GOPOS.ID, GORONTALO – Direktur RS Hasri Ainun Habibie, Fitryanto Rajak melalui kuasa hukumnya meluruskan isu dugaan perselingkuhan yang menyeret namanya.
Dr. Hijrah Lahalih, S.Hi., M.H, kuasa hukum dari HLP Law Firm, mengadakan konferensi pers untuk memberikan penjelasan terkait hal tersebut, Kamis 17-9-2026.
Dr. Hijrah menegaskan bahwa konferensi pers ini tidak dimaksudkan untuk mengintervensi atau mendahului proses hukum yang sedang berjalan di institusi kepolisian.
Dr. Hijrah meminta publik untuk tidak terburu-buru mengambil kesimpulan dari informasi yang saat ini berbedar.
Dalam kesempatan ini, Dr. Hijrah juga mengomentari pemberitaan yang berkembang di media sosial. Ia menghargai kebebasan dan memahami bahwa media memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat. Namun, ia menegaskan hak jawab dan hak koreksi jika berita yang disampaikan tidak sesuai dengan fakta.
“Kami menyampaikan klarifikasi secara tertulis terkait informasi yang dianggap tidak akurat,” ujarnya.
Beberapa waktu lalu, terdapat kejadian yang kurang mengenakkan yang terjadi kepada Direktur RS Ainun, dr Fitryanto Rajak dan bawahannya Rini Pembengo disebuah rumah di Kota Gorontalo. Dr. Hijrah meluruskan mengenai konteks rumah yang menjadi lokasi peristiwa yang diduga menjadi tempat dugaan perselingkuhan antara direktur dan salah satu bawahannya itu.
Ia menjelaskan bahwa rumah tersebut sebenarnya digunakan sebagai tempat berkumpul atau basecamp bagi tim kerja direktur. Rumah itu bukan hanya tempat tinggal pribadi direktur dan istrinya, tetapi juga sering digunakan untuk pertemuan tim, bahkan ada yang menginap hingga larut malam.
Berdasarkan keterangan dari klien dan pihak-pihak yang berada di lokasi, diketahui bahwa Rini meminta izin untuk menginap karena kelelahan dan jarak rumahnya yang cukup jauh.
Saat itu Dokter Fito mengizinkan Rini untuk tinggal dan beristirahat di dalam rumah tersebut. Setelah mengizinkan Rini tinggal dan beristirahat di kamar rumah tersebut dokter Fito melanjutkan aktivitasnya di rumah tersebut untuk melakukan aktivitas zoom hingga larut malam. Dokter Fito sempat tertidur di kamar yang berbeda karena meminum obat flu, sebab saat itu yang bersangkutan masih dalam keadaan kurang enak badan.
Sekitar jam 1 hingga menjelang jam 2 pagi, tiba-tiba ada ketukan di pintu, dan yang datang adalah suami Rini, bersama pihak kepolisian dan beberapa masyarakat setempat.
Dokter Fito yang kaget mendengar itu langsung terbangun dan membuka pintu.
“Direktur mempersilahkan masuk terhadap pihak kepolisian yang saat itu datang ke rumahnya bersama beberapa warga sekitar,” kata dia.
Diantara beberapa polisi yang tiba di rumah tersebut, salah satu diantaranya ialah suami dari Rini yang merupakan pensiunan polri. Suami Rini ini lantas langsung menghampiri kamar yang jadi tempat istrahat istrinya. Saat terbangun ia Rini kaget melihat suaminya sudah berada di rumah tersebut serta melihat Dokter Fito masih berada di rumah tersebut juga.
Menanggapi pernyataan tersebut, Dokter
Fito, menegaskan bahwa isu yang beredar mengenai hubungan khususnya dengan Rini, adalah tidak benar. Fito menekankan bahwa hubungan mereka semata-mata adalah hubungan profesional, di mana Ibu Rini merupakan staf di rumah sakit dan mitra kerja dalam usaha yang sedang mereka rintis.
Ia mengaku terkejut karena saat itu sudah tertidur akibat pengaruh obat yang diminumnya. Ketika membuka pintu, Fito menemukan sejumlah petugas dari Polres yang mencari Ibu Rini. Dengan sikap kooperatif, Fito mempersilakan para petugas untuk masuk dan melakukan pemeriksaan.
Setelah Ibu Rini keluar dari kamar, aparat meminta izin untuk memeriksa lokasi. Fito memberikan izin dan menjelaskan bahwa Ibu Rini sedang tidur di kamar. Petugas kemudian melakukan pemeriksaan di dalam kamar dan menanyakan di mana Fito tidur. Ia menjelaskan bahwa ia juga tidur di kamar yang berbeda dengan Rini dan petugas meminta untuk memeriksa kamar tersebut.
Selanjutnya, Fito mengklarifikasi mengenai rumah yang menjadi lokasi kejadian. Ia menegaskan bahwa rumah tersebut adalah miliknya dan istrinya, yang digunakan sebagai basecamp untuk berkumpul bersama rekan-rekannya. Ia menekankan bahwa tidak ada aktivitas lain yang dilakukan di sana selain kegiatan bersama tim kerja.
Fito berharap penjelasan ini dapat meluruskan informasi yang beredar di masyarakat dan menegaskan bahwa semua aktivitas yang dilakukan adalah dalam konteks pekerjaan dan tidak ada yang lebih dari itu. (Putra/Gopos)








