GOPOS.ID, GORONTALO — Desa Torosiaje, permukiman nelayan yang unik berdiri di atas perairan Teluk Tomini, kini menjadi titik fokus aksi lingkungan strategis mahasiswa. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Negeri Gorontalo (UNG) meluncurkan program kolaboratif “Echoes of Tomini” bersama Universitas Negeri Gorontalo dan Pemerintah Kabupaten Pohuwato untuk merespons krisis pesisir melalui sinergi pendidikan, perikanan, budaya, dan pariwisata berkelanjutan, kegiatan ini dilaksanakan 20-21 Desember 2025.
Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UNG, Wakil Bupati Pohuwato, Kepala Biro Akademik, Kemahasiswaan, dan Perencanaan serta Semua Kepala Dinas terkait dilingkungan Pemda Pohuwato sebagai wujud komitmen terhadap pengembangan kawasan teluk tomini khususnya potensi lokal Torosiaje.
Mengusung tema “Revitalizing Coastal Ecosystems through Education, Culture, and Tourism”, inisiatif ini menggabungkan konservasi ekosistem pesisir dengan pemberdayaan masyarakat, menempatkan mahasiswa sebagai motor penggerak perubahan di tengah tekanan ekologis yang terus meningkat.
Krisis pesisir seperti degradasi mangrove, rusaknya padang lamun, dan limbah polusi bukan hanya mengancam lingkungan, tetapi juga ketahanan ekonomi masyarakat pesisir. Data penelitian menunjukkan bahwa ekosistem blue carbon—termasuk mangrove dan seagrass—menyimpan karbon jauh lebih efektif dibandingkan hutan darat, namun terancam oleh perubahan penggunaan lahan dan praktik tidak berkelanjutan yang menyebabkan kehilangan luas wilayah pesisir setiap tahunnya.
Kebijakan pembangunan berkelanjutan seperti yang dirumuskan dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) menekankan pentingnya menjaga ekosistem laut dan pesisir (SDG 14) serta aksi iklim (SDG 13).
Program Echoes of Tomini diposisikan sebagai implementasi nilai-nilai SDGs di tingkat lokal — mendorong konservasi pesisir sekaligus menciptakan peluang ekonomi yang berkelanjutan. Pendekatan ini sejalan dengan kebijakan nasional yang kini menguatkan standar blue carbon sebagai alat mitigasi perubahan iklim dan mekanisme strategi ekonomi biru (blue economy).
Blue carbon, istilah untuk karbon yang tersimpan di ekosistem pesisir seperti mangrove dan padang lamun, kini menjadi fokus kebijakan Indonesia. Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan memperkuat pedoman pengukuran karbon biru di padang lamun sebagai referensi nasional guna mendukung konservasi dan potensi perdagangan karbon. Upaya ini diharapkan meningkatkan akurasi data stok karbon sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam mekanisme perdagangan karbon global.
Presiden BEM UNG, Surya Reksa Umar, menyatakan bahwa Echoes of Tomini merupakan jawaban nyata atas kebutuhan strategi lingkungan yang berpadu dengan pembangunan ekonomi lokal.
“Program ini bukan sekadar aktivitas kampus — ini adalah aksi nyata mahasiswa yang memahami bahwa keberlanjutan ekosistem tidak dapat dipisahkan dari kesejahteraan masyarakat pesisir,” tegas Surya.
Program ini mendapat dukungan kuat dari Universitas Negeri Gorontalo. Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Prof. Dr. Mohamad Amir Arham, M.E., menilai bahwa keterlibatan mahasiswa dalam revitalisasi pesisir jelas selaras dengan mandat universitas untuk menjadikan pendidikan tinggi sebagai pilar perubahan sosial.
“Melalui kombinasi riset, advokasi, dan pengabdian masyarakat, Echoes of Tomini diharapkan menjadi model kolaborasi multipihak dalam pengelolaan pesisir yang scientifically informed dan people-centered,” ujar Amir.
Jika keberlanjutan kebijakan blue carbon nasional dan target SDGs diterjemahkan ke program lokal seperti Echoes of Tomini, maka UNG adalah contoh bagaimana mewujudkan pemuda, pemerintah, dan komunitas lokal bersama-sama menanggulangi ancaman ekosistem pesisir sekaligus membuka ruang ekonomi baru yang lestari dan berkelanjutan dalam pengembangan kawasan.








