GOPOS.ID, GORONTALO – Strategi pengendalian inflasi di Provinsi Gorontalo perlu dikuatkan kembali. Langkah tersebut untuk merespon perkembangan inflasi Gorotnalo yang sudah mendekati batas atas target inflasi nasional.
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo mencatat, inflasi tahunan Gorontalo (Year on Year/YoY) mencapai 4,77 persen. Sementara inflasi tahunan kalender (year to date (Ytd) atau Juni 2026 terhadap Desember 2025 tercatat 3,27 persen. Sesuai target inflasi nasional yang ditetapkan sebesar 2,5 persen ±1 persen atau maksimal 3,5 persen.
Kepala BPS Provinsi Gorontalo, Agus Sudibyo, mengatakan jika mengacu pada target nasional maka inflasi YoY Juni 2026 sudah melebihi target, karena target maksimal 3,5 persen.
“Ini cukup perlu dipahami karena tahun lalu di Juni 2025 inflasi kita cukup rendah. Termasuk pada Mei 2025 kita mengalami deflasi sehingga di Juni ini inflasinya cukup tinggi karena pembandingnya di awal sudah cukup rendah. Ini juga suatu hal yang harus diwaspadai karena secara year on year inflasi Gorontalo sudah 4,77,” ujar Agus Sudibyo saat merilis Berita Resmi Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo edisi Juli 2026, Rabu (1/7).
Berdasarkan kelompok pengeluaran, makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan kenaikan mencapai 9,21 persen dan memberikan andil 3,34 persen terhadap inflasi tahunan. Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi sebesar 7,45 persen, sedangkan kelompok transportasi tercatat naik 3,53 persen.
Menurut Agus, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi dan tarif angkutan udara menjadi salah satu faktor yang mendorong inflasi pada kelompok transportasi.
“Di kelompok transportasi tentunya kita lihat adanya kenaikan harga BBM Pertamax dan lain sebagainya termasuk angkutan udara, sehingga kelompok ini memberikan inflasi yang cukup tinggi,” katanya.
Secara komoditas, bawang merah masih menjadi penyumbang utama inflasi tahunan dengan andil 0,48 persen, disusul emas perhiasan sebesar 0,47 persen, beras sebesar 0,41 persen, dan tomat sebesar 0,36 persen.
Sementara itu, inflasi tahun kalender (year to date/YtD) atau Juni 2026 terhadap Desember 2025 tercatat 3,27 persen, atau sudah mendekati batas atas target inflasi nasional sebesar 3,5 persen.
Agus menjelaskan, angka inflasi YtD merupakan akumulasi dari perkembangan inflasi bulanan (month to month/MtM), sehingga pengendalian inflasi bulanan menjadi kunci menjaga inflasi tahunan tetap terkendali.
“Karena angka 3,27 ini merupakan representasi dari month to month, pergerakan inflasi month to month akan ketemu pada angka inflasi year to date. Kalau month to month terkawal dengan baik maka angka year to date akan terkawal dengan baik pula. Yang utama kita mengawal month to month itu relatif stabil dan tidak terjadi kenaikan atau penurunan yang relatif ekstrem,” jelasnya.
Ia menambahkan, pola inflasi pada semester kedua tahun ini akan menjadi perhatian karena posisi inflasi YtD sudah mendekati target maksimal pemerintah.
“YTD 3,27 sudah mendekati target maksimal 3,5, nah ke depannya kita lihat polanya seperti apa,” ujar Agus.
Untuk inflasi tahun kalender, kelompok makanan, minuman, dan tembakau kembali menjadi penyumbang terbesar dengan inflasi 5,29 persen dan andil 1,94 persen. Selanjutnya, kelompok kesehatan mengalami inflasi 1,51 persen, sedangkan rekreasi, olahraga, dan budaya mencatat inflasi 1,06 persen.(hasan/gopos)








