GOPOS.ID, GORONTALO – Daya beli petani hortikultura di Gorontalo pada Juli 2026 melemah dibandingkan Juni 2026. Situasi tersebut dipicu oleh menurunnya pendapatan yang diterima seiring penurunan harga jual produk yang dihasilkan.
Penurunan daya beli petani tersebut tercermin pada Nilai Tukar Petani (NTP) yang diukur Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo. Pada Juli 2026, NTP tercatat sebesar 123,19 atau turun 5,99 persen dibandingkan NTP Juni 2026 yang sebesar 131,04. “Penurunan ini disebabkan oleh indeks harga yang diterima petani dan indeks harga yang dibayarkan petani, kedua-duanya mengalami penurunan,” kata Kepala BPS Provinsi Gorontalo, Agus Sudibyo.
Indeks harga yang diterima petani di Gorontalo pada Juli 2026 tercatat sebesar 158,63 atau menurun 7,74 persen dibandingkan Juni 2026. Demikian pula indeks harga yang dibayarkan petani pada Juli 2026 sebesar 128,77 atau menurun 1,86 persen dibandingkan Juni 2026.
Penurunan NTP terdalam terjadi pada subsektor tanaman hortikultura yang mencapai 43,92 persen. Meski subsektor lainnya seperti tanaman pangan, perkebunan rakyat, peternakan dan perikanan mengalami kenaikan, besaran kenaikan tersebut masih lebih kecil dengan angka penurunan yang terjadi pada subsektor tanaman hortikultura.
Agus Sudibyo menjelaskan, komoditas yang mengalami penurunan pada indeks yang diterima petani adalah cabai rawit dan cabe merah. Dalam rentang Juli 2026, harga cabai rawit dan cabe merah mengalami penurunan. Hal ini berdampak terhadap pendapatan atau hasil penjualan yang diperoleh petani. “Harga produk mereka turun, sehingga uang yang didapatkan ikut pula menurun,” terang Agus Sudibyo.
Di sisi lain, komoditas yang mengalami penurunan indek harga yang dibayarkan petani adalah cabai rawit dan cabe merah. Hal ini dapat dipahami, uang yang dibelanjakan petani untuk mengkonsumsi produk cabe merah dan cabai rawit juga ikut menurun.
“Tetapi penurunan harga jual produk lebih besar dibandingkan konsuminya. Jadi kalau harga jualnya turun 7,74 persen, harga beli konsumsinya hanya turun 1,86 persen. Makanya NTP turunnya jauh,” urai Agus Sudibyo.
Harga komoditas hortikultura terutama cabai rawit dan tomat di Gorontalo pada Juli 2026 relatif menurun dibandingkan Juni 2026. Di tingkat pasar tradisional harga cabai rawit berkisar Rp40-60 ribu per kilogram. Sementara harga tomat berada di kisaran Rp10-12 ribu per kilogram. Berbeda dengan situasi Juni 2026. Harga cabai rawit berada di kisaran Rp100-120 ribu per kilogram. Sedangkan tomat sempat menyentuh di angka Rp30 ribu per kilogram.
Sementara dilihat dari nilai tukar usaha pertanian (NTUP)—yang perhitungannya menghilangkan konsumsi petani dengan rumus: harga jual dibagi biaya produksi dan penambahan modal—maka penurunannya lebih dalam lagi yakni sekitar 6,71 persen. Situasi ini disebabkan penurunan yang cukup dalam pada subsektor hortikultura.
“Jadi bukan rugi karena NTPnya berada di atas 100, hanya saja dapat dipahami bahwa pendapatan yang dimiliki petani lebih kecil dari bulan kemarin,” kata Agus Sudibyo.
Di Sulawesi, NTP Gorontalo berada di urutan ketiga terbesar setelah Sulawesi Barat (130,08) dan Sulawesi Utara (129,56).(hasan/gopos)








