Oleh: Hasanudin Djadin
Gorontalo mencatat kabar besar tahun ini. Produksi beras melimpah, melampaui kebutuhan daerah, dan menyisakan surplus lebih dari 45 ribu ton. Namun, di pasar-pasar harga beras masih bikin gundah.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo mencatat, luas panen padi di Gorontalo sepanjang tahun ini mencapai 54,15 hektar. Naik 15,32 persen atau bertambah 7,19 ribu hektar dibandingkan luas panen pada 2024.
Kenaikan luas panen membuat produksi gabah kering giling (GKG) melonjak hingga hampir 20 persen. Produksi GKG sepanjang 2025 diperkirakan bertambah 46,58 ribu ton sehingga jumlah keseluruhan menjadi 281,45 ribu ton. “Produksi gabah kering giling pada 2025 mengalami kenaikan 19,83 persen dibandingkan produksi padi GKG di 2024 yang sebanyak 234,86 ribu ton,” ujar Plt. Kepala BPS Provinsi Gorontalo, Dwi Alwi Astuti.
Produksi beras juga mengikuti pola yang sama. Total produksi beras untuk konsumsi penduduk diperkirakan sebanyak 157,15 ribu ton beras, naik 19,83 persen dari tahun sebelumnya. Dari jumlah itu, kebutuhan konsumsi masyarakat Gorontalo yang sebesar 111,93 ribu ton sudah tertutupi sekaligus meninggalkan cadangan cukup besar, lebih dari 45 ribu ton. Cadangan tersebut seharusnya menjadi bantalan harga dan pasokan.
Meski begitu, surplus ini menyimpan cerita lain. Perubahan pola panen padi menjadi catatan penting. Puncak panen 2025 datang lebih awal, pada Maret dengan luasan 8,25 hektar. Dibanding 2024, puncak panen terjadi pada September dengan luasan 11,49 ribu hektar. Ritme panen sawah yang berganti perlahan memberi tanda bahwa iklim, tak lagi sepenuhnya bisa diprediksi.
Seirama pola panen, produksi beras Gorontalo tidak merata setiap bulan. Puncak tertinggi produksi beras terjadi pada Agustus 2025 dengan capaian 25,96 ribu ton. Sementara pada Desember diperkirakan hanya 4,31 ribu ton, menjadi titik terendah sepanjang 2025. Denyut produksi naik turun yang cukup jomplang inilah membuka celah terjadinya fluktuasi harga di tingkat pedagang.
Produksi di tingkat wilayah juga masih timpang. Kabupaten Gorontalo menjadi lumbung terbesar dengan 135,78 ribu ton GKG sepanjang 2025. Lalu disusul Boalemo sebanyak 44,82 ribu ton, dan Pohuwato sebanyak 33,12 ribu ton. Sementara Kota Gorontalo hanya menyumbang 8,22 ribu ton, menjadi sangat bergantung suplai dari daerah/kabupaten lain untuk pemenuhan kuota konsumsi.
Di meja makan warga, beras tetap menjadi komoditas yang tak tergantikan. Konsumsi per kapita mencapai 7,51 kilogram per bulan, lebih tinggi daripada rata-rata nasional sebesar 6,5 kilogram per bulan. Dengan penduduk yang kini menyentuh 1,24 juta jiwa, kebutuhan beras tahunan di Gorontalo mencapai lebih dari 111 ribu ton.
Tidak berhenti di atas meja makan. Beras menjadi faktor utama penentu garis kemiskinan. Data BPS Provinsi Gorontalo pada Maret 2025, beras memberikan sumbangan 31,44 persen terhadap garis kemiskinan di wilayah perkotaan (urban), dan 29,01 persen untuk wilayah perdesaan. Warga di wilayah perkotaan harus memilih jenis beras sesuai isi dompet. Setiap kenaikan harga, akan sangat terasa di kantong keluarga berpenghasilan rendah
Di sejumlah pasar tradisional, pada pertengahan November 2025, harga beras medium masih bertahan di kisaran Rp12.000–Rp14.000 per kilogram. Untuk jenis premium, angka itu melonjak hingga Rp16.000, bahkan menembus Rp20 ribu per kilogram di ritel modern. Harga-harga itu tetap membuat sebagian ibu rumah tangga mengencangkan pengeluaran.
Surplus besar memang menjadi kabar baik, tetapi ia tidak otomatis meredam keresahan soal harga. Distribusi, biaya pascapanen, dan tata niaga masih menjadi simpul-simpul yang belum sepenuhnya rapi. Riset kolaboratif Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Gorontalo bersama Bank Indonesia (BI) pada 2023 menemukan kenyataan itu.
Dari sawah petani, gabah mesti singgah di banyak tangan: penggilingan, kolektor (pengepul), pedagang grosir, hingga pengecer. Setiap perantara ini menambahkan margin keuntungan untuk menutupi biaya operasional dan mengambil laba, yang pada akhirnya dibebankan kepada konsumen akhir. Disparitas harga menjadi sangat signifikan. Selisih harga dari tingkat petani hingga ke konsumen bisa mencapai dua hingga tiga kali lipat.
Tidak berhenti di situ. Ulah spekulan yang bermain mata dengan pasar makin bikin keruh persoalan. Para pemburu rente itu memilih menahan barang, menciptakan kelangkaan semu. Sasaran mereka jelas: memancing harga naik setinggi-tingginya.
Akal-akalan lainnya: beras Gorontalo dialihkan ke pasar lain di luar daerah. Di sana, mereka mendapat untung lebih besar. Imbasnya, konsumen di Gorontalo terpaksa membayar harga beras jauh lebih mahal.
Gorontalo memang bertabur padi tahun ini. Namun, perjalanan memastikan hasil itu sampai ke dapur warga dengan harga terjangkau masih panjang. Fokus kebijakan pemerintah tidak bisa hanya pada peningkatan produksi atau ketersediaan stok semata, melainkan juga harus menyasar pemotongan mata rantai distribusi dan penataan ulang tata niaga agar harga di pasar menjadi lebih stabil dan wajar. Semoga, salam…(***)
Penulis adalah penanggung jawab media online gopos.id








