Lampu-lampu panggung meredup sesaat sebelum sorot putih mengikuti langkah seorang model yang memasuki runway Indonesia Fashion Week (IFW) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Rabu (29/7/2026). Dalam setiap ayunan langkahnya, sehelai kain Karawo bergerak anggun. Sulaman halus di permukaannya memantulkan cahaya, menghadirkan keindahan yang seketika mencuri perhatian para penonton.
Tatapan mata mengiringi setiap koleksi yang melintas. Namun, yang sesungguhnya sedang dipamerkan bukan hanya sebuah busana. Di balik setiap motif Karawo tersimpan proses panjang yang jarang diketahui publik. Ribuan tusuk benang yang dikerjakan dengan telaten, keterampilan yang diwariskan lintas generasi, dan kesabaran para penyulam yang bekerja dalam sunyi.
Setiap lembar Karawo lahir melalui tahapan yang tidak sederhana. Serat kain diiris dan dicabut satu per satu hingga membentuk ruang-ruang kosong, kemudian diisi kembali dengan sulaman bermotif khas. Semua dikerjakan dengan tangan, menjadikan setiap helai kain memiliki karakter yang tak pernah benar-benar sama.
Karena itu, ketika Karawo melenggang di atas panggung IFW, yang ikut hadir bukan hanya karya fesyen. Ada perjalanan panjang para perajin, denyut usaha kecil yang terus bertahan, dan harapan agar wastra khas Gorontalo tidak hanya lestari sebagai warisan budaya, tetapi juga mampu membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Harapan tersebut hidup melalui empat UMKM binaan Bank Indonesia (BI) Provinsi Gorontalo: House of Abhiee, Tethuna, TIAR Handycraft, dan D’Korsase. Masing-masing menempuh jalan yang berbeda, tetapi memiliki keyakinan yang sama: Karawo harus terus berkembang agar tetap relevan di tengah perubahan zaman.
House of Abhiee menjadi salah satu yang lebih dahulu membuktikan keyakinan itu. Sejak dirintis Abidin Ishak pada 2012, jenama ini berupaya membawa Karawo keluar dari kesan eksklusif sebagai busana adat atau pakaian formal. Melalui sentuhan desain yang modern, sulaman khas Gorontalo hadir dalam bentuk tunik, kemeja, jaket, setelan jas, hingga gaun malam tanpa kehilangan identitasnya.
Perjalanan House of Abhiee juga menghadirkan ruang bagi para penyulam untuk terus berkarya. Sekitar 50 perempuan, sebagian besar ibu rumah tangga, terlibat dalam proses produksinya. Dari tangan merekalah setiap detail sulaman diselesaikan, sekaligus menjadi sumber tambahan penghasilan bagi keluarga.
Jika House of Abhiee membuka jalan melalui rancangan busana modern, Mohammad Ramdhan Mopangga memilih memperluas pengakuan Karawo lewat karya-karya Tethuna. Didirikan pada 2014, Tethuna memadukan karakter Karawo dengan desain yang mengikuti minat anak-anak muda. Motif-motif karawo dibuat lebih modern bernuansa geometris. Karya-karyanya perlahan mendapat tempat di industri mode. Sejumlah penyanyi nasional mengenakan rancangannya di berbagai pertunjukan yang kemudian didokumentasikan lalu diperkenalkan melalui media sosial.
Perjalanan itu mencapai salah satu titik penting ketika Ramdhan meraih Juara I Indonesia Young Fashion Designer Competition 2023 melalui koleksi bernuansa Karawo. Bahkan sebelumnya, ia telah membawa karya Gorontalo tampil dalam peragaan busana di Ankara, Turki—membuktikan bahwa sulaman khas daerah mampu berdialog dengan panggung internasional.
Berbeda dengan dua jenama tersebut, langkah TIAR Handycraft justru bermula dari persoalan lingkungan. Di tepian Danau Limboto, Isnawati Mohamad melihat eceng gondok yang selama ini dianggap gulma. Alih-alih memandangnya sebagai masalah, ia melihat peluang. Pada 2019, tanaman itu mulai diolah menjadi produk kerajinan bernilai ekonomi melalui TIAR Handycraft.
Pandemi Covid-19 kemudian mengubah arah usahanya. Isnawati berinovasi dengan memadukan ecoprint berbahan pewarna alami dan sulaman Karawo. Sejak 2021, perpaduan keduanya melahirkan identitas baru: koleksi yang bukan hanya membawa kekayaan budaya Gorontalo, tetapi juga menyuarakan semangat keberlanjutan.
Sementara itu, Ulfa Ali menghadirkan pendekatan yang tak kalah berbeda. Melalui D’Korsase, ia membawa Karawo keluar dari dunia busana menuju produk kriya yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Sulaman khas Gorontalo hadir pada tas, dompet, hingga berbagai aksesori. Langkah itu membuka pasar baru sekaligus memperlihatkan bahwa Karawo tidak harus selalu tampil di atas selembar pakaian untuk tetap memiliki nilai. Karya D’Korsase bahkan pernah melengkapi koleksi pada panggung Sustainable Muslim Fashion ISEF 2021 sebagai bagian dari narasi fesyen berkelanjutan.
Empat jenama tersebut memang lahir dari gagasan yang berbeda. Ada yang memulai dari dunia desain, ada yang berangkat dari kepedulian terhadap lingkungan, ada pula yang mengembangkan Karawo melalui produk kriya. Namun semuanya dipersatukan oleh tujuan yang sama: memastikan Karawo terus hidup dengan cara yang dekat dengan kehidupan masyarakat masa kini.
Perjalanan itu mendapat penguatan melalui pembinaan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo bersama Pemerintah Provinsi Gorontalo dan Dekranasda Provinsi Gorontalo. Penguatan kapasitas usaha, inovasi produk, hingga perluasan akses pasar menjadi bagian dari ikhtiar agar UMKM lokal mampu tumbuh dan bersaing di pasar yang lebih luas.
Indonesia Fashion Week 2026 kemudian menjadi ruang tempat seluruh proses itu bertemu dengan publik. Yang tampil di atas runway bukan semata koleksi busana, melainkan hasil kerja panjang para penyulam, kreativitas para pelaku UMKM, dan kolaborasi yang memberi kesempatan bagi Karawo untuk terus berkembang.
Ketika lampu panggung akhirnya padam dan para model meninggalkan runway, pertunjukan memang usai. Namun perjalanan Karawo belum berhenti. Ia akan kembali ke rumah-rumah para penyulam di Gorontalo, ke ruang kerja para perajin, dan ke tangan para pelaku UMKM yang terus mencari cara agar tradisi tetap hidup di tengah perubahan zaman. Sebab, setiap helai Karawo yang melintas di atas panggung bukan sekadar karya fesyen. Ia adalah cerita tentang tangan-tangan yang bekerja dengan sabar, keluarga yang menggantungkan harapan, dan keyakinan bahwa warisan budaya akan selalu menemukan masa depannya ketika dirawat bersama.(*/hasan/gopos)








