengabdian.
Pemilihan masjid dan lingkungan sekitarnya sebagai lokasi kegiatan menegaskan pandangan bahwa pendidikan karakter tumbuh kuat ketika nilai religius, sosial, dan kebangsaan bertemu dalam kerja nyata.
Dukungan penuh menguat dari Waka Mabicab Indra Gobel, yang menekankan pentingnya kolaborasi lintas unsur. Pemerintah, satuan pendidikan, madrasah, dan masyarakat disatukan agar Pramuka menjadi simpul energi positif kota—bergerak serempak, rapi, dan berdampak luas—terutama menjelang Bulan Suci Ramadhan yang menuntut keteduhan, kepedulian, dan keteladanan.
Skala gerakan tercermin dari sebarannya yang menyeluruh. Puluhan masjid tersentuh kegiatan secara serentak, menjangkau seluruh kecamatan dan banyak kelurahan di Kota Gorontalo. Masjid diposisikan sebagai simpul peradaban—ruang ibadah, ruang sosial, dan ruang belajar karakter—tempat Pramuka membersihkan lingkungan, menata fasilitas, dan menguatkan ikatan kebersamaan warga.
Penguatan ideologis dan organisatoris gerakan ini dipandu oleh Ketua Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kota Gorontalo, Kak Husin Ali. Selama ini dikenal luas sebagai antropolog yang konsisten menulis dan mengulas persoalan kebudayaan, pendidikan, dan karakter masyarakat, Kak Husin Ali kini tidak berhenti pada ruang gagasan. Ia hadir langsung di tengah gerakan, memimpin Pramuka sebagai laboratorium sosial—tempat nilai, tradisi, dan etika diuji melalui tindakan nyata.
Bagi Kak Husin Ali, Pramuka Penjaga Lingkungan adalah wujud konkret dari apa yang selama ini ia tuliskan: bahwa karakter tidak dibentuk lewat ceramah, melainkan lewat pengalaman kolektif, kerja sunyi, dan keteladanan sosial. Pramuka menjadi medium pembelajaran kultural—mengajarkan anak-anak dan remaja untuk membaca ruang hidupnya, menghormati simbol-simbol peradaban seperti masjid, serta bertanggung jawab atas lingkungan sebagai warisan bersama. Menjelang Ramadhan, gerakan ini dimaknai sebagai proses membersihkan ruang sekaligus menata jiwa.
Keistimewaan lain dari gerakan ini terletak pada kolaborasi yang inklusif. Gugusdepan yang berpangkalan di madrasah bersanding harmonis dengan sekolah non-muslim, memperkaya spektrum pendidikan kepramukaan dan menegaskan Pramuka sebagai rumah besar pendidikan karakter yang berakar pada nilai lokal dan kebinekaan. Di tingkat wilayah, sinergi para camat, lurah, dan perangkat takmir masjid menjadi kunci kelancaran pelaksanaan, memastikan kegiatan berjalan tertib, menyatu dengan kebutuhan lingkungan setempat, serta memuliakan masjid sebagai pusat peradaban warga.
Gaung gerakan ini kian menguat berkat dukungan lintas lembaga: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Gorontalo, Kementerian Agama Kota Gorontalo, dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Gorontalo. Kolaborasi tersebut memastikan keselarasan dengan kebijakan nasional penguatan karakter, moderasi beragama, dan kepedulian lingkungan.
Sebagai penutup, Pengurus Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kota Gorontalo menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh insan Pramuka—para Wakil Ketua Kwarcab, Andalan Kwarcab, Dewan Kerja Cabang, Pembina Gugus depan, Kamabigus, dan Ketua Gugus depan—serta kepada camat, lurah, dan takmir masjid yang telah bergandengan tangan. Dedikasi dan kerja nyata para penggerak lapangan menjadi fondasi kokoh keberhasilan gerakan ini.
Dari Kota Gorontalo, Indonesia menyaksikan teladan yang berwibawa dan meneduhkan: ketika arahan Presiden dijawab dengan kepemimpinan daerah yang membumi, ditopang pemikiran antropologis yang menjelma aksi, serta digerakkan Pramuka yang bekerja senyap namun berdampak, maka nilai kebangsaan tumbuh menjadi laku. Pramuka Penjaga Lingkungan membuktikan bahwa dari daerah, energi kebangsaan dapat menyala—membersihkan ruang, meneduhkan hati, dan menguatkan karakter bangsa dalam menyongsong Ramadhan.(*)








