GOPOS.ID, GORONTALO – Di antara riuh tawar-menawar di Pasar Kwandang, tampak seorang pemuda berkaus sederhana tersenyum ramah melayani pembeli.
Tangannya cekatan menimbang bawang merah, cabai, dan rempah-rempah lainnya. Tak banyak yang tahu, di balik lapak bertuliskan “Sinar Mentari” itu, tersimpan kisah tentang tekad, perjuangan, dan mimpi besar seorang anak bangsa bernama Moh. Ramdhan Imran.
Ramdhan bukan pedagang biasa. Ia seorang lulusan Universitas Ichsan Gorontalo, jurusan Hukum, yang tengah berjuang menuntaskan studi S2-nya.
Namun, keterbatasan ekonomi membuat langkahnya sempat terhenti. “Saya sempat berpikir, mungkin mimpi kuliah lagi terlalu tinggi untuk anak kampung seperti saya,” ujarnya pelan.
Tapi hidup mengajarkan satu hal bahwa kegigihan bisa mengalahkan keadaan. Pada 2019, Ramdhan sempat menjadi guru di salah satu SMA di Gorontalo Utara. Namun, penghasilannya tak cukup untuk melanjutkan studi.
Ia lalu memutuskan merantau ke Morowali, Sulawesi Tengah, berharap nasib lebih baik di kawasan pertambangan. Tapi realita berkata lain hidup di wilayah tambang keras dan penuh risiko.
Cuaca ekstrem, biaya tinggi, hingga ketidakpastian membuatnya berpindah ke Bitung, Manado, hingga Kotamobagu. Alih-alih menyerah, ia justru membawa pulang pengalaman dan tabungan kecil hasil kerja kerasnya.
Dengan modal itulah ia membangun usaha jual rempah-rempah di Pasar Kwandang. “Saya mulai dari satu jenis barang saja bawang merah. Lama-lama, jualan bertambah, pelanggan makin banyak,” kenangnya sambil tersenyum.
Kini, lapak sederhana itu bukan hanya sumber penghasilan, tapi juga simbol harapan. Dari situ, Ramdhan membiayai kuliah S2-nya yang sempat tertunda di Pascasarjana Universitas Ichsan Gorontalo.
“Banyak yang nyindir, katanya ‘sarjana kok cuma jualan di pasar’. Tapi saya tidak malu. Saya bangga karena rezeki ini halal. Justru dari pasar inilah saya bisa mewujudkan cita-cita saya,” ucapnya tegas.
Bagi Ramdhan, berdagang bukan sekadar mencari uang. Ia belajar tentang ketekunan, tanggung jawab, dan makna perjuangan.
“Saya ingin membuktikan bahwa pendidikan dan kerja keras bisa berjalan bersama. Kita bisa mulai dari mana saja asal tidak berhenti berusaha,” katanya.
Kini, ia tengah bersiap melanjutkan studi yang sempat terhenti di semester tiga. Cita-citanya sederhana: ingin mengabdi lebih besar untuk masyarakat Gorontalo.
“Kalau nanti lulus, saya ingin membuka pelatihan wirausaha bagi anak muda di kampung. Supaya mereka tahu, sukses itu tidak harus selalu berangkat dari kota besar,” tuturnya penuh semangat.
Kisah Ramdhan adalah pengingat bahwa mimpi besar tak selalu lahir dari gedung megah atau jalan mulus, tetapi dari peluh, keberanian, dan doa yang tak putus di tengah hiruk-pikuk pasar.
Ia membuktikan bahwa gelar sarjana bukan akhir perjuangan, melainkan awal perjalanan untuk memberi makna bagi orang lain. (*)








