GOPOS.ID, GORONTALO – Setelah mengalami inflasi yang cukup tinggi pada Juni 2026 yakni sebesar 2,21 persen, Provinsi Gorontalo kembali mengalami deflasi sebesar 0,43 persen pada Juli 2026. Situasi ini dipicu oleh adanya deflasi atau penurunan harga komoditas yang tergabung dalam kelompok makanan, minuman, dan tembakau.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo, Agus Sudibyo, menjelaskan di bulan Juli 2026 komoditas dalam kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami penurunan harga atau deflasi sebesar 2,13 persen dan memberikan andil deflasi sebesar 0,81 persen.
“Walaupun begitu ada beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga di rentang Juli 2026. Di antaranya komoditas pada kelompok transportasi yang mengalami kenaikan sebesar 2,25 persen dengan andil terhadap inflasi sebesar 0,24 persen,” ungkap Agus Sudibyo saat menyampaikan Berita Resmi Statistik BPS Provinsi Gorontalo edisi Agustus 2026, Senin (3/8/2026).
“Komoditas-komoditas yang mengalami penurunan harga itu lebih banyak dan penimbangnya lebih besar dibanding komoditas yang mengalami kenaikan harga, sehingga secara total kita mengalami deflasi 0,43 persen,” imbuh Agus Sudibyo.
Tiga komoditas utama penyumbang deflasi pada Juli 2026 yakni cabai rawit (0,58 persen), Tomat (0,53 persen), serta Bawang Merah (0,48 persen). “Tiga komoditas ini paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat Gorontalo,” kata Agus Sudibyo.
Di sisi lain, komoditas penyumbang inflasi pada Juli 2026 di antaranya beras (0,20 persen), pelumas/oli mesi (0,14 persen), cumi-cumi (0,09 persen), serta ikan layang/ikan benggol (0,08 persen).
Sementara itu untuk inflasi tahun berjalan atau Juli 2026 terhadap Desember 2026 tercatat sebesar 2,83 persen. Angka ini sedikit menurun dibandingkan situasi sebelumnya pada Juni 2026 yang tercatat sebesar 3,27 persen. “Pada Juli untuk month to month (mtm)-nya kita deflasi, sehingga secara kumulatif untuk ytd pada Juli ini turun. Harapannya di bulan-bulan ke depan, angka inflasinya relatif stabil sehingga di akhir tahun bisa memenuhi target menjaga inflasi di rentang 2,5 persen plus minus 1,” tutur Agus Sudibyo.
Tak jauh berbeda dengan kondisi mtm, inflasi yang terjadi pada ytd Juli 2026 masih dipengaruhi oleh kenaikan harga pada kelompok makanan, minuman dan tembakau yakni sebesar 4,56 persen, transportasi sebesar 4,42 persen, serta penyediaan makanan dan minuman/restoran 2,59 persen.(hasan/gopos)







